Pejorative

Anwari Doel Arnowo

 

Pejorative kata asal bahasa Inggris(=yang merendahkan) di dalam bahasa belanda kata terjemahannya seperti bunyinya yaitu pejoratief atau kata bahasa belandanya: minachtend. Di dalam bahasa apa pasalnya tulisan ini menggunakan kata ini? Saya membaca sebuah artikel di Koran Jakarta Post yang membahas soal Valentine’s Day. Silakan tekan Ctrl + klik ENTER  http://article.wn.com/view/2015/02/14/Valentine’s_Day_for_those_who_do_not_celebrate/    dan membacanya

Saya dengan tidak bermaksud jelek atau menjelekkan tetapi mungkin saja telah terjadi bisa saya dianggap telah ikut menjelekkan. Apa? Tulisan saya masalah ini sudah ada, tertanggal 16 Februari, 2005 – sepuluh tahun yang telah lalu. Silakan buka:. http://superkoran.info/?p=679 >  Di dalam tulisan ini saya mengisahkan beberapa kisah yang menyangkut Valentine’s Day.  Juga ada di dalamnya saya kisahkan pada tahun 1969 Gereja Katholik sama sekali telah menghapuskan Saint Valentine’s Day dari Kalender Resmi perayaan hari besar Katholik.

Seperti halnya isi tulisan di dalam koran di atas, apa sih peduli kita atas masuknya budaya lain ke dalam budaya sendiri? Yang saya ingin mengingatkan adalah ada yang menuduh orang lain ingin mengubah kepercayaan kami dan adat kami, dan menyerang balik dengan cara-cara  menjelekkan dan menista. Tanpa sadar bahwa yang dibuatnya itupun menjadi senada atau sama dengan isi tuduhannya yang disampaikan kepada lawannya itu.

Bukan sedikit orang yang bukan Katholik agamanya sekarang ikut merayakan perayaan orang lain, dirayakan secara resmi oleh orang beragama Katholik, tanpa sadar bahwa perayaan itu menyangkut kepercayaan mereka yang Katholik, yang telah dikatai sebagai menyimpang. Yang saya alami sendiri: saya menikahkan anak saya di sebuah masjid dan mengundang teman-teman saya yang orang-orang asal multiras dan multi agama.

Beberapa hari sebelumnya saya diberitau bahwa pengurus masjid berkeberatan dengan kehadiran mereka, sebagian besar kulit putih asal Kanada, Australia dan Jepang serta China, dan Viet Nam, dianggap tidak baik bagi masjid. Keras juga saya melawannya, karena mereka itu kan ingin melihat tata cara adat istiadat pernikahan kaum Muslim di Indonesia. Saya sampai membantah dan kepada mereka saya menyebutkan, apa-apanya saja  yang membuat adanya rasa keberatan bila dihadiri oleh mereka ini? Bukankah mereka akan melepas sepatunya juga seperti diminta terhadap orang yang lainnya? Akhirnya saya dibolehkan mengundang mereka untuk hadir, tanpa menerangkan mengapa dibolehkan.

Memang saya telah melihat sejak lebih dari 20 tahun yang lalu bangsa kita, terutama di kota-kota besar membuat trend baru berupa banyak kebudayaan berasal dari asing, baik asal dunia Barat dan bagian dunia lain. Tiap kali silih berganti. Ada yang ke-belanda-belanda an, ke India-India an atau mungkin ada yang keKorea-Korea an.  Silakan pikir sendiri-sendiri mana yang terbaik untuk anda dan mana yang tidak. Saya anggap para pembaca ini sudah matang kepribadiannya, karena ada banyak orang dewasa yang masih kekanak-kanakan. (Maafkan aku ya anak-anak, aku menggunakan istilah ini). Apa boleh buat.

Bukankah ada pemuda yang sudah akil balik sudah dewasa dan matang, sebelum berumur lebih tua? Hal begini kan tidak bisa dicegah, karena menurut pengalaman saya mencegahnya pun akan menimbulkan polemik, yang terkadang tidak pantas ditanggapi dengan pikiran yang biasa. Sebagai kebalikannya, saya melihat di dalam pasar tradisional, seorang ibu penjual daging dan sayuran, memakai kerudung Muslim rapat, asyik melagukan dengan suara jelas tetapi tidak keras, lagu-lagu yang sedang dicoba dari sebuah toko penjualan kaset lagu-lagu. Yang dinyanyikannya adalah White Christmas, dan Silent Night. Mula-mula saya tidak memerhatikan kejadian itu tetapi setelah beberapa langkah, saya teringat kan itu bukan “konsumsi”nya, si Ibu penjual itu? Ah, saya ini  cerewet barangkali, bukankah ini Negara bebas, Negara Plural !?!!

diversity

Cucu saya sekolah di sebuah sekolah internasional. Beberapa hari yang lalu dia minta tolong kepada saya mengantarnya membeli keperluan sekolahnya, berupa kertas ini dan itu serta beberapa hiasan serta tali tali. Warna yang dipilihnya hampir semua didominasi warna merah. Saya amati lebih teliti, kok ini pilihannya seperti untuk yang segera datang: Imlek! Saya tanyakan untuk apa, jawabnya kan untuk Chinese New Year, nanti tanggal 19 Februari?? Nah benar saja, semua untuk membuat sampul-sampul Ang Pao. Karena ini memang seperti homework, ya saya biarkan dia membuatnya sendiri karena kan dia yang menerima dari gurunya instruksi cara pembuatannya? Sesungguhnya saya memang tidak tau bagaimana cara membuatnya, kan ?

Begitulah pembuatan campuran kebudayaan akan sulit dicegah, saya selalu menghindarkan diri menjadi oposan terhadap pluralisme. Meskipun anak saya tidak ada yang menikah dengan orang bukan Wanga Negara Indonesia, tetapi kalau saja dulu terjadi, saya juga tidak akan menjadi oposan. Kepercayaan agamapun saya juga tidak menentang, apapun itu. Siap mental seperti itu terjadi, tetapi tidak terpakai, karena mereka semua berpasangan dengan anak bangsa sendiri. Dengan kondisi seperti ini, saya yang plural, saya merasa mendapat anugrah karena berpikiran plural. Bebas perasaan tidak sesuai ini dan itu. Tiada gejolak. Misalnya saja saya tidak bersikap seperti demikian, maka akan banyak benturan budaya (cultural shock) saya akan mengalaminya

Di dalam batin, saya juga tidak akan keberatan apapun terhadap komunisme sekalipun. Komunisme kan tidak berTuhan? Sedangkan saya kan percaya kepada Allah, pencipta Planet Bumi dan seluruh isinya. Itu amat saya percayai 100%, karena saya belum bisa mendefinisikan dengan tepat dan kekal serta berkelanjutan apa Allah itu, apa Tuhan itu, apa Sang Hyang Widi dan lain-lainnya. Semua Maha Besar dan Maha Agung dan Maha Tidak Saya Ketaui, pada saat ini. Masih terlalu banyak yang saya tidak mengetaui ciptaannya seperti: Milky Way (Bima Sakti), gravitasi, Black Hole, penciptaan semut, tungau dan Hippopotanus. Binatang yang pernah saya lihat, katanya, sekarang pun jumlahnya yang kita kenali hanya kurang dari setengahnya dari yang sekarang, habitat hidupnya di bawah air. Susunan tubuh kita serta bagian-bagiannya yang lain masih banyak yang misteri.

Tuhan Maha Besar!

 

Anwari Doel Arnowo

14 Februari, 2015

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.