Setelah Saya Berhenti Ngopi

Hariatni Novitasari

 

Artikel sebelumnya:

I Quit Coffee

 

Saya tidak pernah membayangkan berhenti ngopi. Tidak pernah membayangkan karena saya telah mengetahui tingkat kecanduan saya yang begitu tinggi. I was a coffeeholic, an addict.

homemade hot chocolate

homemade hot chocolate

Akan tetapi, ketika saya berhenti ngopi, saya terbukakan dengan hal-hal yang lainnya. Seperti misalnya, saya lebih mengenal teh. Tidak lagi teh yang dijajakan oleh produsen teh yang iklannya sering dilihat di tipi-tipi itu. Pertama kali saya bisa menikmati enaknya teh adalah ketika saya membeli teh hijau di Bandara Don Muang, Bangkok pada November 2013. Ketika itu, niat saya hanya “coba-coba” teh hijau yang dijual di satu kios kecil di bandara, “The Thai Royal Project” yang konon merupakan upaya/proyek yang dilakukan oleh Raja Bhumibol untuk para petani di daerah Utara. Sesampainya di rumah, saya buka teh itu, saya mencoba menikmatinya. Dan, rasanya enak sekali! Setelah itu, saya mulai mengeksplorasi berbagai jenis teh, paling tidak yang paling basic – hijau, oolong, merah, hitam, dan silver needle –  Dari berbagai varian, silver needle ini biasanya yang paling mihil, karena dia dipetik sebelum kuncup berkembang menjadi daun. Konon, dia memiliki tingkat oksidan (anti-kanker) yang paling tinggi. Eh jadi ingat, kalau jaman kuliah dulu saya punya teh andalan yang selalu diingat oleh teman-teman saya yang berkunjung ke kos saya: teh kayu manis! Dimana saya merebus kayu manis bersama dengan daun teh. Dan, kemudian menyajikan teh ini di dalam cawan yang berasal dari gerabah.

enjoying TWG tea in Siam Paragon, Bangkok

enjoying TWG tea in Siam Paragon, Bangkok

Setelah teh, saya mulai mengeksplorasi coklat. Sedikit yang saya tahu tentang coklat. Dulu, coklat hanya kenal Silver Queen, Toblerone, dan juga Ritter and Sport yang menurut saya paling enak di antara semua coklat. Eh, setelah saya benar-benar mengenal apa coklat itu, baru nyadar kalau sekarang coklat-coklat yang sebelumnya menurutku enak, terlalu kebanyakan gula, lol… Entah berapa banyak gula yang ditaruh di sana. Semakin banyak gula, semakin murah harga coklatnya. Karena, semakin sedikit cocoa butter yang ada di sana. Coklat yang bagus, adalah yang memiliki cacao butter yang tinggi atau lebih dikenal dengan nama couverture karena mengandung cocoa butter sekitar 32-39 persen. Dan, kemudian untuk pertama kalinya saya melihat cacao bean yang masih di dalam cangkangnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya mencoba cacao nib dan mulai menyukainya. Karena, cacao nib bisa menjadi antidote untuk efek habis makan yang kurang enak karena makanan terlalu kebanyakan bumbu atau mengandung MSG (terutama kalau makan di luar).

Hello there… at Purr Cafe, BKK

Hello there… at Purr Cafe, BKK

Saya bahkan mulai mengenal minuman-minuman alternatif lainnya, bahkan dengan membuatnya sendiri. Seperti misalnya chai latte. Chai merupakan minuman yang paling kompleks dari segi bahan yang saya tahu. Minuman yang terbuat dengan mencampurkan hampir semua rempah-rempah yang ada: pala, kapulaga, cengkeh, vanili, akar lawang, licorice, kayu manis, merica hitam, jahe, dan masih banyak lagi bahan yang ada di dalamnya untuk menghasilkan minuman hangat yang super enak.

Berhenti ngopi sama juga dengan berhenti makan gorengan-gorengan yang berlebihan. Dulu, tidak mengenal makanan di Indonesia kecuali yang digoreng dengan garing. Terus kemudian ditaruh ke dalam santan yang kental. Hmmm… enak *drooling. Ketika saya mengurangi dengan drastis makanan-makanan ini, saya mencoba untuk belajar mencintai “real food.” Tomat yang rasa tomat. Paprika yang rasa paprika. Selada yang rasa selada. Bukan tomat yang rasa asin atau paprika yang sudah hancur dimasak. Saya belajar merasakan dan mencintai masakan seperti bagaimana mereka harusnya dinikmati. Ketika saya mulai belajar untuk mencintai real food, saya juga mulai aware tentang apa manfaat dan fungsi masing-masing makan. Dan, mulai menyadari bahwa semua makanan yang ada di bumi yang dilimpahkan Tuhan ini sesungguhnya membawa begitu banyak manfaat. Masing-masing makanan membawa benefit bagi manusia kalau dinikmati dan dimasak dengan cara yang benar. Let the food be the medicine. Saya menjadi semakin sadar kalau selama ini gula dan garam telah “merusak” enak rasa makanan yang sebenarnya. “Enak” yang kita kenal selama ini adalah enak karena gula dan garam. Bukan “enak” karena makanan sendiri.

I love the taste of real food :)

I love the taste of real food :)

Saya tidak menyangka, kalau pada akhirnya saya bisa menikmati makan bawang bombay atau bahkan bawang putih mentah. Saya tidak menyangka kalau saya menjadi penggemar arugula (rockets) dan tomat dan selada menjadi makanan saya sehari-hari. Saya tidak percaya dengan perubahan yang saya alami selama ini. Saya mungkin sering dicap “aneh” dengan pilihan makanan saya. Ah, tetapi siapa peduli. Ketika menikmati “the real” food, saya kemudian mulai bisa terkoneksi dengan makanan itu. Tidak asal makan itu. Tetapi saya menjadi lebih aware bagaimana makanan bisa memberikan manfaat bagi diri saya. Makanan adalah sumber energi. Karena itu, saya juga mulai belajar untuk mengenal makanan yang saya masukkan ke mulut. Tidak asal enak saja… :P. Enak hanya di mulut, sehat berasal dari perut.

Saya tidak menyesal telah berhenti ngopi. Karena dengan berhenti ngopi, saya tidak lagi buta dengan minuman-minuman dan makanan-makanan yang lainnya. Horizon saya tentang food and beverages semakin terbuka dengan lebih luas. Saya juga mulai mengenal makanan dari negara-negara lainnya. Tidak hanya Indonesia saja.

 

Bisa juga dibaca di: http://mykepoprojects.com/setelah-saya-berhenti-ngopi/

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *