How Difficult to Explain Why

Yuni Astuti

 

Betapa sulitnya lisan ini untuk menjawab sebuah pertanyaan: Mengapa? Terkadang, jawabannya diawali dengan : KARENA….

Namun, saya merasakan kadang mengucapkan “karena” tidak semudah menuliskannya. Ada banyak hal yang menghalangi kita untuk mengungkapkan segala hal dengan gamblang. Apa kau pernah merasakannya?

why

Dalam hal apapun, ketika kita telah memutuskan sesuatu, biasanya ada saja orang yang bertanya, mengapa kita melakukan itu. Istilahnya apa, kepo gitu ya? Ya wajar sih, namanya saja manusia, pasti ada saja rasa ingin tahunya. Apalagi kalau sesuatu yang diputuskan itu bertolak belakang dengan kenyataan yang selama ini tampak jelas.

Saya kasih contoh, misalnya, ada seorang wanita yang selama ini menampakkan bahwa dirinya baik-baik saja, dalam kondisi bahagia. Suatu kali, kita mendapati kenyataan bahwa dia membunuh anak-anaknya. Ini kisah nyata lho, pernah ada kejadian kayak gini. Maka yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah, mengapa dia melakukan itu? Seorang ibu yang bahagia kok bisa-bisanya membunuh anak-anaknya?

Kalau kita tidak mendapat jawaban yang memuaskan, atau kalaupun kita mendapatkan jawaban tapi tidak sependapat dengannya, maka apa yang akan muncul lagi dalam benak kita? Biasanya: justifikasi.

“Ah dasar itu ibu sudah gila. Mana mungkin ada ibu yang tega melakukan itu!”

“Sungguh biadab dia!”

“Patutnya dia dihukum seberat-beratnya”

Dan berbagai justifikasi lainnya.

Hihi… serem juga ya kalau bicara tentang bunuh-bunuhan. Contoh lain lagi deh, ketika seseorang memutuskan berhenti dari pekerjaannya, maka orang-orang sekitarnya akan menanyakan Mengapa. Iya kan? Apalagi kalau misalnya bekerja di sana profitnya lumayan besar, maka biasanya komentar orang adalah

“Sayang sekali, kenapa berhenti? Nggak sayang tuh sudah bertahun-tahun bekerja?”

Dan bisa jadi ketika jawabannya tidak memuaskan, yang muncul kemudian lagi-lagi justifikasi. Apalagi kalau keputusan itu mendadak, atau lebih tepatnya karena seseorang itu tidak bicara pada siapa-siapa mengenai keputusan yang hendak diambilnya.

Tak masalah dengan semua itu, dunia memang dipenuhi dengan beragam karakter manusia, iya kan? Ketika ada yang kecewa akan keputusan kita, tak masalah. Dan ketika kita kecewa terhadap keputusan yang diambil orang terdekat kita, percayalah bahwa dia telah melalui tahapan demi tahapan hingga telah sampai pada puncaknya. Ya mungkin dia tidak pernah cerita kepada kita tentang prosesnya, hingga kita hanya tahu endingnya. Tak apa. Itu keputusan  dia. Dan kalaupun kita kecewa, jika dia yakin dengan keputusannya itu maka dia akan memertahankannya. Tak akan goyah hanya karena teman-temannya menjustifikasinya demikian rupa.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.