Ketika Fian Belajar tentang Kehilangan

Yeni Suryasusanti

 

Tadi malam atas permintaan darurat saya, suami membeli pisang sunpride. Karena belinya di minimarket, pilihan tidak banyak. Akhirnya hanya membeli 3 buah saja yang matangnya sudah pas dan siap dimakan. Saya sebut darurat, karena Ifan berkata BAB-nya nggak enak, meski belum terhitung diare. Pisang adalah buah alami yang bisa membantu menormalkan.

Yang sedikit itu memang lebih enak jadi rebutan dibandingkan jika membeli banyak. Suami saya makan satu, dan sepulang sekolah Ifan juga memakan satu. Fian yang matanya mulai mengantuk menunggu waktu mengaji ba’da ashar melihat abangnya makan pisang, timbul keinginannya juga. Fian pun mengambil pisang yang tinggal satu tersebut, dan membukanya. Mungkin karena mengantuk, pisang yang sudah dibuka kulitnya tergelincir dari genggamannya dan jatuh ke lantai.

Ifan segera menghalangi adiknya yang mau mengambil dan tetap memakan pisang tersebut.
“Jangan Fian, udah jatuh ke lantai, kotor, nanti Fian sakit perut!” larang Ifan.
“Tapi belum 5 menit, bangggg!” rengek Fian :D

Ifan tetap berkeras melarang, dan akhirnya Fian menangis.

Kejadian tersebut terjadi saat saya sedang di kamar mandi. Mendengar tangisan Fian, saya bertanya pada Ifan ada apa. Ifan menjelaskan segalanya, Fian makin kencang tangisnya. Antara geli dan iba, saya berkata pada Fian, “Kalau Fian mau berhenti menangis dulu, bunda akan keluar dan peluk Fian.”

Setelah beberapa kali kalimat itu saya ucapkan, dengan usaha yang keras Fian mengendalikan tangisnya sejenak. Metode ini memang saya gunakan untuk kejadian yang tidak gawat sejak dulu saya mendidik Ifan, karena saya ingin mereka terbiasa mengendalikan emosi sejak dini, dan tidak memanfaatkan tangisan utk meraih simpati. Meski jika sedih saat bercerita, mereka tetap boleh menangis kembali.

Dengan Ifan dulu, sangat banyak moment saya untuk terlibat percakapan filosofis, karena memang Ifan bukan anak yang aktif secara fisik, tidak terlalu suka bermain dengan teman sebaya di lingkungan rumah. Menurut Ifan kata-kata mereka cenderung kasar dan tidak sopan. Dengan Fian, moment percakapan filosofis jarang terjadi, karena karakter Fian yang bertolak belakang dengan Ifan, dia suka bermain bersama anak-anak tetangga, dan dengan demikian memangkas waktunya bersama saya.

Saya pun memeluk Fian.
“Fian pengen makan pisang, Bun,” airmatanya kembali mengalir.
“Tapi kan pisangnya tadi jatuh kena lantai.”
“Kan belum 5 menit…”

(Duh ini efek pergaulan dgn teman-teman nih pastinya karena tidak ada istilah belum 5 menit dalam pengajaran saya).

“Kira-kira, kalau jatuh kena lantai walau belum 5 menit kumannya udah nempel di pisang belum ya?” tanya saya sambil tersenyum.
“Ya udah sih…” jawab Fian masih dengan berlinang airmata.
“Fian mau makan pisang yang udah ada kumannya? Silakan aja, nanti yang merasakan sakit perutnya juga Fian…” kata saya ringan sambil tetap tersenyum.
“Nggak mauuuu…” Tangis Fian
“Ya sudah, bagus kalo gitu…”
“Tapi Fian pengen pisang…”
“Pisang goreng mau? Ada pisang tanduk tuh nanti dibikinin,” bujuk saya.
“Nggak mau, maunya pisang kayak tadiiii (sunpride)…”
“Ya sudah, sore ini kan memang bunda mau ke Carrefour, nanti bunda beli ya…”

Fian masih juga menangis. Memang sih, saya mengerti bagaimana kesalnya, pisang yang sudah di tangan dan hampir masuk ke mulut jatuh… Sakitnya tuh disiniiii *tunjuk tenggorokan…

Akhirnya saya berkata sambil tetap memeluknya,
“Allah mau Fian belajar tentang kehilangan. Bagaimana sedihnya kehilangan sesuatu yang ada di genggaman. Karena semua itu punya Allah, Nak, dan Allah bisa mengambil nikmatnya kapan saja. Dalam hidup Fian nanti, bukan hanya pisang yang mungkin akan hilang. Banyak hal, sayang… Tapi percayalah Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Tidak harus sama persis, tapi pasti lebih baik menurut Allah. Sekarang Fian kehilangan pisang karena jatuh, tapi Insha Allah akan diganti dengan pisang lain lebih baik nanti sore bunda beli…”

Tangis Fian mulai reda, tinggal sesenggukan.
“Ingat bunda pernah pernah cerita kalau bunda sedih waktu kakak Nada meninggal?” tanya saya sambil mengusap rambutnya.

Fian mengangguk.
“Allah juga mau bunda belajar tentang kehilangan. Tapi, Allah juga memberi ganti dengan kelahiran Fian. Meski Fian anak laki-laki bukan anak perempuan seperti kakak Nada, tapi Bunda bahagia Fian ada. Nah, begitu juga dgn pisang, nanti Allah beri gantinya untuk Fian lewat bunda.”
“Tapi kalau di Carrefour nggak ada gimana?”
“Kalau perlu, kita ke Total Buah. Bunda janji. Masih percaya janji bunda kan? Kalo bunda janji ke Fian nggak pernah ingkar kan?”

Fian mengangguk, masih sedikit sesenggukan.
“Sekarang tarik nafas panjang lalu hembuskan, biar nafasnya lega,” pandu saya beberapa kali sambil mengusap sisa air matanya.

kehilangan

Akhirnya airmatanya berhenti mengalir, dan Fian pun mandi untuk kemudian berangkat ke mesjid untuk mengaji :)

*Ah, mungkin sekarang kau belum benar-benar memahami dalamnya percakapan ini Nak, tapi bunda berdoa semoga percakapan ini tertanam di hati. Sehingga jika suatu hari nanti kau mengalami kehilangan yang meremukkan hati, kau tetap bisa berprasangka baik kepada Allah dan menerima dengan ikhlas semua yang telah terjadi…

 

Jakarta, 25 Februari 2015
Yeni Suryasusanti

 

Catatan:

Setelah tulisan ini dipublish di facebook, mendapat ilmu dari seorang teman yang meninggalkan comment di bawah ini:
Herry Hasibuan: Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya di makan dan jangan dibiarkan untuk setan” Dalam riwayat yang lain dinyatakan, “sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah.” (HR Muslim no. 2033 dan Ahmad 14218)

Alhamdulillah niat berbagi manfaat malah jadi mendapat manfaat, meskipun untuk kasus pisang dalam tulisan ini memang pisangnya sudah matang sekali sehingga mengakibatkan sulit dibersihkan kecuali dicuci air panas ya… Tapi dengan mengetahui hadist ini akan saya pikirkan bagaimana penerapan yang aman utk anak2 di masa datang :)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.