Bijak Lawan Galau

Anwari Doel Arnowo

 

Suasana kita sedang karut marut, galau, kusut, keruh, buncah, cemas, pakau hanyalah sebagian saja dari kata-kata yang menggambarkan ke-tidak-stabilan keadaan tertentu atau keadaan pada umumnya. Negeri kita NKRI sejak muncul kembalinya berita masalah lama yang terkenal dengan rekening gendut perwira petinggi Jenderal POLRI, seluruh lapisan masyarakat secara merata menjumpai, mengalami suasana seperti yang tergambar oleh beberapa kata di atas.

Tunggu dulu laah, benarkah seluruh lapisan masyarakat? Mungkin tidak benar. Yang rentan dengan kegalauan hati itu bukan seluruhnya, tetapi hanya mereka yang mengikuti berita dan pemberitaan hingar bingar mengenai konflik di KPK dan kePolisian serta kalangan yang berkecimpung dalam masalah hukum, masalah undang-undang, peraturan-peraturan. Saya telah berbicara dengan banyak orang, dan ternyata tidak sedikit yang tidak peduli dengan hal-hal tersebut di atas. Apa mereka ini orang-orang yang kurang waras, kurang ingatan? Ooh sama sekali bukan.

Mereka ini pada dasarnya memang tidak tertarik untuk terikut dengan pembicaraan orang-orang yang di pucuk pimpinan pemerintahan.

Istilahnya yang mungkin sesuai adalah CUEK, maknanya: tidak acuh atau masa bodoh. Saya biasanya cuek, meski sukar bagi diri saya menghindarkan diri agar tidak terikut tau. Teman-teman terutama yang sebaya banyak yang menghubungi hanya untuk keperluan ingin berbagi, atau justru  malah ingin mendapat informasi, bertanya sedang memperhatikan masalah keributan politik atau malah ada yang meminta saya menghidupkan pesawat televisi agar saya bisa untuk ikut urun rembug (ikut serta memberi   komentar) masalah yang mutakhir ini dan masalah yang mutakhir itu. Semua orang maklum bahwa terikut ke dalam perbincangan tentang sesuatu yang mutakhir itu bisa menaikkan gengsi di mata umum.

Demikianlah maka pemutakhiran pokok pembicaraan menjadikan rasa penting dirinya meningkat. Itu hanya terasa bilamana lawan bicaranya satu level / peringkat kelasnya. Bila saya merenung sebentar ternyata saya hampir saja serupa dengan mereka pada beberapa bulan sebelum ini. Kapan? Ketika Pemilihan Umum. Begitu menyedihkan sikap para pimpinan Partai dan Pimpinan pemerintahan. Mereka memfitnah, melempar issue, menyuap dan aktif melakukan tingkat kejahatan, anehnya tidak pernah ada yang menuntut sampai sekarang. Apa saja pasalnya? Ya, yang terkenal dengan sebutan money politics, serangan fajar dan lain-lain kelakuan yang menyimpang.

Sehari-harinya mereka ini mempraktekkan kelakuan yang  kurang pantas dalam berpolitik praktis. Mereka ini masih tampak tenang tenang saja, masih kaya, masih berkuasa, masih memberi nasihat dan petunjuk ini dan itu, didengarkan khalayak ramai.

Didengar oleh siapa saja? Tentu saja antara lain awak dan pelaku media, diberitakanlah dan masih menerima aplaus (Applause Inggr.) dan puja-puji. Yang seperti ini masih ada dan berkeliaran di dalam Negara kita. Yang didengar oleh awak media, dan diubah juga dimodifikasi, sehingga “laku dan bisa dijual” ke siapa saja mereka yang membutuhkan di dalam masyarakat mungkin ke pribadi-pribadi, partai politik atau yang lain. Kalau tidak ada pembeli, maka baru disiarkan ke mereka yang adalah para pemerhati media. Yang seperti ini di mana-mana terjad di negara-negara yang manapun juga, sejak dahulu.

Sebelum media ada pun sudah terjadi seperti itu. Melalui bisik-bisik dan gossip juga gunjingan, sampai sekarang. Saat ini nilai komersial yang terjadi dalam bursa berita gossip dan gunjingan itu begitu tinggi, sehingga membuat banyak manusia menjadi mabuk ingin mendapatkan bagian finansial dari kegiatan ini. Jadi Televisi Berita makin giat, Koran kuning juga tidak pernah berhenti menyerang ke kanan ke kiri, celah dicari, diintip dan dipelototi. Kan kegiatan seperti ini bisa menghasilkan keuntungan materi? Sampai di sini saya sering menghubung-hubungkan dengan Mochtar Lubis.

Dikenal sebagai pelaku pers pejuang kebenaran.Saya bersama salah satu familinya datang bertandang ke rumahnya yang letaknya tepat bersebelahan Gedung Proklamasi, di Jalan Kebangsaan Timur 56, Jakarta. Itu pertemuan saya pertama dan terakhir, tapi sempat dia bertanya serius kepada saya, apakah saya mempunyai data-data apapun saja mengenai perusahaam minyak kita Permina dan Pertamin yang dikuasai oleh Majen dr. Ibnoe Soetowo, pada era pemerintahan Soeharto. Waktu itu koran Mochtar Lubis adalah Indonesia Raya yang amat gencar membuka hal-hal busuk korupsi dan sebagainya mengenai personil dan karyawan di kedua perusahaan yang terlihat “mewah” di mata publik secara luas.

Karena memang sesungguhnya saya tidak mempunyai data-data seperti itu, saya jawab saja apa adanya: saya tidak punya. Saya memang mendengar begini dan begitu mengenai kegiatan dua Perusahaan itu, akan tetapi kan hanya terbatas membuat saya tau saja. Tetapi data? Saya tidak pernah mempunyainya. Jadi saya tidak berbohong sedikitpun.  Waktu itu saya adalah seorang pengusaha, tetapi saya sudah berketetapan hati untuk tidak membuat kolusi dengan usaha-usaha yang uangnya dari sumber APBN. Saya hanya terbatas antara swasta dengan swasta saja, asal dalam Negeri maupun luar negeri. Yang penting saya menjalani dengan normal saja, terhindar dari masalah suap dan kolusi tidak sehat. Yang terjadi beberapa tahun sebelum pemerintahan baru yang sekarang ini sudah berlebihan. Tindak tanduk kelakuan jelek amat menonjol makin membesar.

Apa yang harus kita lakukan bila keadaan umumnya seperti sedang terjadi sekarang ini? Lima puluh tahun yang telah lalu terjadi peristiwa perebutan kekuasaan pemerintahan oleh militer dari Pemimpin Bangsa kita dengan menggunakan kebohongan yang luar biasa. Korban berjatuhan dalam jumlah yang luar biasa dan berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. Mereka bangsa sendiri dan dilakukan oleh bangsa sendiri. Alasan yang menonjol dipakai adalah kebersihan agama dari para penganut komunis.

Pembunuhan langsung antara rakyat dengan rakyat hanya dengan dasar si Anu adalah seorang komunis, adalah musuh agama dan musuh Tuhan. Dengan tuduhan seperti itu saja seseorang bisa dibunuh atau dihilangkan seketika, tanpa pemeriksaan  alih alih menggelar pengadilan. Para pelakunya memberi  dirinya masing-masing sebagai mewakili Tuhan dan dengan tenangnya melakuan pembunuhan. Sungguh efektif cara pemerintahan militer mencuci otak pasa rochaniwan dan para penganut agama, menyulap mereka berubah balik menjadi pembunuh yang berkeyakinan diri dengan amat benar.

Oleh karena pada waktu itu saya sudah berumur 27 tahun, maka saya bisa menilai mana benar dan mana yang salah. Disinilah saya dituntut oleh keadaan agar lebih menggunakan hati nurani sendiri, menggunakan kebijakan hati dan akal budi, disamping menggunakan logika dan menelaah fakta untuk dapat tetap hidup dengan bermartabat, tidak terikut-ikutan menilai orang lain boleh terus hidup atau harus dimatikan?! Periode seperti itu saya mengalaminya.

Meskipun rasanya hidup tertatih-tatih jalannya, saya bisa sangat mujur menjalani hidup dengan jujur akan tetapi dengan rasa prihatin dalam imbalan penghasilan yang kecil. Kedudukan saya sebagai Pegawai Negeri kemudian menjadi Pegawai BUMN tidak disertai gaji yang memadai dan pantas padahal berpangkat Kepala Biro . Pada tahun 1970 saya memaksa mengundurkan diri, diberi Surat Resmi dari Direktur Utama Perusahaan. Status sebagai Pegawai Negeri saya masih tetap ada dan gaji serta jatah beras selama dua tahun berturut-turut saya hentikan mengambilnya, karena saya sudah berketatapan hati berhenti bekerja sebagai Pegawai Negeri dan tidak mau makan gaji buta.

Saya dengar dan saya ketaui bahwa gaji dan beras jatahpun lancar tetap dibayarkan kepada salah seorang lain yang bukan saya, tentunya. Saya tidak pernah memiliki Surat Tanda Berhenti apapun sebagai Pegawai Negeri. Saya yakin bahwa saya sudah berhenti karena sewaktu ada Pendaftaran Ulang Pegawai Negeri secara Nasional saya tidak mengurusnya. Selamat Pisah Pegawai Negeri, rasa hati saya lega. Saya meneruskan hidup saya bisa menjadi seorang swasta yang tetap di jalur kejujuran, selamat sampai saat sekarang. Menjadi seorang pengusaha swasta sampai tahun 1998 dengan selalu mementingkan mengutamakan selain menciptakan pekerjaan bagi diri saya sendiri, telah pernah berhasil sampai mempunyai kesempatan memberikan pekerjaan kepada 500an karyawan yang melakukan eksplorasi saja dalam bidang pertambangan mineral di semua pelosok dan sudut-sudut hutan di seluruh pulau Kalimantan.

wisdom

Modal operasi saya peroleh dari Bursa-Bursa Saham yang berkegiatan di negara-negara Kanada dan Australia. Bukan sedikit jumlah pajak yang telah kami bayarkan selama sekian tahun itu kepada Negara. Sedikit catatan miring ada juga sejumlah uang yang ketika saya lakukan restitusi pajak, terhalang karena 50% lebih diminta oleh petugas pajaknya. Saya marah sekali dan saya biarkan saja, toh uang itu sudah ada di dalam Kas Negera. Saya tidak menerima kembali restitusi tetapi orang lain tentu (?) tidak akan bisa juga mengambilnya. Mungkin saya naïve (tidak dibuat-buat) tetapi saya terhindar dan tidak  membuat diri sendiri menjadi seorang penyuap.

Rugi secara finansial, tetapi hati saya merasa kaya raya dan semua pemegang saham di Kanada ataupun di Australia merasa puas karena saya bekerja cara begitu. Mereka yang Canadian dan Australian yang masih hidup saat ini masih tetap berhubungan baik dengan saya. Terbuktilah  dengan dinamika hidup sebagai yang terbiasa pengusaha swasta, saya berhasil mengatasi semua rasa galau dan pakau itu, menggunakan kebijaksanaan yang positif dan legal. Bijaksana bukan saja berat didapat, tetapi serasa memikul beban yang harus segera dihilangkan. Bebas lepas, senang dan tenang di hari tua.

 

Anwari Doel Arnowo

2015/02/04

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.