Dan Kunyanyikan Laguku

Dwi Klik Santosa

 

Aku ini si pengelana. Suka sekali jalan-jalan. Tidak pagi, siang, sore atau malam. Entah kemana tujuan. Tidak selalu tempat yang bersih dan senampak megah atau indah-indah. Tidak melulu taman-taman yang asri dan mengesankan. Tapi sungai-sungai yang kotor, hutan yang gundul, kota yang sumpeg, dan senampak cakrawala yang kusut karena bumi bergoncang atau deru lautan yang murka. Banyak jalan kulalui. Banyak tempat kusinggahi. Sepanjang jalan, selebar langkah, semakin benak ini dipenuhi tanya dan kata-kata.

pengelana

Tak jua airmata, setiap ruas kujejaki, kuamati. Sungguh tak ada. Alam tempat kita hidup sungguhlah cermin raga yang sabar. Tak patut sekiranya ditangisi atau dikasihani. Tapi rajin menyaksikan perilaku dan kebiasaan. Entah binatang, entah manusia. Mulut yang biasanya pendiam ini jadi mudah saja melepas tawa, mudah pula memboros airmata. Ah, inikah peradaban? Inikah simbiosis mutualisma? Dipahami untuk saling dimengerti. Dihayati untuk saling membutuhkan. Tapi melulu random. Berlebihan belaka; saling laknat, saling binasa.

Dan di atas kasur cadas datar pinggir sungai ini, sebatang kara aku ditemani malam. Gemericik bisik irama air itu mengalir mengusik-usik. Sedari tadi pun teriak jengkerik berisik tak jera-jera. Senyala redup temaram lampu langit di atas itu, syahdu pula kian menghanyutkan perenungan. Banyak topik. Banyak hal. Kata-kata kukumpulkan segenap asa. Bak debu-debu yang lupa kubersihkan menempeli kulit tubuhku, berserakan ia mengepul dari busana belel yang setia membungkus raga ini. Sebatang rumpun kupangkas, kuserut, kutiup-tiup. Kusebulkan bahasa kalbu. Kedalaman perasaan muntahan benak-benak yang terpendam. Aku cinta hidup yang damai, ya alam. Kunyanyikan laguku kini.

Kesana kucari arahku. Kemari kurenungi jatiku. Aku ini petualang yang hobi mengembara. Kedua kaki ini rodaku. Getar gairah ini mesinku. Wahai, akulah musafir yang riang gembira. Air sawah minumku. Atap langit rumahku. Sunyi dan sepi karibku. Ya, bapa, ya bunda, terima bakti anakmu.

 

Surabaya
11 November 2009 : 22.3o

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.