Foodie

Nia

 

Jalan bareng seorang foodie itu sesuatu banget yah. Bagi saya yang tidak bisa mengapresiasi makanan hal-hal yang dilakukan foodie itu sering tidak bisa di nalar.

Saya makan sering lupa. Apalagi kalau sedang asik jalan. Makan dimana ditentukan oleh jalur yang saya lewati. Berbalik dengan teman saya yang sebelum keluar sudah browsing lokasi dan review restoran yang enak.

Rute jalan-jalan hampir pasti ditentukan oleh lokasi restoran yang dia ingin datangi. So far so good. Sampai kami tiba di Coimbra. Kota kecil di utara Lisbon.

Beberapa restoran yang mendapat review bagus kami datangi. Tutup semua. Baru kami sadar bahwa di kota ini restoran buka hanya pada waktu makan siang dan makan malam. Kurang cocok untuk kami yang selalu lapar.

Waktu makan malam tiba tapi kami malas jika harus kembali menyusuri gang-gang sempit menuju restoran-restoran tadi. Maka kami putuskan untuk jalan tak tentu arah dan makan di restoran yang akan kami temui.

‘We should dine here!’ Kata teman saya dengan nada yakin. Saya melihat ke dalam. Sepi. Tak ada pengunjung satupun. Interiornya juga biasa saja. ‘Are you sure?’ Tanya saya dengan muka bingung.

Teman saya ini pernah bilang kalau restoran banyak dikunjungi keluarga lokal biasanya makanannya enak dan harganya murah, bukan harga turis. Itulah mengapa saya heran dia memilih restoran sepi.

‘See that lady? She’s has mama look.’ Katanya sambil menunjuk ibu pemilik restoran.

Astagaaaa…

Teman saya memesan stew goat meat in red wine. Jenis masakan yang tak kan pernah saya pesan. Saya tidak suka mencoba makanan seperti teman saya itu.

foodie

Porsinya cukup untuk 3 orang dewasa. Tapi satu kuali itu dia habiskan sendiri. Enaaaaakkkk katanya. Tak henti dia memuji si ibu dan memuji dirinya sendiri bahwa teorinya tentang koki gemuk dan masakan enak selalu terbukti benar.

 

Competition is important

Teman saya si foodie paham banget kalau saya tidak suka kopi. Walau awalnya sering maksa saya untuk mencicip kopinya akhirnnya bosan juga dia.

Jadi tiap pagi ketika tiba jadwalnya ngopi dia akan pesankan coklat panas untuk saya. So far tidak pernah ada masalah sampai ketika dia butuh ngopi di bandara Madrid.

foodie1

‘This is the worst coffee place EVER!’ Katanya sambil meletakkan nampan di meja. ‘Here, have your hot chocolate. That’s how they call this.’ Dia menunjuk gelas berisi susu putih dan coklat bubuk kemasan sachet.

Saya tertawa. Lebih ngakak lagi ketika dia cerita bahwa penjualnya tidak tahu apa itu cappuccino dan dia terpaksa terima nasib minum kopi ala kadarnnya.

Aku mau buka cafe di situ katanya sambil menunjuk ruang kosong di sebelah. Competition is important.

 

Snack untuk makan siang

Kali ini saya berhasil mempengaruhi si foodie untuk hidup ala saya. Bangun jam 10 pagi, malas-malasan sampai jam 12 siang lalu keluar cari makan.

‘OMG!!’ Saya berguman sambil muka nempel di kaca etalase sebuah toko pastry. Saya suka sekali melihat makanan yang kecil-kecil. Si foodie langsung menarik saya masuk. Dan di dalam toko bukan hanya saya tapi kami berdua yang OMG-OMG.

foodie2

Kami kalap melihat beragam gorengan kue lucu-lucu. Foodie bilang gorengannya pasti isi ikan Bacalau khas daerah sini. Dan ternyata benar… ikannya diolah dalam berbagai rasa. Enak semua.

Hitungan harga berdasar berat bukan jumlah atau jenis makanan. Total harga untuk 2 kotak di foto ini adalah 10 euros.

Makanannya kecil-kecil tapi bikin keyang apalagi untuk ukuran lambung saya. Si foodie tanya ‘jadi begini ya makan siang kamu?! Ok aku coba. Jadi kita nanti tinggal makan malam saja ya.’

Waktu makan malam tiba saya ajak dia masuk supermarket beli jeruk, yogurt dan kripik kentang. ‘Jangan bilang itu untuk makan malam.’ Katanya. Saya hanya nyengir. Dia lalu mengambil crackers dan beberapa jenis keju.

 

 

Ini adalah ayam jago yang dimasak ala Portugal. Rasanya enak. Cocok di lidah saya.

foodie3

Teman saya si foodie yang pesan ini. Waktu itu saya pesan pasta dengan salmon. Biasa… cari aman.

Enak sih pasta yang saya pesan tapi jago ini lebih enak. Ingin rasanya ngajak tukeran tapi melihat si foodie yang bahagia banget dengan jagonya saya urungkan niat. Minta sesuap pun saya sungkan.

Harga jago ini 10 Euros. Bisa mengenyangkan 2 orang sebenernya. Tapi kalau anda rakus macam si foodie ya 1 porsi itu kurang.

 

 

Bacalhau atau salted cod fish merupakan salah satu makanan khas Portugal terutama di daerah pesisir samudra Atlantic.

Ini kali pertama saya mencicipi Bacalhau goreng dalam potongan yang agak besar. Tekstur daging ikannya lebih kenyal dari ikan lain. Rasanya enak tapi asinnya lebih cocok dinikmati dengan nasi bukan kentang goreng seperti di foto ini.

foodie4

‘Bacalhau a braga, please’ kata saya pada pemilik restoran.

‘Bebida? (Minumnya?) Wine? Beer? Coca cola?’ Tanya si pemilik, perempuan muda yang cantik sekali dan murah senyum.

‘No… do you have milk?’ Maaf saya penggemar susu. Harap maklum.

 

Saya tidak bisa mengerti… apa yang salah dengan lidah teman-teman saya.

foodie5

Ini cabe goreng. CABE digoreng. Pengakuan mereka ini tidak pedas. Fine… saya akui ada species cabe yang tidak pedas. Tapi kan cabbeeee… masa dijadiin cemilan?! Starter sebelum main course?!!!!

 

 

About Nia

Don't judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *