Sing Ngemèk Mati

Anwari Doel Arnowo

 

Sing ngemèk mati = yang menyentuh/memegang mati

 

Tidak banyak orang sekarang ingat apa arti dari yang saya tulis sebagai judul di atas. Pada jaman saya masih anak kecil di bawah umur lima tahun, saya bermain-main di jalan raya yang  sama sekali tidak raya. Pada waktu itu  paling lebar ukuran jalan raya hanya selebar tujuh sampai sembilan meter saja. Penanggung jawab seluruh aliran listrik adalah ANIEM (Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij) yaitu perusahaan jaman belanda yang sekarang diwarisi oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara).

different_era_by_finalverdict-d4h1fne

different_era_by_finalverdict-d4h1fne

Di pinggir-pinggir jalan selalu berdiri gardu listrik yang mungkin tegangannya lebih besar dari aliran listrik yang mengalir masuk ke dalam rumah tinggal para pelanggan yang mampu berlangganan. Gardu-gardu ini dibuat dari beton yang kuat diberi pintu dari bahan besi dan dikunci rapat. Menempel di dinding gardu ini, ditempelkan sebuah papan pelat dari bahan besi dan terpampang di atasnya tulisan peringatan agar siapapun menghindari memegang apapun yang ada di gardu itu. Tulisannya ada di dalam bahasa Melajoe, bahasa belanda, dan bahasa Jawa. Seingat saya yang di dalam bahasa Jawa ditulis dengan dua jenis huruf: Latin dan Djawa (Ho No Co Ro Ko).

Ini yang paling menarik karena bunyinya:  Sing ngemèk mati. Sing=Yang, ngemèk = Menyentuh, Mati = Mati. Jadi Sing ngemèk mati ditulis menggunakan huruf Djawa.

Harap anda maklum, pada jaman sekian puluh malah lebih dari tiga ratusan tahun kepulauan Nusantara ini dijajah belanda dan banyak sekali orang Djawa yang buta hoeroef Latin tetapi melek hoeroef Djawa. Dengan demikian maka terkenallah nama gardu semacam itu dengan sebutan gardu Sing ngemèk mati.

Mengapa saya pilih menjadi judul? Pada awal Januari tahun ini “suhu/temperature” kalangan politik di Negara kita meningkat seperti orang demam. Naik dan turun atau naik dan naik lagi dan sebaliknya. Sungguh kasihan hati saya melihat mereka termasuk para pelaku media yang seperti anjing kelaparan, mencari informasi yang terbaru yang bisa di “jual” lagi baik selaku politikus, selaku pengamat, selaku oportunis dan selaku sesuatu yang menakutkan kami, rakyat biasa.

sing-ngemek-mati

Saya dan anda pasti takut sekali, bila terikut emosi mengikuti ke”giat”an ini. Repot!!! Apa sih  yang bisa kita peroleh sebagai manfaat dari keributan antara KPK dan Polisi? Padahal katanya ada sekian ratus personil Polisi di dalam KPK. Apakah para Polisi ini kurang pekerjaan sehingga bisa bermusuhan seperti ini? Pekerjaan Polisi kan banyak sekali? Berapa kasus yang terbengkalai? Berapa yang sengaja memang dicampakkan dan tidak diurus? Yang paling puncak saja tidak diurus, kan? Apa itu?

Rekening Gendut dan kedisiplinan dan lain-lain yang tentu perlu pembenahan. Banyak kerja terbengkalai, ada kasus Rekening Gendut atau bukan! Masih banyak memerlukan kerja keras Polisi.

Apa boleh buat! Apakah Polisi boleh mengenyampingkan kasus korupsi oleh 17 orang jenderal Polisi yang memiliki rekening gendut, yang bila dijumlahkan seluruhnya, kita  bisa terkejut, karena mencapai empat triliunan Rupiah? Itu bisa dipertanggung-jawabkan sebagai apa? Warisan? Bisnis? Kalau uang bisnis, mengapa tetap menjadi Polisi, bukankah gaji dan fasilitas Jenderal Polisi masih jauh di bawahnya bunga bank dari uang yang triliunan Rupiah itu?

Itulah contohnya mengapa Polisi sekarang hanya mengalihkan perhatiannya kepada kasus-kasus kecil seperti yang menimpa para komisioner pimpinan KPK? Kakap tidak kelihatan tetapi teri dipelototi? Seperti gajah di seberang lautan tampak, semut di pelupuk mata tak tampak? Membaca ini, Polisi tidak usah gusar, karena bisa sekali Rakyatlah akan lebih gusar nantinya.

Dulu ada ungkapan ABRI dan rakyat itu seperti ikan di dalam air. Akan tetapi Polisi juga sama. Pertanyaannya, air itu tanpa ikan nggak apa-apa kok, biar jernih masih berguna bagi makhluk yang lain, antara lain manusia, rakyat juga. Lalu ikan bisa kan sendirian. Polisi yang Kepala Keluarga bila pulang ke rumahnya sendiri, yang dijumpainya di situ siapa? Suami atau istri berserta anak-anak. Siapa mereka ini? Rakyat juga, lho! Renungkanlah!!

Saat ini bilamana kasus Polisi dan KPK berlanjut tidak dapat diselesaikan, saya tidak peduli lagi, yang penting Presidennya tetap Joko Widodo.

Sing ngemèk Joko Widodo mati

BG, Megawati, sementara gumbai deh.

 

Anwari Doel Arnowo – 2015/01/29

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.