Manokwari (1) – Kota Manokwari dan Ransiki

Handoko Widagdo – Solo

 

Pesawat Garuda jenis Bombardier CRJ 1000 meliuk-liuk di antara awan pagi. Sayapnya kadang mengepak halus bercanda dengan gugusan pulau-pulau yang dilewatinya. Gaya terbangnya berbeda dengan A 330 200 yang membawaku dari Jakarta ke Makassar. Air Bus A 330 terbang gagah perkasa bagai Satria Pringgondani, yang tak takut menabrak awan. Bahkan anak-anak Dewa Maruta yang harus memberi jalan kepada si bongsor Gatutkaca. Sedangkan Bombardier adalah penari Serimpi dari keraton. Ia pandai meliuk menghidar dari awan. Liukannya begitu lembut. Demikianpun saat melandas di aspal baru Bandara Sorong. Namun sayang. Si penari serimpi dari Brazil ini tidak suka angin. Pedro Gonzales, pilot asal Brazil yang menerbangkan kami terpaksa menunda kepulangan kami selama dua jam supaya si penari Serimpi tidak masuk angin. “Angin sedang besar sehingga kita tidak terbang,” demikian penjelasan Pedro Gonzales yang paham betul kelakuan Bombardier yang juga kelahiran Brazil.

Setelah singgah di Sorong, penerbangan selanjutnya adalah melanglang di atas hutan. Kelebatan hutan di sisi kanan dan birunya laut di sisi kiri adalah sorga yang dihadirkan di bawah pesawat kami. Kami merayap di atas daerah kepala burung sebelum akhirnya mendarat di Manokwari. Bandara Rendani di Manokwari tidaklah besar. Bangunannya modern, bersih dan terkelola dengan baik. Lantai satu dipakai untuk proses check in dan kedatangan, sementara lantai dua dipakai untuk lounge dan keberangkatan.

manokwari1 (1) manokwari1 (2)

Keluar dari jalan bandara kami disambut baliho besar dengan tulisan “Manokwari Kota Injil”. Tulisan ini mengingatkanku akan Aceh yang bangga menjadi Serambi Mekkah. Sisa-sisa perayaan 160 tahun Injil di Tanah Papua masih terasa di jalan-jalan. Baliho-baliho dan hiasan-hiasan masih belum diturunkan. Kehidupan beragama menjadi pilar penting dalam membangun peradaban di Manokwari, seperti halnya di Aceh.

Upaya untuk meningkatkan kebersihan tertuang dalam plakat-palat kecil bertuliskan “Dilarang Meludah Pinang Di Tempat Ini”. Plakat-plakat kecil tersebut bisa kita temukan di dinding depan restoran, hotel, bank, pertokoan dan bangunan-bangunan pemerintah. Masyarakat Manokwari memang masih memiliki kebiasaan untuk mengunyah pinang. Warna bibir yang merah dan beberapa noktah hitam di giginya membuat senyum lelaki Manokwari begitu seksi. Namun ludah pinang menjadi persoalan kebersihan yang harus ditangani.

manokwari1 (3)

Kota Manokwari tidak besar namun indah. Kota ini memiliki beberapa hotel kecil dan besar. Hotel-hotel lokal bisa ditemukan di berbagai sudut kota. Hotel Swissbel  dan Aston juga hadir di kota Manokwari. Tergantung berapa tebal kantong kita. Sayang sekali kami tak menemukan makanan khas Papua. Banyak restoran di Manokwari. Namun semuanya adalah restoran yang menyajikan menu dari luar, seperti ikan bakar Sulawesi Selatan, soto, bakso dan mie ayam Wong Jowo, dan masakan Cina. Hadir juga KFC di mall. Kepenasaranku akan kuliner lokal tak terobati.

manokwari1 (4) manokwari1 (5)

Satu-satunya makanan yang dipaksa menjadi khas Manokwari adalah Abon Gulung. Kue abon gulung diproduksi oleh Hawai Bakery. Hampir semua penumpang pesawat kami menjinjing buah tangan ini. Abon gulung bisa didapat di pusat kota, di selasar Bandara Rendani dan juga di lounge satu-satunya di bandara ini.

manokwari1 (6)

 

Manokwari Selatan

Paginya kami menyusur punggung timur Kepala Burung. Mobil mengikuti jalan beraspal hotmix mulus. Kadang kami terengah-engah mendaki di antara tikungan-tikungan di atas bukit. Kadang kami meluncur mendekat pantai yang merupakan ujung dari Samodra Pasifik. Tak banyak pemukiman yang kami temui. Meski hutannya tak lagi hutan primer, namun keindahan vegetasi masih bisa kami nikmati. Hutan-hutan di Manokwari sebagian telah ditebang pada era Orde Baru. Kami menuju ke kabupaten baru Manokwari Selatan, ke kota Ransiki.

manokwari1 (7) manokwari1 (8) manokwari1 (9) manokwari1 (10)

Ransiki dulunya adalah ibu kota kecamatan. Seiring dengan pemekaran Manokwari Selatan menjadi kabupaten –dua tahun yang lalu, Ransiki kini menjadi ibu kota kabupaten. Pemukiman di Ransiki berderet mengikuti jalan provinsi yang membelahnya dan di seputaran pasar. Bangunan yang ada di Ransiki adalah sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK), kantor Kostrad, Bank BRI dan Bank Papua, kantor pos, pasar, kantor Telkom dan tentu saja gereja. Belum ada bangunan kantor pemerintah, termasuk kantor bupati. Pelayanan kepemerintahan masih dilakukan dari rumah-rumah yang disewa sebagai kantor sementara.

manokwari1 (11) manokwari1 (12)

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.