American Sniper (2014): Biladi, Biladi, Fidaki, Dami!

Alfred Tuname

 

Sejarah selalu memiliki dua sudut cerita yang berbeda. Perbedaan sudut cerita tersebut tidak membujur kategori menang dan kalah. Tetapi, masing-masing sudut selalu merasa menang. Oleh karena itu, boleh jadi setiap sudut berkubang dalam dualisme. Ada menang sekaligus kalah. Ada kalah sekaligus menang. Pada sudut apa pun itu.

Pada alas dualisme itu, cangkang film American Sniper ini coba dipecahkan. Sebagai sebuah karya sinematografi, American Sniper lahir dari semangat aktivisme anti-terorisme pasca tumbangnya World Trade Center (WTC). Peristiwa 11 September 2001 tersebut menimbulkan luka yang terdalam di wajah warga Amerika. Bekas luka bakarnya pun menjadi prasasti dalam sejarah Amerika.

Aktivisme anti-terorisme begitu jelas dijabarkan dalam American Sniper. Film yang disutradarai oleh Clint Eastwood ini membawa emosi spektator pada antara titik paling rendah sekaligus paling tinggi kemanusiaan, yaitu “barbarisme” dan humanisme.

 

american sniper

Sinopsis

Film American Sniper ini disutradarai oleh Clint Eastwood. Di tangan Eastwood, kisah kehidupan sniper Navy SEAL, Chris Kyle dicangkokkan ke dalam film. Kisah Chris Kyle tersebut ditulis dalam otobiografinya berjudul “American Sniper: The Outobiograhy Of The Most Lethal Sniper In US Military History”. Film ini pun dibintangi oleh Bradley Cooper sebagai Chis Kyle dan Sienna Miller sebagai sniper’s wife, Raya Renae Kyle.

Every story has a begining. Kisahnya bermula dari peristiwa 9/11. Didorong rasa sakit hati setelah putus cinta, Chris Kyle terpanggil untuk menjadi prajurit Navy SEAL yang berjuang demi negaranya. Setelah mengikuti serangkaian pelatihan, ia pun resmi menjadi anggota Navy SEAL. Chris memiliki bakat membidik yang bagus dan semakin terampil setelah menjadi anggota Navy SEAL. Ia pun menjadi seorang sniper.

Pertemuannya dengan Raya di sebuah café membuat jatuh cinta. Atas rasa saling cinta, mereka melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Pada saat mengandung itulah, Chris ditugaskan dalam perang di Irak.

Sebagai US Navy SEAL, sang sniper memiliki misi khusus yakni melindungi teman-teman platoon-nya dari kejauhan. Dia pun menjadi pelindung paling sukses karena berhasil menggagalkan serangan mematikan yang mengancam nyawa teman-temannya. Ia pun dijuluki sebagai the Legend; juga sebagai “Al-Shaitan”.

Di balik julukan the Legend tersebut, sang sniper memiliki “perang sendiri” berikut tusukan-tusukan dilema yang tajam. Ingatan akan istri dan bayinya, selalu menjolok sisi humanisme di arena perang. Moncong senjata yang diarahkan kepada seorang anak di medan perang, membuat tangan Chris bergetar, dada berdebar dan keringat di wajah. Dari sana, gambar-gambar traumatik seringkali muncul di hadapannya. Perang seakan terus mendatanginya meski pun ia sudah berada di rumah, dekat dengan istri dan anak-anaknya.

Baginya, perang memang belum selesai. Pertempuran tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di medan yang namanya peradaban. Hingga akhirnya, Chris Kyle dibunuh pada 2 Februari 2013 oleh seorang veteran yang diselamatkannya.

 

Rumsfeldian Trap

Sebuah anekdot menarik datang dari tanah Papua. Sepasang muda-mudi sedang jatuh cinta, mereka jalan-jalan sore (JJS) di sebuah hutan dekat pantai. Sedang dalam proses bermesraan, tiba-tiba pasangan perempuannya (mace) ingin buang air kecil. mace belari ke arah hutan dan buang air kecil di situ. Tak lama berselang, terdengar suara kentut dari dalam hutan. Pasangan laki-laki (pace) terkecut, lalu berteriak, “mace suara apa itu?” Mace pun menyahut dengan suara keras, “Ah pace ni ko smacam trada tau saja. Abis guntur pasti hujan to?” Pace pun tersenyum lalu berkomentar, “ho, ko cepat sudah buat hujan. Kalo lama nanti saya pergi tutup”.

Di sini, anekdot dari tanah Papua di atas selain sebagai proses ekskresi biologis, tetapi juga mengungkah drajat dualisme yang nyaris saling mengisi. Bahwa, ada bagian dari sejarah yang tidak bisa dipisahkan. Seperti guntur dan hujan, perang dan kesengsaraan pasti tidak bisa dipisahkan. Setelah guntur perang menggelegar, pasti hujan air mata dan darah tumpah ruah di tanah. Perang dan kesengsaraan adalah dua sisi koin. Persoalannya adalah siapa yang memberi mata uang pada koin tersebut? Politik.

Warna politik sangat kental dalam proses pembuatan film American Sniper. Film ini mengumbar semangat patriotisme para prajurit US Navy SEAL. Jika memeriksa American Sniper dengan mata filosofi kucing (terus melihat kebelakang), maka film ini tak ubahnya dengan film Rambo (dari First Blood-1982 sampai Last Blood-2009) dan Black Hawk Down (2001). Film-film tersebut merupakan anak kandung dari perselingkuhan antara Pentagon dan Hollywood. Film Rambo dibuat untuk mengobati luka batin para prajurit Amrika yang kalah tempur dan perang di Vietnam. Begitu pula dengan film Black Hawk Down dibuat untuk mengobati luka batin para prajurit yang juga kalah tempur dan perang di Somalia. Tentu saja semua itu bertujuan untuk tetap membari kaca mata utopis bagi warga Amerika bahwa mereka masih merupakan polisi dunia.

Tentu hal ini sama saja halnya dengan nasib film-film yang berada dalam kendali negara-negara teokrasi dan monarki. Di negara demokrasi seperti Amerika, negara terlibat langsung dalam pemberian dana dan fasilitas pembuatan film. Di negara teokrasi, film-film dikontrol begitu ketat. Tujuannya tetap sama, yakni film harus mengabdi kepada penguasa. Nalar dan hasrat sama-sama dikontrol dalam nafas rush en orde. Tentu, insan perfilm-an lebih mendapat tempat di negara-negara demokrasi.

Bersamaan dengan itu, semangat patriotis tetap harus digalakan meski harus berjalan di atas angin. Pada konteks film American Sniper, patriotisme itu seakan muncul begitu saja. Seorang pemuda yang patah hati dan kehilangan harga dirinya tiba-tiba begitu patriotik. Hal itu terjadi setelah pemuda Amerika menyaksikan simbol kedigdayaan ekonomi negaranya rubuh, runtuh dan luluh-lantak. Dua pesawat komersial dibajak oleh sekelompok “teroris fundamentalis” menabrak WTC. Angkara murka pun meninggi saat itu pula.

Luluh-lantaknya WTC pada 9 September 2001 (peristiwa 9/11) menjadi Event (dalam bahasa Alain Badiou) bagi Amerika untuk memeriksa kembali segala perkakasnya demi kelangsungan dominasi dan hegemoni. Jagonnya adalah kestabilan dunia. Di sini, “fundamentalisme” globalisasi semakin dipertajam. Boleh jadi, bagi Amerika, peristiwa 9/11 adalah bagian dari rencana semangat globalisasi ekstrim dan Timur Tengah. Event 9/11 secara tidak langsung merupakan selayang konspirasi mutatis mutandis peristiwa penyerangan “Pearl Harbour” abad 21. Dalam Perang Dunia II, Presiden Roseveelt mengatur konspirasi dan strategi untuk mengurung Nazi Jerman (bdk. Tariq Ali, 2004). Musuh bersama membuat Inggris, Rusia dan Amerika bergabung menggempur Nazi Jerman. Inggris mengamankan sisi timur, Rusia mengamankan sisi barat. Lalu, Amerika menyerang dari bagian selatan (pendaratan Normandy, 06 Juni 1944). Pelibatan Amerika itu dilakukan dengan cara konspirasi dan provokasi Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941. Setelah digempur ramai-ramai, Hitler pun bunuh diri, Nazi Jerman menyerah. Segala bentuk pemerintahan fasis, poros Jerman-Italia-Jepang, saat itu pun tumbang.

Sejak saat itu pun, gelombang kedigdayaan Amerika semakin menjulang. Self-proclaim sebagai polisi dunia semakin menancap di tanah yang ditemukan Amerigo Vespucci tersebut. setelah masa imperialisme kuno berlalu, wajahnya dilapis maskara untuk mempercantik bentuk meski dengan langgam yang persis sama. Samarannya adalah Globalisasi. Zaman kolonial imperialisme hingga Cold War (Kapitalisme versus Komunisme), sistem yang digunakan adalah pembagian (division); sementara setelah peristiwa rubuhnya Belin Wall, globalisasi menawarkan sistem baru yakni peleburan (integration). Karenaya, segala sesuatu yang dianggap berbeda dari peradaban hegemonik dianggap musuh. Di situ, “perang” pun terjadi. Samuel Huntington pun menyebutnya sebagai “clash of civilization”. Pertikaian antar-peradaban ini menimbulkan warna polkadot pada bumi yang bundar atas aras globalisasi.

Thomas Friedman (2003) memberi warna pada aras globalisasi ini. Pertama, globalisasi dimengerti sebagai keseimbangan kekuataan tradisional di antar negara bangsa (nation-states). Warna globalisasi seperti ini tempak jelas dari beberapa negara adidaya yang menacar cakar kekuataannya untuk menghadang Amerika. China sudah menajamkan cakarnya untuk face to face dengan Amerika. Rusia pun melakukan hal yang sama. Pada konteks lain, Korea Selatan menjaga keseimbangannya dengan Korea Utara, Irak dengan Iran, India dengan China, Indonesia dengan Malaysia, et cetera.

Pada konteks film American Sniper, Irak menjadi medan pembantain pertama (Operasi Pembebasan Irak, 2003-2011) kerena diduga sebagai negara yang siap “naik banding” terhadap dominasi Amerika. Irak dan Sadam Hussein dituduh sedang membangun senjata pemusnah massal (mass destructive weapon) dan melindungi kaki-tangan Osama bin Laden, Zarkawi. Seperti “kentut mace”, Irak sebenarnya sudah menjadi target invansi militer Amerika karena tergabung dalam “poros setan” (axis of devil) bersama negara Iran, Libya dan Afganistan.

Negara-negara “poros setan” didakwa menjadi musuh demokrasi dan sarang terorisme. Hal ini menjadi ancaman global. Oleh karena itu, Amerika yang merasa sebagai polisi dunia berhak menginvansi negara-negara tersebut. akan tetapi, demokrasi dan terorisme hanyalah alibi yang direkaya untuk membenarkan invansi. Di balik semua itu adalah minyak. Kebutuhan akan minyak Amerika menjadi alasan dibalik semua politik luar negeri negara adidaya tersebut. Invansi militer Amerika merupakan akibat sekaligus sebab dalam politico-economy aliran minyak.

Invansi militer akan dilakukan kepada negara-negara Timur Tengah yang menjual minyaknya kepada seteru Amerika (China dan Rusia) atau menggalakan kebangkitan Mashruteh (kebijakan nasionalisasi minyak). Tetapi selama minyak dijual kepada Amerika, negara tersebut dianggap sebagai sekutu, apapun bentuk negara tersebut. Karenanya, Saudi Arabia tetap dianggap sebagai sekutu Amerika, meskipun Osama bin Laden merupakan karabat Sultan Abdullah yang dikirim untuk membebaskan Afganistan dari Rusia. Sementara Sadam Hussein dan Muammar al-Qaddafi diturunkan dari singgasana, sebab mahkota minyaknya diserahkan kepada seteru-seteru Amerika.

Kedua, keseimbangan kekuataan antara nation-states dan pasar global (Global Market). kini setiap negara nyaris tidak bebas dari cengkraman pasar global. Pasar global telah menjelma menjadi gurita raksasa yang bisa mengikat apa saja dengan jari-jari-jarinya. Setiap negara yang melawan kekuatannya akan dihempas dengan chaos disegala bidang. Pemicunya jelas kestabilan ekonomi. Friedman menyebut pasar global itu sebagai Supermarket, dalam hal ini pusat-pusat keuangan global seperti Wall Street, London, Singapore. Pengaruhnya sangat kuat terhadap stabilitas kuangan suatu negara khususnya nilai kurs. Runtuhnya dinasti Orde Baru dan Presiden Soeharto adalah contoh paling nyata di negeri kita.

Celakanya, pemain utama Supermarket ini adalah Amerika. Supermarket Amerika-lah yang mengatur nyaris semua urat nadi permainan sistem investasi jangka pendek tersebut. Karenanya, mereka dengan mudah mengatur negara-negara yang sudah terjaring dalam gurita raksasa keuangan tersebut. Ketika militer Amerika membombadir suatu negara dengan peluru dan rudal dari Tank dan F-35, Supermarketnya membombardir suatu negara dengan capital flight yang berujung depresiasi nilai tukar.

Peristiwa 9/11 telah meruntuhkan simbol kedigdayaan ekonomi Amerika. Hal ini menimbulkan kegeraman para elite ekonomi dan politik. Presiden George W. Bush pun meneriakan pembalasan kepada sekutu-sekutu teroris. Pembalasan dimulai dengan menjatuhkan kepada Sadam Hussein. Pembalasan masih dan akan terus berlansung sehingga perang masih akan terus berlanjut meski Osama bin Laden telah ditembak mati. Sumpah Bush-pun masih terasa, bahwa setan pun akan gentar menyaksikan pembalasan Amerika tersebut.

Ketiga, keseimbangan kekuatan antara individu-indivindu dan nation-states. Kecanggihan teknologi komunikasi telah berpengaruh pada cara berkomunikasi setiap individu. Setiap orang pun dapat berkomunikasi dengan siapa saja dan di mana saja. Arus informasi pun bergerak kemana saja dan begitu cepat. Akibatnya setiap orang bisa menjadi superpower dan membangun jaringan kekuatannya sendiri. Tanpa termediasi negara, seseorang dapat menjadi begitu berpengaruh dan berkuasa. Friedman menyebutnya sebagai “super-empowered individuals”. Osama bin Laden adalah satu diantara sosok “super-empowered individuals” tersebut. Osama memiliki jaringan yang kuat dan ketat berikut dengan sadar membenci Amerika dan sekutunya. Watak oksidentalisme ini begitu kuat sehinga pengikut-pengikutnya berbuat apa saja untuk menghancurkan dominasi dan hegemoni Amerika. Doktrin agama digunakan untuk memperdaya para pengikutnya. Islam ditafsir sedemikian rupa demi visinya menghancurkan arogansi Amerika.

Menyadari begitu berbahayanya sosok hegemonik Osama bin Laden, Amerika berani membombardir negara-negara yang dianggap melindungi Osama bin Landen. Setiap kaki tangan Osama dicari dan dibuntuti untuk menenukan persembunyian sosok Osama. Al-Zarqawi, orang dekat dan loyal terhadap Osama, dideteksi berada di Irak. Irak pun digempur untuk mendapatkan Zarqawi dan kepala Sadam Hussein. Peradaban yang dibangun dengan narasi kejayaan Persia dirubuhkan, seperti yang dilakukan Jenderal de Kock membakar rumah-rumah penduduk di tanah Jawa untuk mencari kepala Pangeran Diponegoro. Uniknya, Osama merupakan bekas anak didik CIA dalam perang di Afganistan melawan Rusia. Lantas mengapa “the good pet goes bad?” Amerika de sont tort justru terlalu serakah dan terlalu jauh mencampuri urusan dalam suatu negara. Keserakahan atas minyak dan mengusik kehidupan umat muslim menjadi alasan aktivisme Osama bin Laden.

Osama bin Laden kemudian “tahbis” menjadi pemimpin teroris yang paling dicari. Terorisme pun menjadi wacana yang mendominasi politik luar negeri Amerika, meski tujuan utamanya adalah minyak. Tentu ada benarnya juga, bahwa terorisme merupakan musuh kemanusiaan. Setiap negara pun memusuhi terorisme. Tetapi jalan perang bukan satu-satunya jalan untuk memerangi terorisme, apalagi harus mengintervensi kebijakan politik dalam negeri sebuah negara. Teror hanyalah alat (tool) yang digunakan untuk mencapai tujuan. Dibelakang semua itu ada kesadaran palsu yang sengaja ditanamkan secara radikal demi tujuan-tujuan tertentu. Maka counter terhadap terorisme adalah counter terhadap kesadaran palsu yang lama melekat dalam diri para teroris. Hal ini juga akan mencegah munculnya teroris-teroris baru.

Dalam perang melawan terorisme Osama bin Laden, para elit politiknya mengatakan bahwa perang terhadap terorisme bukanlah perang terhadap Islam, melaikan perang terhadap “religious totalitarianism”. Atau mengutip Friedman, “not against with Islam, but within Islam”. Artinya, nilai-nilai intoleransi dan fundamentalisme yang ingin dilawan dalam dunia Islam. Sikap oksidentalisme dan antil-Americanism itulah yang dilawan dalam perang terhadap terorisme.

Ironisnya, kampanye anti-terorisme juga didorong oleh semangat fundamentalisme Kristen. Setting Texas dalam film American Sniper menunjukan secara gamblang pengaruh Kristen puritan terhadap Kris Kyle. Ayahnya memainkan peran “Name-Of-The-Father” (istilah Freud) yang membagi manusia dalam tiga tipe, yakni domba, serigala dan anjing gembala. Secara simbolik, kategori tersebut hendak menyebutkan bahwa Amerika adalah anjing gembala, musuh Amerika (negara “poros setan”) adalah serigala, dan negara-negara lemah adalah domba. Sebagai anjing gembala, Amerika merasa diberkati dalam setiap agresinya untuk melindungi sekut-sekutunya dari serangan srigala. Negara yang memiliki peran simbolik pun harus melatih rakyatnya untuk memiki spirit anjing gembala (dominicanes).

Secara gamblang, spirit gembala dapat dilihat dalam amateur philosophizing tentang relasi antara known dan unknown yang ditulis oleh US Secretary of Defense, Donald Rumsfeld. Pertama, known knowns. Pada konteks film American Sniper, Amerika tahu bahwa mereka sedang diserang. Mereka juga tahu Sadam Hussein adalah presiden Irak. Kedua, known unknowns. Apakah benar Amerika sedang diserang oleh Al Qaeda? Benarkah ada senjata pembunuh massal? Ketiga, unknown unknowns. Bukankah sudah terdengar konspirasi domenstik Amerika tentang peritiwa 9/11? Apa yang terjadi bila justru Sadam Hussein memiliki senjata rahasia yang justru lebih dasyat dari yang dikira?

Satu yang luput dari pengamatan Rumsfeld, yang kemudian ditambahkan oleh Slavoj Zizek (2014) adalah unkown knowns. Amerika mengingkari kesadarannya bahwa dengan menyerang negara lain par force, dengan alasan apa pun, adalah bagian dari cara kerja terorisme. Sadam Hussein pun menjadi kambing hitam dalam aktivisme tersebut. Maka dengan parallax, perjuangan rakyat melawan hegemoni Amerika bukanlah untuk membela kelompok fundamentalis religius atau kelompok radikal, melainkan mempertahankan kedaulatan tanah air. Panji-panji konspirasi politik minyak internasional harus dilawan dengan hymne nasionalis (mengutip hymne Kairo), “biladi, biladi, fidaki, dami!” (negeriku, negeriku untukmu kupertaruhkan darahku!).

 

Jogja, 2015

Alfred Tuname

 

 

Pustaka:

Ahmadinejad, Mahmud (Terj). 2009. Ahmadinejad Menggugat. Jakarta: Zahra

Ali, Tariq. 2004. The Clash Of Fundamentalism: Crusades, Jihads and

Modernity. London: Crerkenwell

Friedman, Thomas. 2003. Longitudes and Attitudes. London: Pinguin

Zizek, Slavoj. 2014. Event. London: Pinguin.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.