Lubuk Torok dan Air Terjun Teko

Suasana Bukit Barisan di waktu pagi

Kebun Karet Masyarakat di Punggung Bukit Barisan

Hasil Deresan Pohon Karet

Sungai Mudik di Desa Siabu, Kabupaten Kampar

Camping Ground yang Terletak di Pinggir Sungai Mudik

Sungai Mudik di Desa Siabu, Kabupaten Kampar

Aliran Sungai Mudik di Desa Siabu, Kabupaten Kampar

Menyusuri Sungai Mudik Menuju Air Terjun Teko

Menikmati Air Terjun Teko yang berada di Lubuk Torok Desa Siabu, Kabupaten Kampar

Aliran Sungai Mudik di Desa Siabu, Kabupaten Kampar

Bayu Amde Winata

 

Hujan dari maghrib hingga tengah malam membuat sungai yang terletak dua meter di bawah rombongan kami memasang tenda meluap. Batu batu besar yang sebelumnya tampak berdiri dengan kokoh, sekarang tertutup oleh derasnya air yang datang dari hulu. Malas rasanya untuk keluar dari tenda. Perjalanan panjang berjalan kaki menyusuri kebun karet masyarakat dan punggungan bukit selama dua jam membuat betis sedikit panas pagi itu.

Namun, obrolan di depan tenda yang ditemani segelas kopi panas, mengenai air terjun lebih menggoda daripada memikirkan hujan yang kembali turun membasahi camping ground. Mike, salah seorang panitia dari rombongan perjalanan kali ini menyebut nama air terjun yang akan kami datang, air terjun ini bernama Air Terjun Teko. Kurang lebih dua jam kami akan kembali berjalan kaki, menyusuri perbukitan ke arah dalam Pegunungan Bukit Barisan.

Suasana Bukit Barisan di waktu pagi

Suasana Bukit Barisan di waktu pagi

Camping ground kami adalah sebuah tempat yang bernama Lubuk Torok. Lubuk Torok merupakan sebuah lubuk yang terletak di Sungai Mudik, Desa Siabu. Untuk menuju Lubuk Torok, dari Pekanbaru dibutuhkan perjalanan dua jam menggunakan kendaraan bermotor ke arah kantor Bupati Kampar, setelah melewati Tugu Batu Belah dan pintu gerbang dari batu yang bertuliskan “ Selamat Datang di Desa Siabu.” Setengah jam dari pintu gerbang belok kanan dari pertigaan pertama, tibalah saya di Desa Siabu, desa terakhir menuju Lubuk Torok.

Dari Siabu, saya harus berjalan kaki selama dua jam. Menyeberangi sungai jernih yang berbatu, menyusuri jalan kebun masyarakat serta punggungan bukit bertekstur tanah liat berbatu merupakan suguhan menu perjalanan kali ini. Sebuah pondok kayu dua lantai sudah berdiri menunggu meyambut kedatangan kami pada saat rombongan menyeberangi sungai. Pondok yang dibuat oleh Pakde Yanto merupakan pertanda bahwa kami telah tiba di Lubuk Torok.

Lubuk Torok merupakan tempat yang ideal untuk berkemah, bukit tempat dimana pondok Pakde Yanto berdiri mampu menampung sepuluh tenda. Sedangkan gubuk itu sendiri bisa menampung kurang lebih dua puluh orang pada bagian atas dan bawahnya. Mata akan dimanjakan oleh hijaunya tutupan tanaman pada bukit yang mengapit di kiri kanan lubuk. Jangan pusing dengan ketersediaan air bersih yang ada, Sungai Mudik yang mengalir di bawah camping ground merupakan sumber air ideal untuk masak dan mandi. Memasak air untuk membuat segelas kopi adalah pilihan terbaik.

Namun, Lubuk Torok bukanlah akhir dari perjalanan. Kami akan menuju air terjun yang berada di hilir dari Lubuk Torok. Air terjun ini bernama Air Terjun Teko, bagi sebagian orang yang pernah sampai ke air terjun, air terjun ini mendapat julukan air terjun helikopter. Julukan ini berasal dari suara gemuruh air terjun yang mirip dengan dengung suara kipas helikopter.

Menyusuri Sungai Mudik Menuju Air Terjun Teko

Menyusuri Sungai Mudik Menuju Air Terjun Teko

Perjalanan menuju Air Terjun Teko dapat dikatakan sebagai perjalanan penuh aksi. Jika menuju Lubuk Torok, saya akan melewati perbukitan yang landai. Maka perjalanan menuju ke air terjun, saya harus melewati perbukitan yang terjal. Perjalanan dimulai dengan menyusuri anak sungai di sebelah kiri dari bukit. Batu batu licin yang dilapisi lumut tebal menjadi pijakan kaki dalam perjalanan ini. Bukit terjal sudah menanti diujung dari sungai yang saya susuri. Akar-akar dari tanaman hutan yang tumbuh pada lereng bukit menjadi pijakan kokoh dalam perjalanan menuju air terjun. Drama dari perjalanan ini ditambah oleh meningkatnya debit air sungai karena hujan deras yang berlangsung kemarin. “Biasanya tidak sebetis bang, dua bulan yang lalu masih semata kaki” ujar Mike saat saya harus menyeberang sungai untuk berpindah ke bukit selanjutnya. Kontur sungai yang kami seberangi ada yang sedalam betis dan ada yang menyentuh dagu saya.

Dari bukit kedua, perjalanan menuju air terjun dihabiskan dengan menyusuri tepian sungai. Karena debit air yang meningkat, terdapat terjunan pada Sungai Mudik yang kami lewati. Saya menghitung ada tujuh terjunan yang kami seberangi dalam perjalanan ini. Bukit hijau yang mengapit sungai, sungai jernih, dan terjunan, mengingatkan saya akan Cukang Taneuh atau yang dikenal dengan nama Green Canyon yang terletak di Pangandaran, Jawa Barat, Green Canyon dikenal sebagai tempat bermain body rafting. Jika Sungai Mudik yang membelah kawasan Bukit Barisan ini diekplorasi lebih jauh, bukan tidak mungkin body rafting bisa dikenalkan pada kawasan ini.

Setelah melewati terjunan terakhir dengan menggunakan tali, tibalah rombongan kami pada lubuk dimana Air Terjun Teko berada. Untuk menuju air terjun, terlebih dahulu saya harus berenang menyusuri tebing dari lubuk air terjun berada. Terdapat dua pintu pada Air Terjun Teko ini. Suara gemuruh dari air terjun menjadi jeda dalam obrolan rombongan kami ditepian lubuk. Dua jam perjalanan berjalan kaki menyusuri bukit barisan terobati saat saya berendam di tepi lubuk. Pegunungan Bukit Barisan yang ada di Provinsi Riau masih memiliki banyak tempat tersembunyi yang menarik. Lubuk Torok dan Air Terjun Teko salah satunya.

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.