Harga Karet Hanya Menguat Tipis pada Semester Pertama 2015

Agus Benzaenuri

 

Permasalahan hutang Yunani telah terpecahkan untuk sementara dan optimism terhadap program QE ECB cenderung mendorong harga karet dan pasar komoditas lainnya. Tapi, tampaknya pertumbuhan tersebut cenderung terbatas karena permintaan dan penawaran belum mencapai level seimbang sehingga cenderung menahan harga komoditas karet.

IRSG memperkirakan bahwa harga karet alam berada pada kisaran USD 2,50 untuk beberapa tahun ke depan dan kemudian akan turun menjadi sekitar US $ 2,00 setelah itu, sedangkan Bank Dunia menetapkan karet akan mencapai USD 2,40 per kg pada tahun 2015 dan USD 2,44 per kg pada tahun 2016. Tahun lalu, karet sempat mencatatkan harga terendah dibawah USD 1,5 per kg.

Pada Jumat lalu (21/2), harga karet pada bursa TCOM sebesar 221,40 Yen / kg (USD 1.89), lebih rendah 0,36% dari penutupan sebelumnya. Namun, dalam jangka panjang secara teknikal sesuai dengan grafik MACD memiliki peluang untuk naik ke level resisten pertama di 225 poin untuk minggu ini dan 250 poin di bulan depan.

rubber-chart (1) rubber-chart (2)

Faktor fundamental yang mempengaruhi harga karet adalah sisi penawaran dan permintaan. Pada tahun lalu, hingga kuartal ketiga, sisi permintaan masih lebih tinggi dari penawaran dengan jumlah konsumsi karet alam sebesar 8.903 ton, sementara sisi produksi sebesar 8.725 ton. Perbedaan sekitar 178 ton tersebut cenderung membuat kenaikan harga karet sejak akhir tahun lalu. Meskipun terjadi kekurangan permintaan selama tiga kuartal 2014 tersebut, secara historis, pertumbuhan produksi karet alam lebih besar dengan angka pertumbuhan 4% (CAGR 2008-13) atau lebih tinggi dibandingkan dibandingkan konsumsi sebesar 2,7%. Pada tahun ini, konsumsi karet diharapkan akan meningkatkan dengan 4,3% per tahun.

 

Faktor Lain yang Mempengaruhi Harga Karet

Bank Sentral Eropa (ECB) pada 22 Januari berencana menyuntikkan stimulus melalui QE setidaknya € 11 triliun dimulai dari Maret mendatang sampai September 2016, atau bahkan lebih lama. Program tersebut akan membeli kembali obligasi senilai € 60 miliar setiap bulan dari bank untuk meningkatkan likuiditas di pasar. Dengan program QE yang cenderung mendorong penguatan Euro terhadap Dolar akan mendorong pertukaran komoditas nanti. Namun, ada potensi keterlambatan untuk mengambil tindakan tersebut. Dalam pertemuannya pada bulan Februari ini, kepala ekonom ECB Peter Praet memperingatkan risiko dari penundaan program QE tersebut mungkin lebih tinggi, sehingga sepertinya program tersebut tetap akan dilaksanakan.

Masalah Yunani setidaknya telah dipecahkan untuk sementara waktu. ECB dan IMF membuat kesepakatan dengan pemerintah Yunani memperbarui utang Yunani selama empat bulan depan. Namun, Yunani membutuhkan pemecahan masalah setelahnya. Setidaknya volatilitas pasar komoditas dan ekuitas mereda akibat isu Yunani mengancam keluar dari Uni Eropa beberapa waktu lalu. Ini adalah kesempatan untuk mendorong harga komoditas sepanjang dua atau tiga bulan kedepan.

Bagaimana dengan masalah the Fed? Sepertinya masih perlu satu tahun untuk menormalisasi moneter AS. The Fed kemungkinan akan menaikkan suku setelah pertumbuhan ekonomi membaik dengan target inflasi AS mencapai 2%, mungkin tahun depan. GDB AS hanya meningkat 2,6% pada atau di bawah yang diharapkan dari 3,0% dan membutuhkan lebih banyak stimulus dari The Fed. Ketidakpastian masalah Fed pantas mengurangi sampai semester berikutnya.

Ekonomi Rusia jatuh dengan jatuhnya Rubble terhadap Dollar. Masalah ini masih bisa membayangi pergerakan saham dan harga komoditas.

China adalah salah satu dari konsumsi karet terbesar di dunia. PDB China diproyeksikan meningkatkan pada tahun ini sebesar 7,5% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,3% yang merupakan PDB terendah sejak tahun 1990, sehingga ini merupakan sinyalemen positif untuk harga komoditas seperti karet. Di sisi lain, PMI manufaktur China terkoreksi pada Januari menunjukkan bahwa permintaan di sektor manufaktur masih terkontraksi.

Harga minyak WTI rebound di bulan ini. Minyak WTI telah menyentuh harga terendah di akhir Januari, yang berada di bawah USD 50 per barel, sekarang sudah rebound pada kisaran USD 50 per barel. Ini adalah sentimen positif bagi pasar komoditas global. Namun, hal itu masih akan berada di level USD 50 per barel pada tahun ini.

Bencana banjir yang terjadi di Thailand selatan dan Malaysia bisa menjadi sinyal positif karena pasokan karet akan berkurang, sehingga harga karet akan cenderung menguat.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.