Kebanjiran Lagi dan Lagi

Sasayu – Jakarta

 

Halo semua para penduduk Jakarta. Bagaimana nasib rumah kalian? Apakah turut kebanjiran atau aman-aman saja terbebas dari banjir? Minggu lalu saya ngepost di wall FB dan status BBM menyatakan kekesalan dan kemarahan saya tentang lagi-lagi banjir Jakarta.

Seorang teman saya merespon, “Welcome to Jakarta…hahaha”, teman-teman lainnya memberikan hiburan (maaf yang menurut saya amat sangat klise) “Yang sabar ya…yuk kita turut mendoakan kinerja pemerintah mengatasi banjir”. Ada juga yang menanyakan, “Sa, ini banjir pertama loe ya?” Akhirnya saya mendapat kesan individual yang kurang bersyukur dan kurang bisa menerima keadaan. Mungkin lagi ada yang berpendapat bahwa hidup saya selalu enak dan nyaman-nyaman aja or dianggap kacang lupa kulitnya karena cukup lama tinggal di luar negeri…Fine, semua orang bebas berpendapat, it’s your opinion and I appreciate it. Saya merasa perlu sedikit mengklarifikasi pernyataan saya itu.

Pertama, saya lahir dan besar di daerah banjir, jadi TIDAK, ini bukan banjir pertama saya, ini banjir mungkin sudah keempat atau kelima kalinya saya alami. Dan dari sebagian besar banjir itu, rumah kami hampir selalu kemasukan air. Setiap kali daerah Grogol banjir, hampir pasti pemandangan depan rumah saya udah seperti Venice, bedanya bukan Gondola dengan Mas-mas Itali ganteng yang lewat, tapi gerobak sampah beserta tumpukan sampah, tikus dan kelabang yang lewat. Terus kenapa ga pindah aja sih? Melihat banjir yang kali ini, sepertinya kami akan berusaha mencapai opsi itu, bahkan melihat kemungkinan untuk pindah dari Jakarta.

Kedua, hidup di luar negeri tidak menjamin bebas banjir gitu. Itu komentar yang saya lontarkan pertama kali berkunjung ke Venice yang pas lagi musim hujan dan banjir, “Aje gile, jauh-jauh ke sini yang saya liat banjir lageee”. Atau bagaimana buat orang-orang di US yang terkena bencana alam Badai Katrina dan seorang kenalan yang waktu itu sedang studi S3 di Bangkok dan juga mengalami kebanjiran.

Yang jadi permasalahan, banjir di Jakarta itu bukan NATURAL DISASTER, saya tekankan lagi, BANJIR JAKARTA BUKAN BENCANA ALAM. Saya mengerti banjir Jakarta itu memang masalah yang super kompleks yang meliputi padatnya penduduk, banyaknya rumah-rumah liar, ketidakbecusan pemerintah selamapuluhan tahun mengurus tata kota (or bahasa kerennya urban planning), dan ketidakdisiplinan kita sebagai masyarakat untuk menjaga alam dan membuang sampah pada tempatnya.

Saya bukan mau mencari kambing hitam, atau memojokkan Ahok sebagai Gubernur Jakarta yang menurut saya sudah berusaha amat keras mencegah banjir. Intinya, merupakan suatu kebodohan massal kalau puluhan tahun ke depan kita harus mengalami banjir seperti ini. Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali, masa kita mau kebanjiran dengan alasan yang sama puluhan kali (or mungkin kita lebih bodoh dari keledai??).

banjir-jakarta (1)

Ketiga, saya bukannya meragukan kuasa doa, cuma salah satu yang membuat doa bisa terjadi itu juga karena USAHA. Dan semakin banyak orang yang berusaha (workforce), semakin cepat selesai masalah yang dihadapi. Itu basic common sense saja kan. Dan usaha yang saya bilang itu bukan bikin posko kebanjiran, minta donasi dan bagi-bagi makanan pas banjirnya udah datang. Buat saya itu TIDAK MENYELESAIKAN AKAR MASALAH. Back sound statement saya ini akan mungkin akan disambut dengan hujatan dan kecaman,”Aduh kamu kok jahat banget sih, kasian sekali kan rumah mereka yang sudah kerendam, terutama orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.” “Kamu harus punya hati untuk memberi, kita diberkati untuk memberkati orang lain.” Lho…lho…tunggu dulu, bukan berarti saya hanya ngomel-ngomel, komplain dan tidak mau memberi solusi.

Saya ga punya akses yang detil dan akurat tentang kerugian dan pengeluaran yang diakibatkan gara-gara banjir Jakarta, yang pasti TRILYUNAN. Ga usah jauh-jauh ngitungin kerugian trilyunan, sesama empunya restoran yang kebanjiran akan mengeluh hal yang sama, pesanan yang dibatalkan, kerugian material karena listrik mati dan bahan-bahan tidak fresh lagi, etc. Belum lagi korban jiwa dan kesehatan. Contoh paling nyatanya adalah si Mbok yang tangan kanannya keseleo gara-gara mau mengganjal kasur. Mau sampai kapan sih kita begini terus? Terlalu banyak ketidakpastian yang membuat roda perekonomian bergulir tidak maksimal.

Bukannya saya tidak punya hati untuk menolong orang-orang yang kesusahan, membagi-bagikan makanan dan pertolongan pertama waktu kebanjiran. Pernah terpikir tidak sih, sebagian besar orang yang ditolong itu kebanyakan orang yang tinggal di bantaran kali, dan setiap harinya membuang sampah di kali itu. Manusia-manusia yang kalau mau direlokasi oleh Ahok, malah menghujat namanya dengan alasan tidak berperikemanusiaan. Dilihat dari logika, ngapain saya memberikan pertolongan ke salah satu ‘kriminal’ yang menyebabkan masalah banjir itu sendiri . Akhirnya kita hanya memberikan QUICKFIX dan mendapat ‘ilusi’ kepuasan batin karena sudah menolong.

Please, pendapat saya ini bukan berarti saya diskriminatif terhadap kaum marjinal. Dan bukan berarti saya melarang kalian berbuat baik lho, saya mendukung perbuatan baik kalian, cuma segala sesuatu yang baik belum tentu tepat dan benar. Selain itu, cek diri masing-masing juga, apakah kita sudah membuang sampah pada tempatnya, apakah kalian benar-benar memasukkan jenis sampah sesuai dengan gambar yang tertera di tempat sampah? Itupun kalau saya memperhatikan tukang sampah yang setiap hari mengambil sampah, walaupun sampah sudah disortir, tetap saja dicampur dan ditumpuk-tumpuk…lha mubasir donk!

Salah satu saran dan solusi yang mungkin cukup efektif adalah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah(PLTS), seperti yang sudah sukses dijalankan di Swedia. Sangat utopia sekali dan terdengar tidak mungkin, cuma Negara Swedia bisa mengolah kembali 99% sampah mereka, sampai-sampai dikabarkan kehabisan sampah dan mengimpor sampah dari negara tetangga untuk dihasilkan menjadi tenaga listrik.

Ternyata ide ini sudah tercetus oleh Pak Ridwan Kamil, tetapi banyak ditentang oleh para ahli lingkungan Indonesia dengan alasan tingginya biaya membangun incinerator dan ancaman gas buangan dioxin yang membahayakan kesehatan. Well, setidaknya dana-dana CSR dari big corporates sepertinya lebih baik digunakan untuk projek-projek begini sih, daripada sekedar buat bagi-bagi flooding aids yang hanya quick fix tadi. Mungkin kalau perlu ditambahkan dari poin saya, bakal banyak kepentingan dari pihak “pengelola”(preman) sampah yang diganggu. OK, sepertinya opsi yang high-tech ini bisa dibilang masih jauh untuk direalisasikan.

Opsi yang lebih feasible apa donk? Bagaimana kalau pemerintah menggalakkan gerakan Bank Sampah secara nasional? (lengkapnya bisa dibaca di sini). Gerakan ini sebenarnya sudah berjalan di berbagai kelurahan di seluruh tanah air, sayangnya kok sepertinya masih kurang di Jakarta. Gerakan ini memberikan insentif berupa uang kepada warga yang mengikuti program. Sampah-sampah organiknya bisa diolah menjadi pupuk organik yang bisa dipakai warga bercocoktanam atau dijual. Sepertinya harus ngomporin Pak Lurah untuk mulai program ini. Saya sendiri juga lagi mau belajar bikin pupuk organik dan bercocok tanam.

banjir-jakarta (2)

Buat kalian yang lebih ga mau repot lagi, hal terkecil yang bisa dilakukan adalah BRING YOUR OWN BAG kalau belanja. Ternyata Indonesia penghasil sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah China (bisa baca di sini). Dan kita take it for granted sekali belanja di supermarket, udah dibungkusin sama Mba atau Mas Pramuniaga dengan kantong plastik yang gratis.

Maaf sekali kalau saya harus membandingkan again Indonesia dengan sistem di negara-negara maju. Biasanya kantong plastik di supermarket-supermarket di negara-negara Eropa harus bayar, sehingga membuat pembeli berpikir dua kali untuk terus membeli kantong plastik pembungkus. Sistem ini setidaknya membatasi sampah plastik yang notabene dibuat dari minyak bumi (duit lagi kan..haha). Lebih baik lagi kalau pemerintah dan pemilik toko waralaba mulai menetapkan harga dan memberi insentif buat pembeli yang membawa keranjang sendiri.

banjir-jakarta (3)

Ok, mungkin sekian dulu omelan dan curhat saya yang semoga memberikan sedikit wawasan tentang underlying problems dan ide-ide yang bisa dijadikan solusi untuk mengatasi banjir. Mungkin teman-teman punya pendapat lain yang bisa didiskusikan bersama-sama untuk diaplikasikan?

 

 

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.