Nalar Tony Abbott

Juwandi Ahmad

 

Sebagai Perdana Menteri, Abbott perlu dan bahkan harus melakukan segala cara dan upaya agar warganya terhindar dari hukuman mati. Justru bila Abbott tidak melakukan hal itu, tidak berusaha secara maksimal ia tidak layak disebut sebagai Perdana Menteri. Karena itu, bahkan ia merasa pantas untuk mengungkit, mengundat-undat bantuan kemanusiaan yang diberikan pemerintah Australia pada saat gempa dan tsunami Aceh.

Barangkali Abbott berpikir bahwa pemerintahnya telah membantu Aceh dengan alasan kemanusiaan, sehingga ia pikir masuk akal bila Jokowi juga mengampuni warganya dengan alasan kemanusiaan. Hanya saja Abbott tidak menyadari bahwa bantuan kemanusiaan berbeda dengan mengampuni suatu hukuman, dan bencana sungguh beda dengan kejahatan.

tony-abbott

Namun tidaklah sulit memahami kejiwaan seorang Abbott. Secara psikologis, dalam keadaan yang sulit, membutuhkan sesuatu, seseorang akan cenderung mudah untuk mengingat kebaikan yang pernah ia lakukan pada orang lain, dan itu mendorongnya untuk berharap, meminta, memohon kebaikan pula. Bila sudah meminta, memohon, dan melakukan beragam cara, namun seseorang yang kepadanya ia menaruh kebaikan tidak memenuhinya, maka tidak ada cara mengekspresikan kejengkelan dan kekecewaan yang lebih memuaskan selain mengungkit kebaikan yang pernah dilakukannya.

Dalam suatu hubungan, balas budi adalah hal yang lumrah, baik, mulia, dan seringkali berjalan begitu saja, tanpa ada permintaan ataupun tuntutan. Dan salah satu hal yang menyebabkan timbal balik, hal ikhwal balas budi sulit terjadi, susah untuk dipenuhi adalah karena seseorang meminta, menuntut sesuatu yang tidak sebanding, yang tidak serupa dengan apa yang pernah diberikan kepada seseorang atau fihak lain yang kepadanya ia pernah menanam kebaikan. Itulah yang terjadi pada Abbott.

Perkara yang berkembang kemudian bukan lagi soal tidak menghormati sistem hukum negara lain, dan bukan pula setuju atau tidak setuju hukuman mati. Perkaranya adalah bahwa Abbott menuntut balas budi yang tidak sebanding, tidak serupa. Kalau saja, misalnya Abbott mengungkit tentang kebaikan pemerintahnya yang pernah mengampuni warga Indonesia yang dijatuhi hukuman mati, dan lalu mendesak pemerintah Indonesia agar juga mengampuni warga negaranya yang dijatuhi hukuman mati, itu baru fair, serupa, sebanding, masuk akal, pantas untuk diungkit, diundat-undat.

Bahwa kritik terhadap Abbott juga dilakukan warga Austalia, hal itu menunjukkan bahwa ada ketidakjejegan dengan nalar Abbott. Katakanlah misalnya, Presiden Republik Indonesia mengungkit-ungkit bantuan kemanusiaan pada suatu negara dengan maksud agar warga Indonesia diampuni dari hukuman mati, saya yakin warga Indonesia pun juga akan mengkritiknya. Sekali lagi, Abbott tidak menyadari bahwa bantuan kemanusiaan berbeda dengan mengampuni suatu hukuman, dan bencana sungguh beda dengan kejahatan.

Menarik juga untuk melihat perkara ini dalam konteks yang lebih sempit, yaitu perkara keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai suatu keikhlasan tidak berhenti pada saat seseorang memberi dan atau melakukan suatu kebaikan. Seperti halnya dengan kesabaran, keikhlasan juga melewati ujian waktu. Apa yang disebut sebagai pemberian yang benar-benar tulus ikhlas dapat berubah, bergeser nilai dan maknanya karena situasi. Dulu memang ikhlas, tapi di kemudian hari bisa saja berubah. Itulah mengapa ada banyak orang merasa menyesal telah melakukan suatu kebaikan, yang dapat diibaratkan seperti seseorang yang membakar kebun anggurnya sendiri. Suatu kerugian berlipat ganda.

Menarik bahwa keikhlasan lebih mungkin terjaga bila kita memberi dan atau berbuat baik kepada orang-orang yang tidak kita kenal, yang kecil kemungkinan kita dapat bertemu lagi dan atau menemuinya. Adapun kebaikan kepada orang yang kita kenal, keikhlasannya masih harus diuji oleh waktu, dihadapkan pada situasi.

Bernalar batin yang tulus, ikhlas, terbebas waktu, seringkali tidak mudah. Belajar ikhlas adalah belajar menjadi ruang kosong dimana setan tidak dapat menaruh sesuatupun di dalamnya. Karena itulah anjurannya, bila tangan kananmu memberi, hendaknya tangan kirimu tidak mengetahuinya. Berbuat baik dan berlaku ikhlas, membuat hidup lebih berguna, lebih bermakna. Dan Rahmat-Nya sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan tentu saja: ada banyak bingkisan dari Tuhan.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *