Mari Menggunakan Kata “Daripada” dan “Mendingan” Pada Saat yang Tepat

Yeni Suryasusanti

 

Masih ingat kata mutiara “Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit”? Tentu masih ya…

Atau, pernah dengar ungkapan “Kalo bermimpi itu jangan tanggung-tanggung”? Mungkin pernah ya…

Apa sih kesamaan antara kedua kutipan di atas? Keduanya sama-sama menyarankan kita menetapkan suatu keinginan setinggi-tingginya untuk memacu semangat kita dalam mencapainya. Berbicara tentang cita-cita dan mimpi, bedakan dengan berbicara mengenai target.

Jika untuk cita-cita dan mimpi kita boleh meletakkannya setinggi mungkin, sementara untuk target kita harus lebih realistis.

Katakanlah kita ambil contoh sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan yang sehat akan selalu menetetapkan target yang lebih tinggi daripada hasil pencapaian selama ini. Tapi target ditetapkan tidak boleh terlalu tinggi seperti mimpi. Karena target harus dicapai dalam jangka pendek, sementara mimpi boleh dicapai dalam jangka panjang. Meskipun demikian, sangat jarang target yang ditetapkan menurun dibandingkan target sebelumnya. Seburuk apapun kondisinya, biasanya minimal target yang ditetapkan akan sama dengan target yang sebelumnya.

Lalu apa kaitannya hal yang saya tulis di atas dengan judul tulisan ini?

Saat ini saya melihat banyak orang menggunakan kata “daripada” dan “mendingan” pada saat yang belum tepat, bahkan tidak tepat.

“Daripada berhijab tapi memiliki sifat yang jahat, mendingan nggak berhijab tapi memiliki sifat yang baik.” Mungkin banyak yang setuju kalimat di atas…Tapi saya tidak setuju. Mengapa?

Karena hal di atas bukan merupakan realitas yang harus saya pilih saat itu juga. Karena kondisi di atas hanya merupakan pengandaian. Karena saya diminta untuk menurunkan standar nilai-nilai yang telah saya anut pada saat yang belum tepat. Maka saya memilih tetap dengan standar nilai ideal yang seharusnya yaitu “Berhijab dan memiliki sifat yang baik” dan tidak menentukan pilihan saya dari kedua pilihan yang sama-sama memiliki kekurangan, karena memang tidak perlu …

Lain halnya jika saya dihadapkan pada keharusan untuk memilih pilihan nyata di depan mata.

Misalnya ada dua orang dengan karakter seperti di atas:

Si A telah berhijab tapi memiliki sifat yang jahat
Si B belum bersedia berhijab tapi memiliki sifat yang baik

Namun keduanya sama-sama profesional dan memiliki kemampuan kerja yang baik.

Situasi 1:

Saya diminta memilih salah satu dari mereka untuk menjadi rekan kerja saya satu team. Mana yang akan saya pilih?
Tentu saya akan memilih si B. Mengapa? Karena keadaan mengharuskan saya memilih salah satu atau team saya akan pincang. Dan saya memilih orang yang beresiko lebih kecil untuk menjadi duri dalam daging dan menghancurkan kerjasama di antara seluruh anggota team.

 

Situasi 2:

Saya diminta untuk memilih salah satu dari mereka untuk ikut dalam team negosiasi ke Aceh dan akan berhadapan dengan penduduk asli. Tentu saya akan memilih si A. Mengapa? Karena di daerah yang penduduknya menjunjung tinggi syariah Islam, akan lebih mudah melakukan lobby jika kita terlihat memiliki keyakinan yang sama. Sama seperti saya akan memilih si B jika kunjungannya ke penduduk asli Manado. Karena saya harus memilih dengan pertimbangan yang tepat demi suksesnya target dan tujuan bersama.

Ini adalah contoh saat saya harus bersedia mengabaikan standar nilai ideal yang telah saya tetapkan pada saat yang tepat dan menggunakan skala prioritas atas tiap-tiap nilai tersebut karena keadaan mengharuskan demikian.

Namun demikian tetap akan ada type orang yang tidak mau memilih jika pilihannya tidak sesuai standar, dan memilih untuk melepaskan kesempatan menambah anggota team. Orang type seperti ini akan memilih kerja rodi bersama team yang sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan olehnya daripada memilih salah seorang anggota yang di bawah standar.

Sama seperti kondisi sekarang ini.

“Daripada pemimpin yang santun tapi korupsi, mendingan pemimpin yang kasar tapi jujur”.

Jika hal ini ditanyakan kepada saya, “Pemimpin mana yang lebih baik bagimu?

Maka saya akan berkata, “Tidak keduanya. Bagi saya, yang baik adalah pemimpin yang santun dan jujur.” Mengapa? Karena saat ini pada kenyataannya saya belum perlu menentukan pilihan. Jadi saya memilih untuk tetap mempertahankan standar nilai ideal yang telah saya tetapkan selama ini.

Namun, jika saya dihadapkan pada kondisi harus memilih seperti misalnya saat Pilkada atau Pilpres, barulah saat itu saya akan mengabaikan standar nilai ideal saya, menerapkan skala prioritas untuk menyesuaikan dengan pilihan yang ada …

Seperti saat Pilpres yang lalu, itulah saat yang tepat bagi kita bersikap realistis dan mengabaikan standar nilai ideal yang kita inginkan dari seorang Presiden dan orang-orang terdekatnya, dan menggunakan skala prioritas.

Ada yang memilih Bp. Jokowi karena lebih tidak mau memilih Golkar yang orang-orangnya sudah banyak “mengemplang” Indonesia, walaupun mereka juga tidak menyukai PDIP. Ada yang memilih Bp. Prabowo karena lebih tidak mau memilih Syiah yang berada di team Bp. Jokowi, walaupun mereka juga tidak menyukai Golkar. Dan ada banyak pertimbangan lain yang mendasari pemilihan atas kedua calon ketika itu. Masing-masing punya pertimbangan sendiri, dan itu sah-sah saja karena memang dihadapkan pada situasi kita harus memilih kedua calon yang keduanya memiliki kekurangan alias tidak ideal.

Tapi, tetap juga mungkin ada yang bilang, saya lebih baik golput, daripada memilih yang calon yang keduanya buruk. Ya, itu juga hak mereka hehehe…

comparison

Jadi, sebaiknya janganlah menggunakan kata “Daripada” dan “Mendingan” pada sesuatu hal yang terkait “Value” alias standar nilai ideal. Karena value itu sama seperti dgn cita-cita dan impian, yang sebaiknya kita letakkan setinggi-tingginya. Bahkan target saja sebisanya kita tetapkan lebih baik, mengapa untuk value kita bersedia menurunkan standarnya. Kita bisa menggunakan kedua kata tersebut saat kita memang dihadapkan pada situasi harus memilih. Dengan demikian, standar nilai yang telah kita tetapkan tidak akan menurun standar idealnya.

Tidak mengapa jika kenyataan yang ada pencapaiannya jauh di bawah standar nilai ideal dalam hidup kita. Kita kan bisa belajar untuk ikhlas menerimanya. Namun jangan membuat standar ideal kita menurun hanya karena kondisi yang ada. Karena, hal ini berpotensi mengakibatkan pencapaian yang semakin menurun pula…

 

Jakarta, 6 Maret 2015
Yeni Suryasusanti

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.