SAM GONG

Wesiati Setyaningsih

 

Saya pikir masa kecil saya lebih seru dari pada masa kecil anak sekarang. Waktu saya kelas dua SD, kami pindah ke perumahan yang namanya perumnas Banyumanik. Rumahnya kecil-kecil tipe 33, berdinding asbes, luas tanah 72 meter persegi. Dia rumah membentuk satu rumah, jadi tiap rumah seperti separuh rumah. Maka dua rumah yang berdampingan itu disebut satu kopel.

Rumah yang satu kopel dengan rumah saya tidak ditinggali karena pembelinya hanya membeli untuk investasi. Rumah itu ditinggali hanya di akhir minggu atau hari libur. Pembelinya pasangan setengah baya yang putranya sudah dewasa, tapi mereka punya anak bungsu yang umurnya tiga tahun lebih tua dari saya, namanya mas Sigit.

Mas Sigit yang tinggal di Semarang bawah dan sepertinya cukup gaul, tahu banyak tentang permainan kartu. Dari dia saya banyak tahu permainan kartu. Dari remi, empat satu, seven up, minuman, sampai kyu kyu dan sam gong. Itu yang pake kartu remi. Dia juga memperkenalkan saya dan adik saya dengan domino dan karambol. Meski saya tidak terlalu mahir tapi saya paham cara mainnya.

Orang tua saya baik-baik saja dan mengijinkan kami main bersama. Kalau Mas Sigit sedang tidak menginap di rumah sebelah, di waktu senggang saya main sendiri dengan adik saya. Yang bikin kesal, adik saya laki-laki ini pandai banget main kartu. Alhasil sering kali saya kalah dan nangis.

Sementara dari orang tua saya diajarkan main catur. Saya sering main catur dengan Ibu, Bapak atau adik saya. Kata Ibu, main catur itu baik untuk otak, biar kita pandai bikin strategi. Yah, lagi-lagi saya tidak terlalu mahir, hanya paham cara mainnya saj

Sampai SMA pengetahuan saya dalam permainan ini cukup membuat saya bisa bergabung dengan teman-teman saya kalau sedang hari-hari class meeting. Pelajaran sudah tidak ada, tapi kami tetap harus masuk karena memang belum masanya libur. Di kelas kami biasa main kartu atau catur. Tak ada masalah.

Sekarang, ketika saya menjadi guru, ternyata permainan kartu ini dilarang. Entah apa alasannya. Ketika ada anak main kartu di kelas, mereka ‘ditangkap’ dan ‘diadili’. Juga ketika kemah, mereka yang main kartu di tenda bisa dimarahi habis-habisan. Meski saya sebenarnya merasa bahwa main kartu itu biasa saja, tapi demi tegaknya aturan bersama yang sudah ada sejak saya belum masuk ke sekolah ini, saya pesan pada murid saya agar tidak coba-coba main kartu di saat kegiatan sekolah.

Padahal kemah dan main kartu itu sebenarnya asyik. Waktu saya kuliah dan sudah semester tiga, saya dan teman datang ke tempat kemah anak semester satu dan ikut tidur di sana. Karena bukan panitia dan tidak punya kerjaan, akhirnya saya bergabung main kartu. Untuk seru-seruan kami main Sam Gong saja. Aturan main ini adalah tiap pemain diberi 3 kartu. Masing-masing harus mengumpulkan nilai 30. Kurang sedikit boleh, tapi yang kelebihan dianggap ‘kebakaran’ atau bahasa Jawanya ‘kobong’. Semua kartu keluarga raja bernilai 10, kartu yang memiliki nilai angka (bernilai dari 2-10) sesuai dengan angka yang tertera sementara As bernilai satu.

sam-gong

Jadi setelah dibagi tiga kartu masing-masing, sisanya diletakkan di tengah. Bergiliran pemain mengambil kartu satu persatu dalam satu putaran. Yang merasa kartunya sudah cukup dan tidak ingin nambah, bisa bilang, ‘lewat’ atau ‘pass’. Kalau merasa kurang, dia bisa mengambil. Selesai satu putaran, kalau masih ada yang kurang lagi dibuat lagi putaran ke dua, sampai semua bilang ’pass’.

Maka mainlah kami sore itu di perkemahan, dengan tikar di atas tanah, di bawah pohon. Sungguh nikmat. Mereka yang tidak ada kerjaan bergabung, bahkan yang tadinya tidak paham ikut belajar. Permainan makin ramai karena memang Sam Gong ini seru. Salah satu teman bahkan bergaya menggunakan kaca mata hitam biar keren seperti mafia judi Cina di film-film.

Tiap kali kartu dibagi, masing-masing mengintip kartu dengan hati-hati dan mereka yang mendapat pas 30 akan berteriak riang seperti mendapat lotre. Dia menang duluan! Yang lain akan melanjutkan dengan bergiliran mengambil satu dari tumpukan kartu yang ada di tengah.

Anehnya, teman yang main di depannya selalu tahu jumlah kartu teman yang berkaca mata ini. Dengan heboh dia berteriak kalau teman yang pakai kaca mata ini kartunya berjumlah lebih dari 30.

“Hiyaaa… Kobooong!” teriaknya heboh, lalu dengan santai dia memutuskan untuk tidak mengambil kartu lagi kalau jumlah kartunya sudah lebih dari 20.

“Ben, wis ana sing dadi we kok!” katanya.

Maksudnya, biarin, toh sudah ada yang kalah dan bakal ngocok kartu jadi dia tenang-tenang saja.

Teman-teman lain jelas heran, kenapa dia bisa tahu kartu yang di tangan teman saya yang pakai kaca mata ini. Awalnya dia tidak mau bilang, malah menyombongkan diri bahwa dia sakti dan semacamnya. Ketika permainan sudah berjalan lama, dia baru bilang,

“Lha itu, kartunya keliatan di kaca matanya!”

Serentak kami tertawa semua terbahak.

***

Sungguh kenangan yang indah. Sayangnya selain permainan kartu ini dianggap tabu bahkan terlarang, anak sekarang juga lebih senang bermain dengan hapenya, jadi tidak banyak yang bisa main kartu seperti jaman saya dulu. Sesekali saya kangen juga main kartu, tapi siapa yang mau?

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *