Dunia Kedua – The Sequel (4 – Selesai)

Anik

 

Artikel sebelumnya:

Dunia Kedua – The Sequel (1)

Dunia Kedua – The Sequel (2)

Dunia Kedua  The Sequel (3)

 

6 Bulan kemudian…

Tok… Tok… Aku mendengar pintu kamar diketuk. Sekeliling kamarku kulihat masih gelap. Jendela yang lupa ditutupi dengan korden juga masih terlihat hitam kelam.

“Dinda.. Dinda.” Terdengar suara Elsa. Kunyalakan lampu. Kulihat masih pukul 23.50.

“Ada apa El?”

“Aku butuh bantuanmu. Cepat buka pintu!” Kubukakan pintu untuknya.

“Bantuan apa?” tanyaku kemudian.

“Aku harus mengambil buku di kos temanku. Temani aku ya! Aku butuh buku itu untuk aku pelajari secepatnya.”

“Ha? Kenapa malam begini? Kenapa tidak dari tadi sore?”

“Aku lupa Din, ayolah tolong aku!” Dia memasang wajah yang patut untuk dikasihani.

“Ya sudah. Sebentar aku ambil jaket.”

Tak lama kemudian aku sudah berada di depan kos. Udara malang sangat menusuk tulangku. Tanganku berulang kali kugosok-gosokkan untuk menghangatkan. Tiba-tiba Elsa berlari meninggalkanku.

“Elsa.. Elsa..” Dia tetap berlari dan tak menghiraukan teriakanku. Aku ketakutan. Apa yang terjadi? Kucoba berlari mengejarnya namun bayangannya sudah tak bisa kulihat lagi. Kegelisahan menyusup perlahan. Kedinginan yang semula menusuk kini tak terasa sama sekali. Badanku berkeringat setelah melihat sekeliling begitu sepi. Hanya ada satu dua kendaraan yang lewat. Aku berusaha menenangkan diri dan berlari kembali ke kosku meskipun sudah jauh. Tiba-tiba ada seorang pria berpakaian serba hitam menghadangku. Aku gemetar. Trotoar yang sangat gelap membuat aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Mulutku terbungkam serasa tak bisa teriak, aku menghindar dan berlari meninggalkannya. Namun, tanganku dengan cepat diraih oleh dia.

“Uh… uh…” Aku tak bisa berkata apa-apa. Nafasku terengah-engah, berusaha melepaskan genggamannya namun kekuatannya terlalu kuat. Dengan cepat dia memelukku. Aku lebih panik lagi. Aku menginjak kakinya. Aku berontak melepas pelukannya dan terdengar suara tangisanku sangat keras.

“Selamat ulang tahun Mbak Dinda.” Deg. Jantungku berdegup lebih kencang lagi. Suara itu aku sangat mengenalnya. Aku lepaskan pelukannya dan kupandangi wajahnya yang tertutupi oleh kegelapan malam.

“Jojo…” Panggilku dengan bercucuran air mata.

“Iya Mbak, aku Jojo.”

Aku segera memeluknya erat-erat. “Aku merindukanmu, Jo.”

“Aku juga rindu kamu, Mbak.”

“Terima kasih. Kamu hadiah terindah di ulang tahunku.” Aku melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mataku dengan jemarinya. Tangannya terasa dingin. Dia menggenggam erat tanganku, menuntunku kembali ke kos.

“Mbak…” Panggil Jojo di depan gerbang kosku.

“Iya Jo.”

“Aku punya kado buatmu.”

“Apa?” Aku mengerutkan kening. Dia menggapai tanganku dan mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah benda mungil dia lingkarkan di jari manisku.

“Ha? Apa ini Jo?”

“Dariku untuk Mbak Dinda, ini juga perintah dari ayah dan ibuku.”

“Mereka tahu?”

“Aku memberitahu mereka sebelum datang ke sini. Mbak Dinda memang wanita yang tepat untukku.’

“Jo..” Bibirku gemetar menyebut namanya. Aku belum berhenti meneteskan air mata. Tangisan ini bukan karena kesedihan, tapi sebuah kebahagiaan.

“Dinda, aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu.” Aku berhambur ke pelukannya.

“Aku akan kuliah di sini menemani dan menjagamu, Sayang.” Aku bahagia mendengarnya.

Malam semakin pekat dan dingin. Namun, berada di pelukannya aku merasakan kenyamanan yang selama ini kurindukan.

“Aku percayakan hati suci ini kepadamu, Sayang.”

 

SEKIAN

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.