Phoenix Merah Putih

Bambang Priantono

 

Semasa aku kecil, Makco selalu mencorat-coret gambar burung phoenix di secarik kertas. Burung mitologi Tionghoa ini selalu digambarkannya dengan sangat indah, tapi kakinya terbelenggu rantai, sementara seekor garuda hanya terbang mengitari burung itu.

“Makco, kenapa engkau selalu menggambar burung phoenix itu dalam keadaan terikat?”

Makco hanya tersenyum kepadaku dan menyodorkan gambarnya padaku.

“Kau simpan saja, A Ming.” Dengan tatapan yang susah kumengerti. Makco kemudian melanjutkan aktivitasnya menjaga toko. Sementara Papi dan Mami sedang ada urusan di luar. Yang kuingat, Makco juga sangat aktif dalam perjuangan kemerdekaan ketika muda dulu. Beliau dan Kongcolah yang menyelundupkan senjata kepada pejuang dan barang-barang kebutuhan lainnya dan sangat mencintai tanah airnya jauh melebihi tanah leluhurnya sendiri.

Hampir setiap hari Makco menggambar burung phoenix yang terikat itu dan selalu dengan ucapan yang sama, dia memintaku menyimpan semua gambar phoenix itu.

”Nanti kau akan tahu artinya, A Ming.” Selalu demikian kata Makco ketika kutanya.

“Kau jangan banyak bertanya, nanti kita yang jadi korban.” Jawaban yang pasti akan kuterima. Semenjak Kongco meninggal pada masa kerusuhan tahun 1965 dulu, Makco menjadi sangat tertutup dan ketika ku lahir, kebiasaan menggambar itu sudah muncul.

Aku hanya terdiam tanpa bisa membantah lagi. Entah berapa banyak hingga gambar phoenix terbelenggu itu memenuhi lemariku dari hari ke hari.

Bahkan dalam angpau yang kuterimapun, Makco selalu selipkan gambar itu di sela-sela uang yang diberinya dengan diam-diam karena masa itu masa dimana kami dilarang mengekspresikan diri kami sendiri.

“Tidak!” aku terbangun dari tidurku.

Aku melihat burung phoenix itu terbelenggu dalam mimpiku.

Dia tidak berdaya.

Ingin bebas.

Seekor garuda besar juga hanya terbang berputar-putar di sekeliling phoenix. Diapun seolah tak berdaya karena ada kekuatan besar nan kejam yang menghambat gerakannya.

Makco selalu berkata “Suatu saat kau akan tahu maksudnya.”

Ketika Makcoku meninggal, dan rumah kami nyaris jadi korban kerusuhan 1998, aku diberikan sebuah buku gambar yang biasa Makco pakai untuk menggambar. Di kamarku yang setengah hangus, aku membuka buku gambar itu.
Phoenix itu terbakar! Bersama garuda disebelahnya! Apa maksudnya ini?

Aku merasa ada kekuatan yang mendorongku untuk menggambar di halaman berikutnya. Yang tergambar hanyalah api yang membakar garuda dan phoenix itu bersama-sama. Aku buru-buru tutup buku itu dan aku simpan kembali. Aku sangat takut, tidak bisa membayangkan apa-apa lagi.

Sayangnya, semua gambar-gambar Makco entah ada dimana. Sejak kerusuhan itu, semua barang telah hangus, dan kamipun harus berpindah meninggalkan tempat yang selama beberapa generasi menjadi rumah kami. Gambar-gambar itu entah terselip di mana.
“Burung itu terbakar!”

“Phoenix itu…tidak!”

Aku hanya bisa berteriak, tapi tak mampu mencegah. Burung phoenix itu mengorbankan dirinya. Dia membakar dirinya, api menjalar ke sekujur tubuhnya yang terbelenggu. Dia tampak pasrah dan memejamkan matanya seolah menanti-nanti sesuatu yang indah. Api semakin membakar dan saat yang sama, sang garuda membenturkan kepalanya ke penghalang tak kasat mata yang membelenggu selama ini.

BYARRRRRR!!!!
Suara seperti kaca pecah terdengar. Aku melihat sang garuda mengepakkan sayapnya dengan penuh wibawa sementara phoenix telah hilang ditelan api.

Aku hanya bisa berteriak. “phoenix! Phoenix!”

Tiba-tiba Makcoku muncul tepat di depanku.

“Papi, bangun!” tiba-tiba istriku membangunkanku di tengah panikku.

Aku sontak terbangun dan duduk. Istriku menanyakan apa yang terjadi, dan aku menceritakan mimpi itu. Istriku hanya berkata. “Sudahlah ko, kenapa kau risaukan mimpi itu. Sebentar lagi Imlek…kita harus siap-siap ke kelenteng nanti.”

Aku masih membayangkan mimpi itu. Bahkan ketika bersembahyangpun aku masih mengingat-ingat burung phoenix yang terbakar tadi. Sampai akhirnya aku tanpa sadar melihat bara-bara dalam lilin yang dipasang di klenteng itu tiba-tiba berubah. Apinya seolah menyatu membentuk sesuatu. Sesuatu yang makin lama, makin nyata.
Membentuk sosok burung yang aku kenal.

“Phoenix!” teriakku tanpa sadar.

phoenix

Sosok itu makin sempurna wujudnya, burung keemasan yang sangat indah. Tapi aku melihat ada yang berbeda. Kedua belah sayapnya berwarna merah emas dan putih bersih, keduanya memancarkan sinar yang kemilau. Dia mengepakkan sayapnya berkali-kali, dan menatap ke arahku. Tatapannya mengingatkanku pada Makco! Sorot itu mirip dengan Makcoku yang telah tiada bertahun lalu.

“Siapa kau?” aku bertanya tapi hanya aku yang dapat mendengarkan.

Tapi dia hanya diam, dan terdengar suara seperti suara almarhumah Makcoku.

“Inilah jawabannya, A Ming cucuku. Burung itu sekarang bebas. Terbang bebas bersama garuda, tanpa kekangan dan ketakutan lagi.” Kemudian burung itu membumbung tinggi, dan dari arah berlawanan muncullah garuda yang selalu ada dalam mimpiku. Mereka terbang berlawanan, dan kemudian beriringan. Membentuk bayangan merah dan putih yang sangat indah.

Hanya aku yang melihatnya, tapi..

“Papi, kau juga melihatnya?” Tanya istriku.

“Kau,….kau tahu burung itu?” Aku bertanya balik di tengah keterkejutanku.

Dia hanya mengangguk sambil terus menatap kedua burung yang kemudian menyatu dan hilang perlahan dari langit. Sekembalinya kami ke rumah, aku masuk ke dalam gudang. Aku mencari alat bengkelku yang entah kutaruh dimana. Pletak!

Tiba-tiba ada sesuatu yang menimpa kepalaku. Dengan kepala yang sedikit sakit, aku ambil benda yang menimpaku.
Buku gambar Makcoku! Buku gambar yang lama hilang sejak bertahun-tahun lalu. Aku buru-buru membuka lembar demi lembarnya. Aku melihat ada gambarku, gambar api yang melalap burung phoenix dan ketika kubuka lembar berikutnya. Aku terkejut.

Ada gambar baru yang tak pernah kulihat sebelumnya. Burung phoenix terbang bersama garuda dengan cahaya merah dan putih di sekeliling mereka! Gambar itu seolah hidup, dan aku tak tahu siapa yang menggambarnya.
Apakah Makco yang meninggalkan pesan ini? Inikah yang diimpikannya selama ini?

 

Tangerang, 20 Februari 2015

09.00 – 10.45 WIB

 

NOTE REDAKSI:

Hari ini adalah hari terakhir rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, yang disebut Cap Go Me – tanggal 15 bulan 1 Lunar Calendar.

HAPPY CAP GO ME…

 

 

About Bambang Priantono

kerA ngalaM tulen (Arek Malang) yang sangat mencintai Indonesia. Jebolan Universitas Airlangga Surabaya. Kecintaannya akan pendidika dan anak-anak membawanya sekarang berkarya di Sekolah Terpadu Pahoa, Tangerang. Artikel-artikelnya unik dan sebagian dalam bahasa Inggris, dengan alasan khusus, supaya lebih bergaung di dunia internasional melalui blognya dan BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.