Jangan Salahkan Jilbabku (6)

Yang Mulia Enief Adhara

 

“Aku ada janji ketemu Kak Yuni, kamu mau ikut Yank?”, Tanyaku pada Darwin.

Darwin mengangkat bahu, “Hari ini nggak bisa Yank, soalnya siang aku harus anter empek-empek pesenan, kasian Bunda lagi agak flu”.

“Waduh kasian Bunda, apa aku perlu ke rumahmu? Aku bisa batalin janji sama Kak Yuni”, Ujarku

“Jangan, kamu pergi aja sama dia, aku bisa urus sendiri kok, tar aku kabar-kabari aja lewat BBM ya atau aku telpon kalo semua sudah beres”, Sahut Darwin dengan lembut.

Aku memeluknya dan berbisik, “Yank, terima kasih ya, kamu memang nggak tergantikan, ai lop yu bebi”, Dan aku mencium pipi Darwin.

Adegan romantis itu harus tamat lantaran Yuni tiba-tiba berdehem di dekat kami, wajahku memerah. Tapi Yuni malah tersenyum, “Silahkan kalian lanjut dulu, aku nunggu di lobby aja”.

“Ehhh udah kok Kak, Darwin harus buru-buru pulang, yuk kita jalan aja sekarang”, sahutku pada Yuni sambil mencium Darwin sekali lagi. Dalam hati kenapa ya aku suka sok marah kalo Darwin mulai slebor? Padahal aku ya nggak merasa benar-benar terganggu.

*****

Makin hari aku semakin dekat dengan Yuni. Tiap pertemuan seolah ada satu pelajaran baru. Yuni tidak seperti kebanyakan orang, yang menyuruhku pergi ke pengajian atau semacam itu. Namun pelan-pelan dari segala kisah yang dia tuturkan, aku seperti ingin tahu lebih dalam tentang masalah jilbab. Dia bercerita tanpa menggurui dan memaksa. Dengan begitu aku malah berfikir dan pelan-pelan termotivasi. Sungguh sebuah pertemanan yang sangat bermanfaat.

“Kak? Lantas apakah mereka yang berjilbab dengan aneka model itu berarti berdosa?”, Tanyaku di suatu sore yang mendung. Hujan baru saja turun dengan deras, dan aku ‘terdampar’ dihalte. Untung saja aku bertemu Yuni. melihat jalan yang macet rasanya sudah putus asa, mungkin bisa 4 jam aku baru sampai rumah.

“Yang berhak mencatat pahala dan dosa hanya Allah. Kita tidak bisalah menghakimi seseorang. Namun bila mengacu dari agama kita, jilbab itu intinya harus menjulur ke bawah, menutupi dada dan tentunya tidak membentuk badan secara menyolok. Tapi andai ada yang memakai jilbab yang lebih umum, selama dia tidak ketat, aku rasa masih nggak masalah kok, toh semua butuh proses. Namun aku akan tidak respek terhadap mereka yang berjilbab namun lekuk tubuhnya tercetak dengan jelas, itu seperti sia-sia dan lebih buruk bisa menimbulkan pandangan nista akan arti jilbab yang sebenarnya.

Namun sekali lagi kita tidak berhak mengatakan mereka dosa, biar Allah saja yang menentukan, kita hanya bisa merangkul dan memberi nasehat hingga berharap suatu hari orang itu sadar dirinya keliru memaknai jilbab, lha kita aja belum tentu benerkan? Nah banyak juga wanita Islam yang tidak atau belum berjilbab dan saat ditanya itu dosa? Maka aku jawab, sekali lagi hanya Tuhan, hanya Allah yang berhak menuliskan pahala dan dosa, artinya kita jangan mudah buat ngehakimin orang lain Ang, kita wajib benerin diri kita dulu dan itu hampir seumur hidup lho”, Ujar Yuni panjang lebar.

“Iya memang Kak, kita semua butuh proses, tidak serta merta sempurna, toh pada faktanya manusia tidak ada yang sempurna ya?!”, Sahutku.

“Nggak ada salahnya Ang, kita ikut pengajian atau sekedar baca aneka buku, sekedar menambah wawasan tentang agama dan semoga dari situ kamu lebih banyak tau mana yang boleh dan mana yang dilarang dan tentunya lebih tahu mengapa ada hal-hal yang harus kita patuhi sesuai agama yang kita yakini, aku sering kok disindir bahkan dihina lantaran jilbabku panjang, seolah aku ini ingin tampil ke-Arab-Araban atau sok paling suci dan banyak lagi. Tapi aku diam, mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan dan mereka belum tentu mau menerima saat aku sibuk memberi penjelasan, biarkan saja, toh kita mau pakai jilbab model apapun itu adalah pilihan, bagiku yang kaya aku pakai ini paling pas”, Yuni bicara dengan bijak.

Sayang pembicaraan harus diakhiri, bus Yuni sudah datang. Tinggalah aku sendiri menatap macet yang bagai tak berujung. Akhirnya ku telpon Darwin dan minta agar dijemput, biarlah tua di jalan asal bersama Darwin.

******

Suatu sore aku bersantai dengan Ibu, sebenarnya hari ini ada undangan pembukaan Pameran Fotografi tapi aku malas datang ke sana. Ibu seperti biasa sibuk di ruang tengah. Rupanya Ibu baru saja kedatangan tamu, Beberapa Ibu pengajian mengajak Ibu untuk acara bakti sosial. Aku turun ke bawah dan Ibu langsung mengajak bicara. “Nak, sini sebentar, Ibu mau bicara”, Ujar Ibu sambil mengelap coffee table.

Aku pun duduk di sofa, “Ada apa Bu? Tadi ada siapa sih?”, Sahutku.

“Itu lho Ibu-Ibu pengajian, kita mau ada acara bakti sosial. Kamu ikut ya? Sekalian kenalan sama Ibu pengajian, temen-temen Ibu”, Ibu bicara dengan semangat.

Aku menarik nafas, boleh juga nih ikut acara bakti sosial, “Hmm kapan Bu? Boleh juga tuh, kalo ngajak Darwin bolehkan?”, Dalam hati aku mikir apa iya aku ini mau ikut karena aku tertarik atau karena bisa piknik sama Darwin?

Ibu tersenyum, “Ya boleh donk, aduh Ibu seneng bingit deh rasanya”, Seru Ibu dengan riang.

“Ihhh kok Ibu bisa tau-tauan ‘Bingit’ sih?”, Ujarku sambil tertawa.

Ibu langsung berkisah, “Lha tiap Ibu telponan sama Bundanya Darwin kan dia selalu bilang ‘bingit’ lama-lama jadi ikutan deh”. Ibu tertawa.

“Masya Allah, ini Emak gaul semua sih, jadi kesaing nih”, Jawabku tetap tertawa cekikikan.

****

Namun acara bakti sosial di daerah Cianjur itu justru menjadi bencana, aku bersitegang dengan beberapa Ibu pengajian yang menurutku kolot dan lebay dan jelas merasa paling betul. Saat acara bebas aku memilih jalan-jalan ke arah jalan besar. Jarak dari kampung tempat kami bakti sosial sekitar 8 kilo, namun jalanan desa itu menyuguhkan pemandangan yang sangat indah.

sawah

Tentu saja aku tidak berjalan sampai 8 kilo, paling hanya 600 meter. Aku tertarik dengan hamparan sawah dan suasana alam yang masih asli. Indah sekali suasana alam yang terhampar di depan mataku. Darwin sibuk memotret, hobinya itu memberi keuntungan buatku, jelas aku yang menjadi modelnya. Kami benar-benar menikmati suasana asri itu hingga muncul beberapa Ibu-Ibu pengajian.

Jumlah mereka sekitar 9 orang dan tiba-tiba mereka memandang serius ke arahku. Tak lama salah satu Ibu-Ibu itu menegorku. “Kamu anaknya Bu Darmawan ya?? Kok asik sama laki laki yang bukan muhrim kamu? Apa iya Ibumu tak pernah memberi tahu?”, Ujar Ibu itu tanpa basa basi.

Aku jelas heran, apa pula maksudnya dan belum sempat ku jawab, salah satu Ibu yang lain bicara, “Nak, kamu nggak boleh berduaan sama lelaki yang bukan muhrim kamu, kalau memang kamu berpacaran kenapa tidak menikah saja?”.

Aku syok! Aku marah dan aku jelas merasa dihakimi. Mereka ini siapa? Tiba-tiba menegorku? Aku berusaha menekan amarahku, aku pun bicara, “Bu? Maksudnya apa? Memangnya apa yang aku perbuat?”

Ibu itu kembali bicara, “Kamu kalau berduaan sama lelaki maka yang ketiga adalah setan, cerita seperti itu kan sudah terulang ribuan kali?”

“Dan kamu harusnya tahu Nak, kalau berdua lelaki yang bukan muhrim kamu kan tidak baik, lagi pula kamu kan memakai jilbab, apa kata orang yang melihatnya?”, Sambung Ibu yang satunya lagi.

Darahku mendidih, aku memandang ke arah Darwin yang berdiri kaku di tepi sawah. Lagi-lagi bahas soal jilbab yang seolah sakral dan dalam hati aku tidak lagi bisa menerima hal seperti ini, cukup! Dan aku akhirnya hanya diam dengan pandangan sinis dan mengajak Darwin pergi dari situ. Kok bisa ya Ibu-Ibu itu berfikir apa yang ada di diri mereka adalah yang benar, dengan menghakimi orang lain aja sudah salah. Lagi pula sekalipun mereka benar, ya tentu mereka bisa bicara dengan lembut, tidak semena-mena menuding orang lain.

Aku cemberut di sisa acara, ibuku pun beberapa kali mengiraku sakit. Dan akhirnya kami pulang kembali ke Jakarta. Untungnya serombongan Ibu-Ibu tadi duduk di bagian depan bus. Namun kejadian tadi seolah sudah membuatku ingin menghapus segala kepura-puraanku, aku harus jujur mengambil sendiri keputusan yang sesuai untukku.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.