Sarjana Ibu Rumah Tangga

Dewi Aichi – Brazil

 

Menjadi total di rumah saja setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan atau pegawai adalah anugerah yang luar biasa bagi saya. Betul, memang pendapatan kita akan berkurang banyak, tetapi saya mendapatkan gantinya yang lebih berharga. Yaitu kebebasan waktu.

sarjana-ibu-rumah-tangga1

Dulu ketika menjadi pegawai, saya harus bangun pagi, selain urus segalanya untuk keluarga, harus dan wajib bisa membagi waktu untuk diri sendiri. Apalagi saya tidak pernah menggunakan jasa pembantu atau asisten rumah tangga, otomatis semuanya harus bisa diatasi dan diselesaikan oleh saya.

Sekarang, semuanya menjadi lain. Waktu yang ada, saya yang atur. Bebas. Tidak terikat dengan apapun. Untuk itu saya lebih senang mengerjakan semuanya sendiri. Inilah kesempatan saya yang dulu tidak pernah bisa terpenuhi.

Sudah lama sekali saya tidak lagi membiasakan diri untuk makan di luar (resto). Dulu hampir setiap weekend, atau bisa dikatakan setiap saat makan di resto. Malah pernah saya pesan catering dalam jangka waktu hampir 1 tahun. Sambil membayangkan apa yang saya masukkan ke dalam mulut, dan bagaimana makanan itu dibuat. Tentu itu sebuah kenekatan, atau keterpaksaan. Keadaan yang memaksa demikian.

Saya lebih suka ganti-ganti menu setiap hari. Masakan sederhana tapi fresh. Saya yang membuat, saya yang membumbui, saya tau semua proses makanan yang akan saya hidangkan untuk keluarga kecil saya. Saya juga suka membuat kue-kue kering untuk camilan sehari-hari maupun bekal anak sekolah. Saya suka membuat berbagai macam bolu untuk menemani minum kopi di pagi dan sore hari.

Intinya, saya bahagia bisa mempunyai waktu untuk mengerjakan semua itu. Saya juga melakukan pekerjaan saya yang bisa sedikit mendapatkan pemasukan, tetapi tidak menyita waktu saya untuk keluarga. Inilah cita-cita saya dulu ketika masih full time bekerja di luar rumah.

Saya ingat kata-kata teman saya yang seorang wanita karier, yang waktunya lebih banyak di kantor. Teman saya mulai berpikir untuk mendidik anaknya untuk wiraswasta atau dagang. Mungkin karena teman saya merasa banyak kehilangan waktu bersama keluarga, jadi Ia berharap agar anaknya nanti bisa lebih banyak waktu untuk keluarga dan masih tetap bisa bekerja yang di kelolanya sendiri.

Wanita menempuh pendidikan tinggi, mau S1 sampai S3, bukan berarti harus berkarier kan? Bukan hal yang aneh jika seorang wanita berpendidikan tinggi tetapi memilih sebagai ibu rumah tangga. Sayang? Ahh…itu anggapan yang keliru menurut saya. Berpendidikan tinggi juga akan berguna untuk menurunkan ilmu dan kemampuannya kepada anak-anaknya.

sarjana-ibu-rumah-tangga2

Seperti itu seharusnya komentar terhadap wanita berpendidikan tinggi yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Tetapi memang masih sulit. Biasanya para orang tua, menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya dengan harapan kelak akan menjadi orang berkarier, meraih kedudukan yang penting, pengusaha sukses, PNS dll. Semua itu tidak ada salahnya, wajar orang tua punya harapan. Tetapi jika seorang wanita berpendidikan tinggi memilih menjadi ibu rumah tangga, mungkin banyak pihak yang menyayangkan. Apalagi sekarang ini jaman emansipasi di mana wanita berkedudukan sama dengan pria dalam hal karier. Kesempatan berkarier bagi wanita juga sangat terbuka.

Padahal kalau mau berpikir dengan jernih, seorang wanita berpendidikan tinggi yang memilih menjadi ibu rumah tangga, itu sangat hebat, sama hebatnya dengan wanita yang memilih berkarier sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Dengan bekal ilmu yang diperolehnya di sekolah, seorang ibu rumah tangga bisa menerapkan pola didik yang berkualitas terhadap anak- anaknya. Seorang ibu yang berpendidikan, dengan seorang ibu yang tidak berpendidikan sama sekali, tentu lain pola pikir cara mendidik anak-anaknya.

Orang berpendidikan tinggi dan memilih berada di rumah, bukan berarti menyia nyiakan ilmunya, rugi, sekolah tinggi tinggi jika akhirnya hanya menganggur. Menganggur? Aduh..mungkin harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum menganggap bahwa di rumah itu menganggur.

Di Jepang bahkan menganggap karier paling tinggi adalah menjadi ibu rumah tangga, apalagi Ia seorang sarjana. Sistem pendidikan dan kebudayaan di Jepang sepenuhnya mengandalkan perempuan dalam membesarkan anak( dikutip dari buku karya Fidelis E. Waworu: Membangun Budaya Berbasis Nilai). Merujuk pada kalimat tersebut, maka bisa dikatakan bahwa masa depan Jepang berada di tangan para wanita ibu rumah tangga.

Tulisan ini bukan berarti saya setuju dengan stigma wanita harus tinggal di rumah, menjadi ibu rumah tangga, memasak, mengurus rumah, mengurus anak saja dll. Bukan itu inti tulisan ini. Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan dan keinginan, bukan keharusan apalagi paksaan.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *