Indonesia Negeri Bertuhan

djas Merahputih

 

Dalam sejarahnya, nenek moyang Nusantara telah akrab dengan berbagai ritual dan praktek-praktek kerohanian. Mereka meyakini ada kekuatan di luar kemampuan manusia yang mengendalikan alam semesta. Walaupun saat itu, kepercayaan para nenek moyang belumlah sampai kepada sebuah definisi tentang Tuhan.

Menyadari keberadaan Tuhan tidaklah memerlukan bukti visual, sama seperti manusia menyadari adanya roh dalam diri setiap makhluk hidup. Sampai saat ini bahkan ilmu pengetahuan paling modern sekalipun belum mampu mengungkap gambaran visual dan bukti nyata akan keberadaan roh dan jiwa manusia. Ini disebabkan oleh keterbatasan panca indra dan perangkat teknologi manusia yang ada. Dengan segala keterbatasan ini, maka untuk memahami fenomena Tuhan, nenek moyang kita menggunakan logika yang disebut oleh Tan Malaka sebagai Logika Mistika.

img01. Pencarian Tuhan

img01. Pencarian Tuhan

 

Para pendiri bangsa menyadari bahwa kehidupan masyarakat di Nusantara terutama dalam sepuluh abad terakhir tak bisa dipisahkan dari sebuah keyakinan akan keberadaan Tuhan. Nampak jelas dalam sila pertama Pancasila, format negeri Indonesia adalah sebuah negeri yang mengakui ke-Maha Esa-an Tuhan. Monotheisme telah dikenal lama oleh nenek moyang Nusantara. Itulah sebabnya Islam mudah diterima masyarakat luas, walaupun dalam prakteknya keislaman mereka – begitu juga dengan agama formal lainnya – banyak terdistorsi dan hanya berupa pelengkap atau kemasan luar yang membungkus agama serta kepercayaan asli Nusantara. Hal ini bisa kita perhatikan pada pengaruh Sunda Wiwitan, Kejawen, To Lotang (Sulawesi) atau Animisme Bali terhadap agama formal yang datang belakangan. Miguel Covarrubias (1937) memaparkan tentang Hindu Bali, “….Seperti halnya agama Katolik orang Indian Amerika, Hinduisme sekadar sebuah penambahan pada agama pribumi….”.

Dalam UUD 45 pasal 29, dijelaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan setiap warga negara mengamalkan kepercayaan ketuhanan mereka masing-masing. Tak terkecuali berlaku pula untuk para atheis yang justru berkeyakinan pada ketiadaan Tuhan. Para atheis tentu paling leluasa beribadah, sebab mereka tidak memiliki sebuah ritual ataupun praktek peribadatan yang sepintas akan terlihat sangat rumit dan merepotkan para pemeluk agama dan kepercayaan. Kita tak akan pernah pula menemukan konflik pembangunan rumah ibadah dalam komunitas atheis. Sayangnya – dari akar budaya di Indonesia – Ibu Pertiwi mungkin masih bertanya-tanya, dari rahim siapakah atheis ini terlahir.

img02. Kemerdekaan Beragama

img02. Kemerdekaan Beragama

 

Peran negara dalam mengelola berbagai perbedaan kepercayaan mutlak diperlukan untuk menjaga kerukunan dan ketentraman setiap penganut agama serta kepercayaan. Negara berfungsi sebagai pengayom dan pemelihara aset mental dan rohani para warganya. Sejarah membuktikan bahwa keyakinan yang kuat pada ajaran ketuhanan rakyat Indonesia adalah dorongan moril paling kuat dalam perjuangan melawan penjajahan. Lihat saja peran tokoh Bung Tomo di Surabaya. Dalam konteks pembangunan, hal tersebut juga akan berperan sangat penting dalam membentuk etos kerja masyarakat. Sebuah misi yang bersumber dari tuntutan dan tuntunan kerohanian akan memberi dampak yang lebih besar bagi para pengabdi Tuhan.

Di sisi lain, propaganda kekerasan dan konflik berlatar agama adalah salah satu cara menjauhkan masyarakat dari jiwa ketuhanannya. Pesan yang disampaikan adalah, Tuhan yang tak nyata itu tak bisa membawa perdamaian. Hanya “tuhan” nyata yang bisa memberi makan dan nafkah serta kedamaian secara langsung kepada hambanya. Logika Mistika nampaknya telah berhasil dibantah oleh Logika Materi. Kehidupan nyata memang selalu mampu dijelaskan dengan pasti dengan menggunakan logika materi. Anda akan selalu membutuhkan biaya tak peduli seberapapun kecilnya kebutuhan hidup anda. Dan itu benar-benar nyata. Jadi untuk apa anda menyibukkan diri dengan semua Tuhan yang tidak nyata itu?

img03. Pasar buat produk apakah manusia jenis ini?

img03. Pasar buat produk apakah manusia jenis ini?

 

Keakraban masyarakat Nusantara dengan Tuhan sesembahan mereka menyebabkan kaum industrialis merasa gemas. Pertumbuhan monster-monster industri berskala besar di negara maju membutuhkan nutrisi berupa bahan baku skala besar. Setelah itu ia akan melampiaskan syahwatnya dengan mencari atau memperoleh – kalau perlu – dengan paksa, pasar bagi hasil industri-industri mereka. Logika Mistika terhadap Tuhan yang tidak nyata dalam masyarakat tradisional Nusantara bukanlah sebuah bentuk nutrisi dan jenis pelampiasan yang dicari. Satu-satunya jalan adalah dengan membawa “tuhan” yang lebih nyata ke tengah-tengah mereka. Dan ketika “tuhan” baru tersebut berkuasa, maka dengan segera kita menyaksikan berapa besar kerusakan yang ditimbulkannya pada bangsa ini. Kerusakan lingkungan fisik di Kalimantan dan Papua serta degradasi moral para pemuda calon penerus bangsa adalah sebuah hal nyata di depan mata.

img04. Rumah-rumah Tuhan

img04. Rumah-rumah Tuhan

 

Ketika sebuah ideologi di luar Pancasila mengenyampingkan atau bahkan meniadakan peran serta dan kehadiran Tuhan yang Maha Esa dalam kehidupan bermasyarakatnya, maka bisa dipastikan ideologi tersebut akan meracuni sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Baik ketika ia diterima secara sadar maupun saat jiwa kita tanpa sadar menjalankan ideologi non Pancasila tadi dalam kehidupan berbangsa kita. Jiwa ketuhanan dalam diri bangsa Indonesia menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai sasaran utama pembangunan nasional. Bukan benda, bukan pula materi melainkan jiwa. Jiwa Indonesia. Jiwa yang hanya bisa tumbuh dari pancaran kelima sila dalam Pancasila. Dan saat kita bertanya, “Apakah Indonesia akan mampu berjalan tanpa keberadaan Tuhannya?”. Maka perhatikanlah, bahwa sila paling awal itu berbunyi, Ketuhanan yang Maha Esa…!!

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.