Dunia Kedua – The Sequel (3)

Anik

 

Artikel sebelumnya:

Dunia Kedua – The Sequel (1)

Dunia Kedua – The Sequel (2)

 

Setelah liburan semester.

Aku berulang kali mengedarkan pandangan ke dalam area sekolah. Tempat di mana aku dulu juga pernah memakai seragam khas sekolah ini. Aku berusaha untuk menemukan Jojo. Sampai sekolah hampir sepi wajahnya tak kulihat juga. Aku yakin dia pasti sedang berada di dalam. Kalau aku masuk rasanya tak mungkin. Sekolah ini terlalu luas. Lebih baik aku menunggu di sini. Di depan gerbang yang pasti dilewati siswa saat pulang sekolah.

“Ninaaa!” Teriakku saat melihat Nina berjalan keluar sekolah.

“Mbak Dinda.” Dia tersenyum sumringah menghampiriku.

“Apa kabar?” Tanyaku sambil menjabat tangannya.

“Baik. Mbak Dinda kenapa di sini?”

“Aku sedang mencari John. Kamu tahu dia ada di mana?”
“John hari ini nggak masuk, Mbak. Dia sakit.”

“Sakit apa? Kamu tahu kan kosnya John?”

“Kos? Bukannya dia tinggal di rumah Mbak Dinda?”

“Liburan dia sudah kos, Nin. Tapi aku nggak tahu dia kos di mana.”

“Aku juga baru tahu dari Mbak Dinda.”

Wajahku terlihat murung. Tak ingin rasanya aku pulang dengan tangan kosong.

“Mbak Dinda, itu Yoga. Dia teman akrabnya John.” Aku melihat cowok putih tinggi. Ya.. Aku sudah mengenalnya. Dia sering diajak Jojo main ke rumah.

“Yoga!” Sapaku saat aku berdiri tepat disampingnya.

“Em.. kakaknya John ya? Benar kan?”

Dia menyipitkan matanya saat melihatku. Mengingat-ingat siapa diriku. “Iya.”

“Yoga kamu tahu tempat kosnya John?”

“John kos? Bukannya dia tinggal di rumah kamu?”

“Iya. Tapi liburan dulu dia sudah memutuskan untuk kos.”

“Aku sama sekali tidak tahu. Bahkan sudah seminggu liburan usai dia belum juga masuk sekolah.’

“Kenapa dia tidak masuk?”
“Katanya sakit.”

“Tahu dari mana?”

“Dari… em… Seingatku Rian yang membawakan surat izinnya.”

“Rian pasti tahu keberadaan John. Apakah Rian sudah pulang?”

“Sudah, Mbak.”

“Yoga, kamu bisa kan mengantar aku ke rumah Rian?”

“Bisa, Mbak.”

“Nina, aku pergi dulu dengan Yoga.”

Nina mengangguk.

Aku naik motor bersama Yoga ke rumah Rian. Aku berharap bertemu Rian adalah ujung pencarianku.

“Ayo masuk!” Ibu Rian mempersilahkan aku dan Yoga masuk rumahnya.

“Iya.” Aku dan Yoga tersenyum lalu duduk. Tak lama kemudian kulihat cowok tinggi berambut keriting itu keluar dengan kaos oblongnya.

“Sepertinya… kakak kelas tahun lalu?” Rian menunjuk ke arahku.

“Aku kakaknya John, Rian. Kamu tahu keberadaanya John?”

“Memangnya ada urusan apa dengan dia?”

“Aku kan saudaranya, aku berhak untuk mengetahui keberadaannya.”

“Jujur saja, Mbak. Aku memang tahu tapi aku sudah berjanji untuk menutup mulut.”

“Ayolah Rian! Bantu aku.”

“Tidak bisa, Mbak. Janji itu adalah hutang.” Aku memandang Yoga. Dia seperti kasihan denganku namun dia tak bisa berbuat apa-apa.

“John sekarang baik-baik saja kan?”

“Keadaannya sangat baik Mbak. Senin depan sudah bisa masuk sekolah. Dia hanya kelelahan.”

“Sampai kapan dia akan sembunyi dariku?”

“Sampai dia sudah lulus.”

“Ha? 6 bulan lagi.”

“Iya, biarkan dia menenangkan diri.”

“Apakah aku juga tidak boleh mengetahui nomor barunya?”

“Tidak.”

“Apakah kamu mau membantu kalau aku ingin menitipkan surat untuk John?”

“Boleh saja.”

“Iya, terima kasih.” Aku pulang dengan tangan kosong. Tapi setidaknya aku tahu bahwa Jojo baik-baik saja.

“Maafkan aku Mbak. Aku tidak bisa membantumu lebih.”

“Kamu mau mengantarkanku saja aku sudah senang, Yoga.” Aku tersenyum saat aku turun dari motornya.

“Aku titip salam untuk John jika dia sudah masuk. Sampaikan aku sangat merindukannya.”

“Oke.”

Yoga tersenyum lalu perlahan beranjak pergi meninggalkan halaman rumahku.

***

Untuk Jojo

yang kurindukan

Apa kabarmu Jo? Semoga rangkaian kalimat bahagiaku di selembar kertas putih ini membuatmu lebih baik dari sebelumnya. Jo, tak sadarkah dirimu? Bahwa hati yang kau anggap mengacuhkanmu ini sangat merindumu. Jo, sudah tak perlu kau tutupi lagi perasaan yang telah mengendap di hatimu. Aku sudah tahu kau juga menaruh cinta untukku. Aku bahagia, Jo. Karena aku juga mencintaimu. Mungkin kau kira hatiku memilih Dirga. Aku juga mengira seperti itu. Tapi nyatanya tidak. Ada kelebatan bayanganmu yang selalu membuatku lebih nyaman.

Kukira kamu juga memilih Elsa, sampai-sampai kamu menggeser posisiku di hatimu. Namun ternyata kamu tetap menempatkan aku melebihi dia. Jo, aku percayakan hati ini padamu. Aku menunggumu. Maafkan semua salahku hingga kamu tak lagi mau menatapku dan menanyakan kabarku. Selamat berjuang untuk ujianmu. Sukses Jo! I miss u.

 

Yang merindukanmu,

Dinda

 

Kulipat kertas surat ini dan kumasukkan ke dalam amplop berwarna hijau kesukaanku dan Jojo. Pandanganku kosong menerawang langit yang terlihat di jendela kamar.

“Kamu kenapa Din?” Suara ibu mengagetkanku. Aku menyadari beliau duduk di belakangku.

“Tak apa Bu.” Aku tersenyum memandangnya.

“Kamu merindukan Jojo?”

Aku tersenyum mendengar ucapan ibu.

“Apakah ibu juga rindu dengannya?”

“Rindu sekali, Din. Sepi tanpa ada dia di sini.”

“Bu..”

“Iya Dinda.”

Aku duduk di sebelah ibu. Kuberanikan diri untuk membuka mulutku. “Bagaimana kalau aku mencintai Jojo?”

Ibu terbelalak kaget mendengar ucapanku. “Bagaimana mungkin?”

“Aku tidak ingin kehilangannya,Bu.” Kusandarkan kepalaku di bahu ibu.

“Tapi mana mungkin Dinda? Apa kata tante Listy dan om Feri?”

“Jojo juga mencintaiku.” Aku menatap ibu dengan yakin.

“Jangan konyol Dinda.”

“Bu, ini serius. Tidak ada salahnya kan? Toh ibu juga tahu kalau Jojo itu anak baik.” Ibu terdiam. Mungkin beliau bingung harus mengucapkan apa.

“Ibu akan mendukungku kan?”

“Din..”

“Bu..”

“Kamu serius?”

“Iya, Bu.”

“Ibu percaya denganmu. Kuliah yang rajin! Biarkan Jojo konsen dengan ujiannya.” Ibu tersenyum dan aku berhambur ke pelukannya.

***

Suara pintu berderit saat kubuka kamar Jojo. Tak ada yang berubah dengan kamar ini. masih sama seperti dulu. Kulihat di meja kamarnya sudah tidak ada lagi fotoku dan Jojo yang selalu terpampang di sana. Mungkin dia membawanya. Aku duduk termangu di tempat tidurnya. Lama sekali aku tak bergeming. Merasakan udara hangat di kamarnya. Aku merebahkan diri untuk membuang semua gundah yang sedari tadi menggelayut di pikiranku. Aku mencoba memejamkan mata. Ingin rasanya aku bermalam di sini untuk mengobati kerinduanku dengannya.

“Dinda.” Panggil ibu setelah beberapa detik aku berhasil memejamkan mata. Suara kaki langkah ibu terdengar sedang masuk di kamarku. Aku mengabaikannya. Mataku sudah sangat berat untuk dibuka.

“Dinda.” Panggil ibu lagi. Kali ini beliau tahu aku sedang berada di kamar Jojo, karena pintunya lupa kututup.

“Din.” Panggilnya pelan sambil memegangi pundakku. “Ada temanmu di depan.” Suara ibu sayup-sayup tertangkap oleh telingaku.

“Siapa?” Suaraku terdengar sangat berat.

“Dirga.”

“Ha?” Aku tersentak mendengar kedatangannya.

“Ayo temui dia!” pinta ibu.

“Aku ngantuk, Bu. Bilang saja Dinda sedang tidur.” jawabku dengan malas.

“Ayo! Jangan mengecewakan orang!” Ibu mencoba membujukku. Aku menyerah. Aku paling tidak bisa menolak permintaan ibu. Dengan gontai aku menemui Dirga di teras.

“Din.” Sapa Dirga sambil tersenyum ke arahku. Aku memaksakan tersenyum.

“Apa aku mengganggumu Din?” Tanyanya dengan basa-basi.

“Nggak kok.”

“Oh.” Dia erlihat canggung tidak seperti biasanya. Aku tetap diam menunggu dia membuka obrolan.

“Din.”

“Iya.”

“Aku mau ngomong sesuatu.”

“Ngomong saja.”

“Emm.”

“Apa?”

“Aduh, aku malu gini.”

“Biasa saja denganku.”

“Emm… Din, aku sayang kamu.”

“Oh, itu.”

“Ha? Jawabanmu hanya seperti itu?”

“Lalu? Aku harus bagaimana?”

“Aku ingin kamu menjadi kekasihku, Din.”

“Kita baru kenal, Dirga.”

“Baru? Kita sudah lama tahu satu sama lain. Hanya saja baru 6 bulan ini kamu kenal dekat denganku.”

“Tapi…”

“Tapi apa? Apa aku salah kalau punya perasaan ini?”

“Tidak, tapi selama ini aku menganggapmu hanya teman. Tidak lebih.”

“Bagaimana bisa? Bukankah dulu kamu menyayangiku?”

“Hanya kagum, bukan sayang.”

“Itu berarti kamu tertarik denganku.”

“Iya. Tertarik untuk berteman saja.”

“Jadi, kamu memberiku harapan palsu?”

“Aku tidak pernah bermaksud memberikanmu harapan. Selama ini kita teman.”

“Aku mengerti.”

“Maafkan aku Dirga.”

“Iya.” Dia berdiri dengan pandangan kosong lalu berlalu dari hadapanku.

“Dirga, kamu mau ke mana?”

“Pergi dari kehidupanmu.”

“Apa salahnya kalau kita tetap berteman?”

“Tapi itu malah membuatku sakit.” Dia tidak mempedulikan aku dan melanjutkan langkah kakinya.

Ini yang aku takutkan. Sebuah persahabatan berakhir hanya karena kata cinta yang tidak terbalas. Apakah nanti aku dan Jojo akan seperti itu? Persaudaraan yang sangat erat akan pudar begitu saja karena perasaan yang entah datangnya mulai kapan dan dari mana. Aku berjalan dengan lunglai kembali ke dalam rumah.

“Temanmu mana Din?” Tanya ibu di ruang TV.

Aku hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti. Aku berjalan masuk ke kamar Jojo lagi. Membanting tubuhku ke ranjang. Apa harus aku menghapus segala perasaan ini untuk Jojo? Aku tidak ingin kehilangan cintanya Jojo. Ya, aku tidak ingin hanya karena cinta yang tak jelas asalnya ini, keakrabanku dengan Jojo pupus begitu saja. Lebih baik aku tak memiliki jiwanya dari pada aku harus kehilangan cintanya. Aku lebih nyaman seperti ini, hanya sebagai saudara tapi dia mencintaiku lebih dari segalanya. Namun, aku juga tak mau dia dimiliki oleh orang lain. Butiran lembut di pelupuk mataku menetes lagi membayangkan jika ada wanita lain yang bersanding dengan Jojo. Kebingungan melandaku.

***

“Loh, kamu mau ke mana Din?” Tanya ibu kaget saat melihatku mengemasi barang-barangku.

“Kembali ke Malang Bu.”

“Untuk apa? Bukannya liburanmu masih 2 minggu lagi?” Aku hanya diam. Aku sulit merangkai kata-kata menjelaskan apa yang ada di perasaanku kepada ibu.

“Ada apa Din? Apa ada masalah?” Ibu membelai rambutku dengan lembut. Aku bersimpuh di pangkuannya.

“Bu, aku bingung harus bagaimana. Apa aku salah kalau aku mencintai Jojo?”

“Tidak, Din. Namun, ibu juga tidak bisa memberi kepastian apakah orang tuanya juga menyetujui hubungan kalian. Kamu tahu sendiri kan? Mana mungkin orang tuanya percaya kalau anaknya mencintai saudaranya sendiri.”

“Lantas, kenapa ibu membiarkan aku mencintai dia?”

“Asalkan kamu bahagia, kenapa tidak? Ibu juga sudah mengenal Jojo dari kecil. Daripada kamu salah memilih laki-laki lain.”

“Terima kasih ibu telah mengerti perasaanku. Tapi aku takut jika karena perasaan ini persaudaraanku dengan Jojo akan pudar.”

“Ibu yakin kamu sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang terbaik untuk dirimu sendiri.” Aku tersenyum dan memandangi ibu.

“Aku berangkat dulu, Bu. Ada surat untuk Jojo kutaruh di meja kamarku. Nanti jika ada teman Jojo kesini titipkan saja kepada dia.”

“Iya Dinda. Kamu hati-hati ya!” Ibu mengecup keningku. Ake mencium tangan ibu lalu berjalan membawa tas ranselku.

 

bersambung…

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.