Anin dan Kawan Vietnam-nya

Djenar Lonthang Sumirang

 

Sejarah pernah mencatat hubungan mesra Indonesia dan Vietnam. Tan Malaka-Ho Chi minh. Sukarno-Ho Chi Minh. Dan yang paling segar, Anin-kawan Vietnam.

Sekira 12 tahun lalu di Semarang, kawanku, panggil saja Gundul, anak kampung Layur-Semarang Utara, yang kuliah di Fakultas Sastra-Undip, bercerita tentang helmnya yang diketok polisi.

Suatu pagi, ia berencana ke Ungaran, kota kecil sebelah selatan Semarang. Sesampai di lampu merah Soto Bangkong – Sukun, Banyumanik, ia dihentikan polisi lalu lintas yang sedang berjaga di pinggir jalan. Tanpa ba-bi-bu, “praak!”, helm si Gundul diketok si Polisi.

“Apa salah saya Pak?,” tanya Gundul keheranan.

“Turun! Lepas helm kamu! Liat stikernya itu apa?,” bentak si Polantas. Gundul pun meminggirkan motor dan melakukan apa yang diperintahkan Polantas tadi. Ternyata, stiker bergambar palu-arit berwarna kuning, berlatar merah, menempel lekat di helmnya.

Kisah palu-arit masih muncul lagi di Semarang. Saat pembuatan film Gie, sekira 2005, aparat keamanan setempat memantau ketat jumlah bendera palu-arit yang dicetak. Bendera palu-arit ini digunakan dalam salah satu adegan yang menggambarkan pawai Partai Komunis Indonesia tahun 1960-an.

Cerita serupa berulang. Spektrum lebih besar. Anin, panggilan akrab Anindya Kusuma Putri, yang baru saja terpilih sebagai Puteri Indonesia 2015, meraup banyak tangggapan sinis lantaran ia memakai kaos: palu-arit.

Gadis cantik asal Semarang ini pun meng-klarifikasi. Kaos itu didapatnya dari rekan Vietnam dalam organisasi Association Internasionale et Studiant Sociale et Economic Comerciale (AIESEC) yang ia geluti saat kuliah.

“Setahun yang lalu, saat dia belum jadi apa-apa, foto ini tak banyak yang hirau ketika diunggah di Instagram. Dan apa pula salahnya palu arit? Kenapa masih sensitif tentang simbol komunis ini?,” ujar T. Subekso, pegiat kebudayaan dari Semarang.

AIESEC ini berdiri sejak 1948 dan kini tersebar ke 110 negara dan 1800 Universitas, dengan 64.000 anggota dan 800.000 alumni. Di Indonesia AIESEC ada diberbagai kota seperti Bandung, Surabaya, Padang, Jakarta, Bogor, Jogjakarta, dan tentunya Semarang.

Mahasiswi planologi Universitas Diponegoro ini tak hanya aktif di AISEC, namun juga pernah terpilih menjadi salah satu dari 28 duta muda Indonesia dalam The 41st Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program 2014 (SSEAYP), dimana pada tahun 2014 lalu, kapal Nippon Maru berlayar dari Jepang kemudian mengunjungi Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Indonesia, dan kembali ke Jepang. Selama mengikuti program ini, Anin terpilih sebagai Chairman of Solidarity Group Sub Committee yang bertanggung jawab memimpin 33 duta muda dari 11 negara untuk menciptakan suatu kegiatan yang kreatif dan bersolidaritas tinggi untuk seluruh peserta SSEAYP.

anin-jepang

Dari klarifikasi Anin itu, terbaca jelas, bahwa ia sadar sudah menjadi tokoh publik yang paham arti hubungan antar bangsa. Dan, tak banyak orang Indonesia yang semacam Anin ini.

Apa salahnya mengenakan kaos bergambar palu-arit? Apa salahnya punya sahabat dari negara komunis?

Indonesia dan Vietnam, pernah memiliki sejarah dalam hubungan bilateral yang menyejukkan. Hubungan mesra ini terbentuk di masa imperialisme masih merajalela di Asia Tenggara. Tan Malaka dan Sukarno, berkarib dengan bapak bangsa Vietnam, Ho Chi Minh, atau Paman Ho.

Tan Malaka suatu kali pernah bercerita kepada Shigetada Nishijima, tangan kanan Laksamana Maeda yang terkenal di detik-detik kemerdekaan RI itu, tentang persahabatannya dengan Paman Ho. Tan kagum dengan teknik Ho dalam mengorganisir rakyat Vietnam melawan Perancis.

ho-chi-minh

Namun, Tan tak dapat menerapkannya di Indonesia, karena tak ada kader yang kuat, sebagaimana dimiliki Ho di Vietnam. Pertemanan tokoh nasionalis ini terpupuk saat mereka sama-sama tinggal di Moscow. Mereka aktif mempelajari perlawanan terhadap kolonialisme dan aktif dalam Komintern (Komunisme Internasional).

Paman Ho yang sahaja ini, bukan hanya dikenal sebagai nasionalis tulen yang ingin mengusir penjajah dari negerinya, namun ia ingin Asia Tenggara yang terbebas dari kolonialisme dan imperialisme. November 1945, Ho Chi Minh berkirim surat kepada pemerintah Indonesia tentang keinginannya membangun persatuan antar negara Asia Tenggara dalam mengusir kolonialisme.

Surat itu diterima wakil presiden Bung Hatta dan diteruskan kepada Sjahrir, perdana menteri. Ajakan Ho ditolak Sjahrir. Alasan Sjahrir, perjuangan Vietnam melawan Perancis berbeda dengan Indonesia melawan Belanda. Sjahrir, yang dikenal anti komunis ini, memandang sia-sia kerjasama ini.

Sejarah kembali berbicara. Ide Ho dalam membangun solidaritas bangsa anti imperialisme, berbanding lurus dengan ide Sukarno yang melaksanakan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Sukarno bahkan memberi tempat tersendiri bagi Vietnam.

“…dimana rantai imperialisme itu paling lemah? Di Indonesia dan Vietnam,” tulis Bung Besar dalam bukunya, Sarinah.

Empat tahun sesudah KAA ini, Sukarno mengusulkan kepada Universitas Padjajaran di bandung untuk memberi Ho Chi Minh gelar honoris causa.

soekarno

Di akhir masa kekuasaannya, tahun 1965, masih ada satu pembelaan dari Sukarno kepada Kawan Vietnam-nya ini. Pemerintah menyelenggarakan Konferensi Internasional Anti Pangkalan Militer Asing. Salah satu agendanya adalah agresi militer Amerika ke Vietnam.

Sahabat hingga kematian menjemput. 1969, Paman Ho mendahului wafat. Dan setahun kemudian, Sukarno pun menyusulnya.*

 

Sumber foto:

Foto Anin: http://www.hmtpundip.com/2015/02/anindya-kusuma-putri-cantik-muda-dan.html

Foto Sukarno dan Ho Chi Minh: http://www.geheugenvannederland.nl

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.