Fokus itu Penting

djas Merahputih

 

Pemerintahan baru belum lagi berjalan dengan baik, namun goncangan telah datang bertubi-tubi. Masyarakat kembali disuguhi drama politik tingkat tinggi yang menguras emosi dan pikiran. Walaupun jika diamati dengan teliti tidaklah seseru perkiraan kita. Mungkin kita saja yang terlalu cepat kaget, cepat heran dan belagak sok tahu (ingat pesan Semar). Padahal kisah cicak buaya sudah sampai pada sequel ketiganya.

Kisah cicak buaya terlalu lucu untuk dianggap sebagai drama berkualitas. Motif cemburu buta untuk seorang Antasari dan sakit hati politik pada Abraham Samad sangat meremehkan kecerdasan anak-anak bangsa. Antek-antek cerdas dengan segala “niat baik”nya lupa bahwa generasi baru bangsa ini bukanlah anak TK yang mudah diiming-imingi hadiah atau ditakut-takuti dengan dongeng tragis masa lalu. Mereka telah belajar dari sejarah, bahwa jika kebaikan hanya bisa diam maka zaman dengan senang hati akan melindasnya.

img01. Drama dengan logika rendah

img01. Drama dengan logika rendah

Teringat kata-kata Bung Karno, “Apakah kita bodoh? Tidak! Kita dibodohi..!” Dan dalam usia republik yang telah menjelang 70 tahun ini, apakah bangsa ini masih terlalu mudah untuk dibodohi? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Namun sangat disayangkan jika kenyataan umum berkata bahwa kita memang telah benar-benar dibodohi. Celakanya lagi, jika ternyata kita dibodohi oleh golongan bangsa kita sendiri.

Hiruk pikuk di negeri tercinta selayaknya dipahami sebagai sebuah pesta. Setiap pesta akan selalu dipersembahkan pada seorang Ratu Pesta. Ratu Pesta tak harus selalu identik dengan seorang wanita. Ia bisa saja seorang pria, boleh pula organisasi tanpa bentuk, faham atau aliran tertentu, mungkin juga semacam makhluk astral dan berbagai kemungkinan lainnya. Tapi sangat jelas, pengaruhnya berskala global. Boleh saja kita larut di dalam pesta sepanjang kita sadar dan memahami untuk siapa pesta itu digelar. Dalam hal ini, pemerintahan baru bisa dipastikan bukanlah ratu pesta yang dimaksud.

Tak bisa dipungkiri media mainstream akan selalu diuntungkan oleh drama-drama politik di negeri ini. Terlepas dari siapa tokoh antagonis maupun protagonisnya, media akan tetap menyedot perhatian pemirsa dan berbanding lurus dengan permintaan iklan yang masuk. Namun setega itukah dunia pers di negeri kita? Apakah mereka tak memiliki setitikpun rasa nasionalisme? Apakah generasi pejuang telah lenyap dari bumi pertiwi?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan tadi terlalu pesimis. Nyatanya, media kita masih punya nurani. Merekapun masih mengenal kata nasionalisme walau dengan sedikit distorsi ideologi di dalamnya. Generasi pejuang ada di mana-mana. Harapan itu tetap terlihat, hanya sedikit buram dikarenakan fokus perjuangan yang terganggu.

img02. Fokus itu Penting

img02. Fokus itu Penting

Fokus. Dalam dunia fotografi kata ini amatlah penting dan menentukan hasil akhir karya seorang fotografer. Kisah cicak buaya tak lebih hanyalah upaya memburamkan fokus pemerintah terhadap hal yang jauh lebih penting dan signifikan. Ia juga merupakan bentuk teror dari Sang Ratu Pesta. Jika anda tak menurut, anda sudah bisa menebak sendiri akibatnya.

Skandal artis/pejabat penting dan kecelakaan pesawat adalah dua opsi favorit untuk menginterupsi fokus massa terhadap objek berita penting sesungguhnya. Istilah pengalihan issu memang sangat jelas terbaca, walaupun dengan mudah pula terbantahkan dengan manipulasi kata-kata “bukan, mirip, tidak, terduga” dan sejumlah kata lain sebagai “ple-setan” untuk memburamkan masalah sebenarnya.

Kisah Antasari adalah model dan preseden pasti bagi siapapun ketua KPK yang membangkang Sang Ratu Pesta. Selama kasus kriminalisasi Antasari tak berhasil dibongkar, selama itu pula pola cicak buaya akan terus berulang, entah sampai kapan. Jika ingin keluar dari labirin cicak buaya jilid 3 maka langkah pertama yang disarankan adalah membongkar para kolaborator keji di balik kasus pertama. Lalu membersihkan agen dan promotor kekacauan pada kasus Bibit-Chandra. Maka, dengan sendirinya kasus ketiga, keempat, kelima dan seterusnya akan terurai dengan mudah. Jelas bahwa kata-kata lebih mudah diucapkan dan tentu hanya sebuah tindakan saja yang akan mampu mewujudkannya.

img03. Media adalah senjata pikiran

img03. Media adalah senjata pikiran

Dunia telah masuk ke dalam masa revolusi informasi. Perang informasi menjadi bentuk peperangan sesungguhnya. Media nasional seharusnya mampu berfungsi sebagai perisai bangsa sekaligus meriam ampuh untuk menghadapi serangan informasi konyol ini. Bukan waktunya lagi sebuah bangsa sebesar Indonesia dibodohi dan dikerdilkan oleh para politikus hitam dan “local army friend” di dalam tubuhnya sendiri. Purnama telah menampakkan bias sinarnya di kaki langit. Dan, suka tidak suka, kelak tak seorangpun akan mampu menampik kehadirannya.

Fokus pemerintahan baru sudah jelas. Mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Selayaknya perhatian bangsa tak mudah terpecah oleh hal-hal lucu serta konyol tentang dongeng cicak dan buaya. Biarlah cicak terus berdebat dengan buaya, toh akhirnya kancil juga yang akan menjadi pemenang.

Maukah kita menjadi si Kancil? Jika fokus pada cita-cita, sekali lagi hanya dengan fokus yang tetap terjaga, maka tanpa butuh persetujuan dari siapapun bangsa besar ini akan segera menjelma menjadi Kancil. Mari bersiap menjemput Sang Kancil. Tapi harus dipastikan dulu Sang Kancil bukanlah kancil yang suka mencuri ketimun (lagian juga kancil ngga suka makan ketimun kok!).

 

Salam Nusantara,

//djasMerahputih

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.