Cintaku Klepek-klepek

Pingkan Djayasupena – Belanda

 

Belum lama ini kita dihebohkan oleh berita seorang perempuan bernama Rara yang mengaku punyai hubungan dengan anaknya Deddy Mizwar yaitu Lettu Inf Zulfikar Rakita Dewa. Rara akan menuntut Zulfikar dan melaporkannya ke polisi karena dirinya hamil. Yang bikin aku kaget ternyata Rara adalah perempuan dewasa berumur 40 tahun dan Zulfikar ternyata seorang berondong garing berumur 26 tahun. Sebagai perempuan sebenernya aku paling sebel baca berita seperti itu selalu merasa perempuan yang menjadi korban laki-laki yang nggak bertanggung jawab.

one-night-stand

Apalagi kalau perempuan yang merasa jadi korban adalah perempuan dewasa yang berpengalaman seperti Rara harusnya tahu dong kalau melakukan hubungan intim itu bakal hamil kan? Aku masih bisa memaklumi seandainya yang melaporkan itu anak perempuan remaja bukan dewasa. Karena kalau perempuan remaja pastinya bingung dan takut sama orangtuanya, pantes aja deh kalau sampe heboh karena dalam keadaan panik masih remaja dan bingung menghadapi orangtuanya dan perutnya. Walau si anak remaja tetap saja salah karena berani melakukan hubungan intim yang seharusnya dilakukan orang dewasa dan tidak bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Sebagai perempuan dewasa yang sudah pernah menikah Rara harusnya bisa lebih menjaga dirinya terlepas mau berhubungan intim dengan berondong ataupun laki-laki dewasa harusnya bisa menjaga tubuhnya jangan sampai hamil, harus mikir juga dong kalau akibat hubungan sebelum menikah. Apalagi di Indonesia harus bisa menjaga diri jangan sampai hamil sekalipun dengan orang yang kita cintai. Jangan malah mentang-mentang sudah melakukan hubungan intim langsung klepek-klepek sama laki-laki itu sampai membiarkan dirinya hamil.

Siap berhubungan seks harus juga siap akibatnya kalau sampai nggak minum pil anti hamil atau memakai kondom dan ketika terjadi keteledoran lalu mengakibatkan hamil baru deh heboh sampe sejagat raya tahu memalukan kan? Yang tadinya pengen cari simpati orang malah dapet cemoohan bikin malu diri sendiri juga keluarga. Apalagi kalau sampai laki-laki itu nggak mau bertanggung jawab akibat dari hubungan itu terus kita dengan seenaknya melaporkan bahwa kita ini adalah korban dari laki-laki itu.

Padahal waktu melakukan keduanya penuh gombal dan cinta kan? Apalagi ketika melakukannya dengan anak jauh di bawah umur harus logika yang bicara dulu bukan malah jadi GR. Walau cinta tidak mengenal umur tapi kita juga harus tahu dong seberapa jauh hubungan kita dengannya saat melakukam hubungan intim. Apa ketika melakukannya cuma cinta sesaat selama liburan aja atau akan berlanjut lagi setelah liburan dan ternyata keduanya memang saling jatuh cinta? Yaaa, biarpun akhirnya sama-sama jatuh cinta kita sebagai perempuan tetap harus bisa menjaganya jangan sampai hamil.

Kebiasaan perempuan Indonesia pada umumnya yang belum bisa berubah sampai saat ini suka mengikat laki-laki dengan anak. Selalu mikir pendek, bahwa kalau dirinya hamil punya anak pasti dengan mudah laki-laki itu mau menikahinya, begitu gampang banget pikirannya kalau hamil udah pasti bakal dapetin laki-laki itu, nyatanya malah heboh dulu, tarik urat dulu sampe melibatkan keluarga dua belah pihak. Padahal contoh sudah banyak kalau laki-laki yang kita cintai nggak mau bertanggung jawab, setelah tahu perempuan itu hamil. Kalaupun akhirnya melaporkan dan memaksa laki-laki itu untuk bertanggung jawab menikahi perempuan itu apa yakin bahwa rumah tangganya akan bahagia? Tentu nggak akan bahagia karena laki-laki itu juga sama merasa dirinya jadi korban dari perempuan yang hamil itu, kan? Kasihan anak yang dilahirkan ke dunia jadi korban dari keegoisan kita kan?

Sebaiknya sebagai perempuan remaja atau dewasa kalau memang sudah siap melakukan hubungan intim dengan laki-laki harus juga bisa menjaga diri kita jangan sampai hamil. Jangan selalu mengaku dan merasa dirinya jadi korban hanya karena perut kita bisa gendut menghasilkan buah cinta saat melakukan hubungan intim. Inget laki-laki itupun jadi korban kalau kita memaksanya untuk bertanggung jawab dan melaporkannya ke polisi dan menuntutnya sampai melakukan proses yang bikin malu kedua belah pihak, karena biar bagaimana cara itu bukan cara yang menguntungkan kedua belah pihak.

Kalau kita ketemu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab setelah tahu perempuan itu hamil pasti dia dengan jantan bilang ingin bertanggung jawab setelah mendengar kehamilan si perempuan tanpa harus bikin heboh. Kalau ketemu laki-laki nggak bertanggung jawab setelah tahu diri kita hamil nggak perlu bikin heboh melaporkannya, belajar juga bertanggung jawab dengan perbuatan kita itu dan segera ambil keputusan sebelum kandungannya besar mau digugurkan atau tetap akan melahirkan anak itu?

“Mangkanya kalau sedang jatuh cinta jangan suka gelap-gelapan, nenek bilang itu bahaya, berbahaya”

 

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.