Oh, Indahnya Pantai Drini – Gunung Kidul

Handoko Widagdo – Solo

 

Air mengalir hanya dekat…akhirnya ke Drini… Demikianlah penggalan Lagu Bengawan Solo ciptaan Pak Gesang, jika lagu tersebut dicipta 4 juta tahun yang lalu. Konon Bengawan Solo dulunya bermuara di Laut Selatan. Tepatnya di Pantai Sadeng dan Drini yang sekarang terletak di Kabupaten Gunung Kidul. Karena desakan lempeng Australia, maka wilayah pantai selatan Jawa menjadi terangkat. Karang-karang yang dulu terkubur di laut kini menjadi bukit kapur. Akibatnya aliran Bengawan solo beralih ke arah utara. Mengalir nun jauh sampai Gresik. Namun muara Sungai Bengawan Solo Purba tetap tertinggal di tepi laut dan menjelma menjadi gugusan pantai yang indah. Pantai itu adalah Sadeng dan Drini.

Memanfaatkan sisa hari Pilpres, saya bersama keluarga berkunjung ke Pantai Drini. Saya dan istri sengaja menuju TPS sepagi mungkin. Saat kami berdua nyontreng, anak-anak kami minta untuk mempersiapkan semua perangkat untuk berlibur di pantai. Pakaian ganti, tikar, alat-alat untuk bermain pasir, snack dan nasi serta lauk-pauk. Kami harus menyiapkan bahan makanan, karena di Pantai Drini tidak ada warung makan yang memadai. Segera setelah melaksanakan hak memilih Kepala Negara dan Wakilnya, kami berangkat menuju ke Pantai Selatan Jawa. Pagi baru menunjukkan pukul 8.30 ketika kami meninggalkan rumah. ‘Lebih Cepat Lebih Baik’.

pantai drini (1)

Pantai Drini adalah salah satu pantai yang berada di selatan Pulau Jawa. Tepatnya berada di Kabupaten Gunung Kidul. Memang Drini tidak sepopuler Baron atau Kukup. Tak juga seterkenal Parangtritis dan Samas. Namun keindahan pantai ini tak kalah dari keempat pantai yang sudah lebih dulu menjadi tujuan wisata tersebut. Pantai ini juga bukan Sadeng yang sudah menjadi pusat nelayan. Namun keduanya berhubungan dengan Bengawan Solo Purba. Bekas muara.

pantai drini (2)

Dari arah Kota Solo kami menuju selatan, menyusuri jalanan berliku dan bukit-bukit batu kapur yang hijau ditumbuhi akasia dan jati. Diselingi kampung-kampung yang sepi dan hamparan tanaman jagung, kami saksikan gua-gua kecil yang menganga ditonjolan-tonjolan bukit kapur. Setelah menyusuri keindahan bukit kapur selama 2 jam, jalan mulai datar menuju ke arah timur. Kami segera membelok ke kanan pada pertigaan dengan petunjuk arah yang memberi tahu lokasi Pantai Drini.

Lihatlah pantainya yang landai dengan ombak yang tidak galak. Tak ada gemuruh air yang marah. Yang ada adalah sapuan lembut air yang menggerayangi pasir putih, menemani nelayan yang melempar pancing menunggu senja sebelum melaut. Nelayan yang hanya bermain untuk membunuh sepi. Tak banyak ikan yang didapatnya. Namun ia begitu menikmati gerayang air laut yang bermain diantara kedua kakinya. Beberapa kali dilemparnya kail yang telah dipasangi umpan. Ketika ditarik, hanya ikan kecil saja yang tertangkap.

pantai drini (8)

Ketika air surut, yang tertinggal adalah hamparan karang yang lembut. Karang yang dihuni oleh berbagai hidupan laut. Lihatlah ganggang-ganggang yang menyelimuti karang. Lihatlah bulu babi yang sembunyi di ceruk. Lihatlah bintang laut yang sedang melamun. Atau karang yang mencoba tumbuh diantara ombak yang selalu mengganggunya. Belum lagi binatang berkulit keras yang mencengkeram erat cekungan kecil setiap batu karang. Mereka terlihat bahagia. Mereka menikmati karunia Allah melalui alam nan indah. Mereka membagi sukacitanya dengan kami para pengunjung pantai.

pantai drini (9)

Bahkan cekungan-cekungan di hamparan karang tersebut menjadi tempat bermain bagi anakku. Batu yang dipenuhi ganggang menjadi bantal nan empuk untuk menyandarkan kepalanya.

pantai drini (10)

Naik sedikit keatas, pasir lembut mempersilahkan kami untuk melepas penat. Sambil menikmati pijatan dari riak-riak kecil yang terasa sejuk.

pantai drini (11)

Pantai Drini memang indah. Selain memanjakan kami dengan pasir dan ombak, serta karang landai yang dihuni oleh berbagai hidupan laut, karang-karang terjal menjulang bagai penjaga. Kontras antara langit dan air yang bertemu menantangku untuk mengabadikannya melalui celahnya.

pantai drini (12) pantai drini (13)

Alam memang baik. Ketika pulang, kami masih diberi bonus. Saat mendekati rumah, senja telah menjelang. Mentari menyampaikan salam perpisahan. Dilambaikannya jari-jarinya diantara pohon randu yang tenang. Pelahan dia sembunyi dibalik Merbabu nan biru. Selamat malam sahabat alam.

 

Handoko Widagdo – Solo

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.