Semoga Kamu Bahagia

Wesiati Setyaningsih

 

Ruangan riuh dengan orang yang saling menyalami teman yang berulang tahun bulan Februari. Terjebak dalam antrian, aku melihat seorang teman melangkah menjauh dari keriuhan. Kupanggil dia dan aku keluar dari antrian, mendekati dia yang juga berulang tahun di bulan ini.

Mendengar aku memanggil, dia menghentikan langkah dan berbalik. Kuulurkan tangan dan menyalaminya.

“Selamat ulang tahun, semoga sehat dan bahagia selalu,” kataku.

Dia menepuk tanganku tak menjawab apa-apa, mungkin terbayang semua yang telah terjadi padanya. Sejak stroke ringan yang menimpanya, dia tak lagi bisa berjalan sebagai mana sebelumnya. Sampai sekarang dia masih sedikit tertatih saat melangkah.

Sesekali aku menanyakan bagaimana perkembangan kesehatannya karena memang tidak tiap hari bertemu. Masing-masing kami memiliki jam mengajar yang padat, belum lagi urusan ini itu yang mesti kami selesaikan.

“Baik, kok. Sampai sekarang masih terapi. Tiap minggu aku terapi,” katanya.

Bicaranya tak lagi ceplas ceplos. Dulu sebelum aku sakit dia paling suka meledekku.  Beberapa kali aku tak suka, tapi aku tak bisa apa-apa. Marah bakal percuma karena dia merasa semua itu becandaan belaka. Sebenarnya tak hanya aku, banyak teman yang terkena kata yang tidak menyenangkan, dari sesuatu yang buat dia candaan, sampai emosi yang tak mampu dia tahan. Tak ada yang mampu melawan.

Tiba-tiba dia tak lagi tampak mencandai teman-teman seperti biasa. Tahu-tahu beberapa waktu kemudian dia lemas di kantor dan dibawa pulang. Belum sempat menengok, katanya dia dibawa ke rumah sakit. Tapi di rumah sakit hanya beberapa hari, kemudian dia pulang lagi. Lama tak masuk,  akhirnya dia bisa bekerja lagi dengan bibir yang tidak lagi simetris dan kaki yang pincang sebelah.

Aku masih ingat apa saja yang dia lakukan padaku, tapi sakit hatiku menguap entah ke mana. Rasanya semua tak berarti lagi. Yang ada hanya rasa kasihan dan prihatin, serta doa semoga dia segera kembali seperti semula.

Sejak itu tak pernah ada lagi candaannya yang ramai dan sering kali menyakitkan hati untuk yang dijadikan obyek candaan. Dulu, aku termasuk salah satu obyek langganan karena aku memang jauh lebih muda dan buat dia aku ini ibarat anaknya.

Saat itu, ketika kusalami, tampak keharuan di matanya. Ulang tahun, mungkin sesuatu yang biasa. Tapi bagi mereka yang pernah mengalami sakit dan akhirnya diberi kesembuhan dan bisa melanjutkan hidup dengan baik, rasanya seperti anugerah tak terkira. Aku paham benar itu. Maka doaku selalu bagi siapapun adalah ‘semoga sehat dan bahagia selalu’.

Semua orang butuh sehat agar bisa melanjutkan hidupnya dan berkarya. Setiap orang selalu ingin bahagia agar hidup mereka terasa bermakna. Jadi kurasa doa itu yang cocok buat siapapun. Rasa haru menyeruak ketika aku sendiri menyadari bahwa doa itu memang kupanjatkan sepenuh hati agar dia selalu sehat dan tak lagi mengalami sakit seperti sebelumnya.

happiness

Tiba-tiba tangannya terulur seperti meminta aku bersedia memeluknya. Kupeluk dia sesaat dan kutepuk punggungnya. Apalah artinya sakit hati kalau itu tak akan membuat siapapun bahagia? Kumaafkan semuanya, bisikku dalam hati, semoga kamu selalu bahagia.

Semoga semua mahluk berbahagia.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.