“Burket Arab” Itu Bernama Za’atar

Luigi Pralangga

 

Satu pagi  tiba-tiba si Ondel-ondel ini tertawa sendiri saat kendaraan berada di urutan terdepan pada perempatan lampu lalu-lintas itu. Tawa itu mulai saat melihat pengemudi kendaraan di sebelahnya, usai mengangkat tangan kanan-nya disusul si tangan kiri kemudian sibuk menggaruk-garuk bagian kelek (Baca: Ketiak). Menyandang baju putih tangan panjang dengan kerudung tipis warna putih khas pria arab dengan ikat kepala hitam yang membalut diujung kepala, jelas menandakan bagi mata ini bahwa kalau bukan orang Kuwait, berarti orang dari negara sekitarnya dan satu hal yang pasti kentara jelas pagi itu bahwa: Si babah satu ini (Baca: Sebutan pria arab paruh baya) itu BELUM MANDI… oke, deh kita ralat, LUPA MENCUCI GOSOK KELEKNYA.

Garuk-garuk kelek di muka umum

Garuk-garuk kelek di muka umum

Sebuah pemandangan yang unik memang, selain kebanyakan kendaraan di Kuwait ini kebanyakan jarang si pemilik mobil di sini melengkapinya dengan kaca film karena peraturan setempat, maka apapun perilaku pengemudi dan penumpang kendaraan akan jelas kentara dari luar atau kendaraan lain.

Insiden gagaro-kelek tadi sebenernya mengingatkan pada celoteh Bibi (Baca: Manajer Kuliner rumah tangga) yang berkomentar saat dimintakan untuk menyiapkan roti panggang bertabur Zaatar. Baginya mencium aroma si bubuk Za’atar tadi sudah memabukkan, lantaran dalam banyak kesempatan ia pergi berbelanja baik ke supermarket terdekat atau ikut bersama jalan-jalan pelesir ke downtown Kuwait City, dikatakannya bahwa orang-orang (arab) yang berpapasan dengan-nya aroma perawakannya sangat memabukkan dan persis dengan aroma bubuk zaatar tadi.

“Ih, Si ayah nanaonan sih makan roti kok pake burket (Baca: Bubur Ketek) arab begini, Bibi ini rasanya mau muntah nyium bau-nya..”

“Bumbu apa sih ini? kok ambu-na itu persis orang-orang arab yang sering bibi papasan di supermarket itu… apa mereka tempelkeun bumbu ini dikeleknya.. habis baunya persis..!!!”

Kontan tertawalah si Ondel-ondel ini dengan lantang..

Bisa dikatakan bahwa Bibi sudah cukup piawai dalam mengurus kebutuhan dapur keluarga di Kuwait. Acapkali dalam banyak kesempatan, saat berbelanja bulanan bahan makanan, ia sudah faham dimana dan di bagian rak apa saja pada sebuah supermarket langganan bahan kebutuhan rumah yang sudah minim atau habis stock-nya.. sambil melalui rak-rak supermarket itulah ia kemudian sering berpapasan dengan pria-pria arab dengan baju daster khas warna putih mereka yang notabene semilir aroma bau bandotnya itu berjalan lebih cepat dari si orangnya sendiri..

Usai berbelanja, kita biasanya rehat sebentar untuk minum kopi dan saat itulah ia kemudian berceloteh:

Bibi kini sudah jadi anak gaul di Kuwait..ngopinya aja sudah di Starbucks ya?

Bibi kini sudah jadi anak gaul di Kuwait..ngopinya aja sudah di Starbucks ya?

“Ai urang-urang arab nu kawas kiyeu acukna the tara mandi ya…?” (Kalau orang-orang yang berbaju daster putih itu jarang pada mandi ya?)

“Kenapa emangnya, Bi…”

“Iyah, tadi Bibi prakna nyimpang urang nu acuk daster bodas kawas eta, ambuna meuni persis Domba Garut di kampung Bibi!. Meuni apekna masya Alloooohhhhh…, Bibi mah nahan napas we mun aya siga kitu ambuna..” (Iyah, tadi Bibi pas lewat orang yang berbaju daster putih seperti itu, aroma badan-nya itu persis Domba Garut di Kampung Bibi! Bau apeknya Masya Allohh! Bibi mah tahan nafas aja deh kalau papasan sama orang yang baunya seperti itu lagi)

Ok, sekarang kembali ke Za’atar…

Dalam kamus diet kuliner timur tengah, Za’atar ini adalah jenis bumbu yang harus dimiliki pada kebanyakan dapur rumah tangga orang arab. Aromanya sepintas bagi hidung kebanyakan orang Indonesia yang kurang familiar akan secara awam menyamakannya dengan aroma khas jamu tradisional yang nyaring sekali terasa si bau rempah-rempah akar-akaran itu.

Lantaran selama lebih dari 6 tahun tempo hari bertugas di Liberia, dimana pilihan menu makan siang selain kafetaria di mission’s headquarters adalah restoran masakan Lebanon, maka Za’atar adalah suguhan yang biasa dinikmati dalam bentuk pizza atau pie. Pada awalnya saat pertama kali mencoba rasanya persis pizza yang ditaburi bubuk beras-kencur atau sebangsanya.. namun karena melihat rekan kolega asal Jordan dan Palestina yang lahap bersantap pie za’atar sembari diguyur minyak zaitun itu, rasa aneh itu sudah tergeser.

Sepintas, dari kacamata si Ondel-ondel, pie za’atar ini nggak kelihatan sisi cantik presentasinya, ibarat sebuah adonan pie yang diguyur dan diolesi sampai rata dengan campuran “oli bekas dan pasir”, beneran!

Oli bekas dan pasir: Persis khan? (c) Bedoina

Oli bekas dan pasir: Persis khan? (c) Bedoina

Za’atar dipakai bukan hanya sebagai topping pada pizza ala arab, namun juga sebagai bumbu masak dimana bahan masakan seperti ayam ungkep dan lain sebagainya acapkali banyak ditaburi oleh si burket arab ini. Itulah yang menyebabkan aroma khas rempah-rempah arab ini terasa nyaring bagi kebanyakan hidung dan penciuman orang Indonesia.

Dalam sebuah kesempatan pameran di Kuwait lepas 6 bulan silam, anjungan kuliner dalam sebuah ruang pameran dipenuhi oleh para pedagang rempah-rempah khas arab, dimana penuh dipadati oleh para mamak-makak berkerudung hitam yang hanya menyisakan segaris lintasan terbuka agar matanya bisa melihat jalan, ya persis sekali dengan ninja-ninja itu.. bedanya sang ninja umumnya berpakaian ketat, nah mamak-mamak berjilbab atau ber’abaya hitam ini jelas berbusana longgar.

zaatar (4) zaatar (5)

Ada banyak macam/ragam Za’atar dijual di sini, dan warnanyapun beranekaragam. Dalam beberapa kesempatan ‘wawancara sontoloyo’ si Ondel-ondel ini dengan sang penjual, ada yang berkelakar dengan kefasihan bahasa Inggris terbata-bata itu ia berkisah bahwa za’atar jenis tertentu yang berkhasiat sebagai ‘obat pintar’ dan satu lagi ditenggarai sebagai ‘obat kuat’ entah kuat dari sisi sebelah mana ya?

zaatar (6) zaatar (7)

Layaknya pengunjung pameran, cuci-mata adalah kegiatan yang lumrah.  ITUlah mengapa si Ondel-ondel ini kemudian gemar menghampiri gundukan za’atar yang dibawah kuali-nya tersedia si kepingan roti ‘tester’ dan dengan bermodalkan kedipan mata ini, dipersilahkannya oleh sang juragan stand pameran untuk mencicip roti panggang rasa za’atar tadi.

Meski selera universal yang selama ini dianut oleh si Ondel-ondel ini, namun tetap saja ada beberapa jenis za’atar yang terasa cukup aneh di lidah ini, karena kadung sudah mencomot si tester, malu atuh kalau dikembalikan, ya sambil ‘merem-melek’ mata ini habislah dikunyah dan ditelan si za’atar aneh tadi…  rasanya terlalu berlebihan keras aroma si rempah-rempah jenis za’atar yang tadi itu. Harganya mahal pula!

zaatar (8) zaatar (9)

“Kamu coba yang ini..” sembari dia memberikan sepotong roti tawar yang sudah diguyur minyak zaitun sambil mempersilahkan si Ondel-ondel untuk membenamkan si roti tadi ke dalam gundukan Za’atar.

Bagaimana sih rasanya?

“Aneh… tapi masih bisa diterima..” – memang dasar si Ondel-ondel ini mahluk dengan jenis perut karet.

Akhirnya pilihan jenis za’atar yang dibeli adalah yang standard harganya, yaitu 2KD untuk 100gram, karena selebihnya ada yang berkisar 6 sampai 8 KD (1KD = 30 Ribu Rupiah).

Entah apakah si jenis za’atar yang kemudian dibeli itu termasuk jenis yang kalau dimakan bisa ‘menambah pinter’  si pembeli-nya.. (atau malahan jadi ‘nambah kelenger’ ya?)..

Usai tunjuk ini dan itu, maka dibungkuslah si za’atar pilihan tadi, sambil diberi bonus yaitu 10 gram lebih banyak dari takaran. Sambil sang pedangang berbisik dengan alis separuh naik turun:

“Besok datang lagi ya.. kita pameran sampe lusa.. akan saya kasih diskon lebih banyak, ajak teman-temanmu..”

zaatar (10)

Layaknya pedagang, dia tidak akan rela melepaskan si calon pembeli kalau belum berbelanja sebanyak mungkin dari barang dagangannya tadi. Maka ditanyalah kemudian:

“Mas.. mas.. coba dulu bumbu yang satu ini, dia enak buat gulai, dan di’cebur-ceburin’ dalam masakan apapun akan terasa nikmaat, jamin deh sampeyan ini akan disayang istri kalau masak dengan bumbu yang satu ini…” – bisa bener deh rayuan-nya..

Ternyata dibalas dengan senyum dan gelengan kepala tidaklah mempan.. dia masih lagi berkilah:

“Mas… gimana dengan cabe kering.. buat tumis-tumis sayur.. enak dia tidak pedas kok.. cocok buat masakan arisan..”

Jalan-jalan ke pameran khas kuliner dan benda-benda antik regional arab ini memang memberikan hiburan tersendiri. Selain belajar mengetahui selera pasar lokal, dan bagaimana orang setempat berbelanja barang dan pernik-unik, eksplorasi kuliner bagi lidah yang belum begitu familiar dengan citarasa regional daerah arab kadang bisa jadi membawa pengalaman yang cukup aneh… sampai akhir waktu kunjungan dan dijalan pulang menuju rumah, si rasa ‘after taste’ za’atar aneh tadi masih kentara benar bertengger di lidah meski sudah meneguk beberapa gelas air dan gosok gigi.

Tidak sedikit penjaga stand dagang kemudian memanggil dan berseru:

“Mas.. mas.. ayo mari sini foto kita dulu… besok masuk di koran/harian apa?.. Ok, sekarang foto kita dari sisi sebelah sini ya…”

zaatar (11)

Dari pameran itulah kemudian timbul hasrat untuk mencoba membuat pie za’atar sendiri. Sayangnya, selera kuliner si Ondel-ondel terhadap za’atar ini tidaklah serupa dengan si Idung pesek dan Bibi, sehingga kedua alis matanya mendadak naik melengkung dan hidungnya kembang-kempis seperti mau muntah saat mencium aroma roti panggang bertaburkan za’atar sedang disantap.

“Ketahuilah, Bi… Burket arab itu bernama Za’atar… dan dia adalah juga ‘obat pintar’ lho…” – mengutip si pedagang itu :p

Mendengar begitu langsung deh nyeletuk si Idung Pesek itu menimpali: “Pinter itu belajar, baca Buku, Pergi Kuliah sana.. bukan modal makan Za’atar sekarung juga nggak bakalan langsung pinter, yang ada mabuk za’atar ..”

zaatar (12)

Temen-temen, adakah kalian yang sudah pernah mencoba si bubuk za’atar ini..? Bagaimana tanggapanmu? (Beneran nggak sih jadi tambah pinter?) :p

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.