Film Fury (2014): “No Woman No Cry”

Alfred Tuname

 

Pada malam ketika tembok Tiongkok jadi,

Ke manakah para tukang batu pergi?

-Bertolt Brecht

 

Tidak ada yang tahu sejarah para tukang batu itu. Mereka adalah orang kecil yang dilupakan sejarah. Memang, sejarah hanya mengagung-agungkan sang raja dan keluarganya. Sejarah ditulis oleh pemenang dengan bantuan juru tulisnya. Karena itulah orang selalu ingin pecut untuk merasakan kekuasaan. Hitler, pada World War II (WWII), gagal menjadi pelukis, ia jadi seorang politikus ulung demi kekuasaan. Dia-lah pemimpin Nazi Jerman dengan ideologi ultra-nasionalisme, fasisme.

Maka terjadilah WWII yang pada satu serpihan sejarahnya difiksionalisasi secara audiovisual dalam film Fury (2014). Menonton film tentu merupakan hal yang “dulce et utile” (istilah Horatio). Dulce, karena ada keindahan skolastik dalam film. Thomas Aquinas menulis, “pulchrum dicitur id cuius apprehensio placet” (keindahan bila ditangkap dengan menyenangkan). Maka “tangkapan” audivisual para spektator (penonton) menentukan keindahan film. Utile, karena film juga fungsi penting bagi peradaban. Sebagai karya sinematografi, film berbicara secara “hidup” tentang berbagai dimensi kehidupan manusia.

Melalui film, spektator melihat ketelanjangan dirinya. Karenanya, film dituduh sebagai pervert art (istilah Slavoj Zizek). Fim nyaris tidak dibuat untuk memenuhi hasrat spektator, melainkan mendemonstrasikan kepada spektator cara berhasrat (how to desire). Maka film pun tidak lepas dari sejarah tentang hasrat manusia dengan segala variasi dan diferensiasinya. Justru, secara psikoanalisis, lantaran hasratlah episentrum geliat dinamis hidup manusia.

Film Fury juga bercerita tentang hasrat, hasrat Nietzschean yakni the will to power. Hasrat Nietzschean dalam film ini bekerja sercara vulgar dengan dimensi imperatif Superego, enjoy!- “the more you play with power, the more you feel guilty”. Guilty (rasa bersalah) adalah signal simptomatik bahwa seseorang tidak akan pernah puas akan kekuasaan ketika ia sudah pernah meneguk manisnya anggur kekuasaan itu. Di sini langgam “Hotel California[1]” Syndrome berakar. Bahwa “you can check out anytime you like from power, but you can never leave”. Manusia pun mabuk dalam pernjara kekuasaan dengan caranya sendiri.

So, welcome to the polyinterpretation of film Fury (2014).

 

fury-2014

Sinopsis

Film Fury (2014) yang disutradarai oleh David ini merupakan film napak tilas sejarah Perang Dunia II. Film ini mengangkat sebuah garis kecil sejarah injury time Perang Dunia II, yakni bulan April 1945. Saat itu tentara sekutu sudah memasuki jantung kekuasaan Nazi Jerman dan dekat dengan “kepala” Hitler. Pasukan Angkatan Darat Amerika divisi tank (panzerdivision) dan pasukan infantri (panzergrenadier) siap memasuki jantung kekuasaan Nazi tersebut. Dari sinilah film Fury dimulai.

Seorang tentara Amerika (US Army) berpangkat sersan bernama Don “Wardaddy” Collier (Brad Pitt) menjadi komandan tank M4A3E8 Sherman. Tank ini dijuluki sebagai Fury. Di komando Wardaddy, awal gang of Fury (panzertruppe) terdiri dari  Boyd “Bible” Swan (Shia LaBeouf), gunner; Grady “Coon-Ass” Travis (Jon Bernthal), loader; and Trini “Gordo” Garcia (Michael Peña), driver. Pada awal cerita film, seorang anggota gang Fury tewas tertembak. Seorang Army typist bernama Norman Ellison pun ter-recruit menjadi bagian dari gang of Fury. Grady Travis menjukinya sebagai “machine”.

Sebagai seorang army typist, Norman tidak dilatih untuk menembak. Nurani humanis-religiusnya masih belum menerima aksi saling membunuh, meksipun dalam perang. Karenanya, ia tidak bisa menembak anggota Hitler Youth (Hitlerjungend) saat ia melihat pergerakan musuh Sekutu itu. Akibat sikapnya itu, sebuah tank dalam konvoi mereka hancur oleh penyerangan anggota Hitler Youth menggunakan panzergranate. Pemimpin platon, Letnan Parker (Xavier Samuel) dan panzertruppe tewas saat itu juga.

Wardaddy tertantang untuk mendidik Norman. Kemenangan saat bertempaur melawan pasukan anti-tank Nazi, menjadi “kelas” pertama bagi Norman untuk belajar menggunakan senjata. Norman dipaksa par force menembak di tempat seorang tentara Nazi yang tersandera. Kelas pertama itu sukses dengan doktrin utama, “kill or to be killed”.

Keakraban Norman dan Wardaddy terjadi ketika konvoi platoon yang dipimpinnya masuk sebuah kota kecil di Jerman. Setelah tentara Nazi dilumpuhkan, para pasukan tank dan infrantri itu sejenak menikmati “jamuan” selamat datang. Perempuan dan makanan menjadi sasaran. Sementara gang of Fury menikamati “jamuan” itu di bilik tank, Norman dan Wardaddy berbagi kebersamaan dengan dua perempuan Jerman, Irma (Anamaria Marinca) dan sepupunya, Emma (Alicia von Rittberg). Kehadiran dua perempuan itu membuat sisi persahabatan Wardaddy dan Norman menjadi akrab. Norman pun menjadi “murid” paling setia kepada Wardaddy. Intrusi gang of Fury membuat pesta jamuan menjadi kacau, dan diberhentikan bom artileri tentara Nazi. Emma dan Irma pun meninggal di reruntuhan bangunan sembari menyisahkan kesedihan dan kehilangan yang mendalam bagi Norman yang pelan-pelan mencintai Emma.

Pertempuran berlanjut. Konvoi pimpinan Wardaddy mendapat tantangan hebat. Sebuah tank canggih buatan Jerman Tiger I menembak tiga tank Sherman dalam konvoi itu. Blitzkriegface to face” tidak bisa menghancurkan Tiger I. Tetapi, kekayaan pengalaman (dari perang di Afrika Selatan, Perancis dan Belgia) dan strategi Wardaddy membuat Tiger I harus lumbuh dan hancur. Gang of Fury pun melanjutkan perjalanan sendirian tanpa alat komunikasi.

Fury harus berhenti di sebuah persimpangan karena rantainya terlepas dihantam ranjau. Dalam proses perbaikan dan pemasangan ulang rantai itu, dari kejauhan tiga ratusan tentara infantri SS (Schutzstaffel: Nazi special police force) berarak pada lajur jalan yang sama. Pertempuran berikut pembantaian nyaris pasti tidak bisa terhindari. Meski gang of Fury ragu, espirit de corps membuat mereka harus setia kepada Wardaddy yang tidak ingin lepas dari jati diri prajurit. Kontak senjata terjadi menjelang malam. Ratusan tentara SS tewas. Tetapi Grady, Trini, Boyd dan Warddady pun harus tewas seiring menyusutnya pasokan amunisi. Tertinggal Norman yang selamat. Ia pun dijadikan “the hero” setelah US Army unit medis membebaskannya dari kesendirian dan ketakutan di dalam tank Fury.

 

In Hoc Signo Vinces

“Semua kisah sejarah”, kata sejarahwan Belgia Henri Pirenne, “sekaligus sintesa dan juga hipotesa”. Sejarah menjadi sintesa karena begitu banyak narasi dan deskripsi atas fakta yang dipadukan dalam satu kesatuan. Semantara, dijadikan hipotesa karena proyek silogisme dan koherenasi antara fakta-fakta itu belum tentu bisa dibuktikan.

Meskipun begitu, dari sejarah orang dapat mengcangkul makna untuk memanen masa depan yang gemilang. Tentu makna itu tidak given, tetapi seperti ubi yang harus dicangkul dan digali. Bahwa ada fakta sejarah yang berhasil difiksionalisasi oleh David Ayer dalam film Fury (2014). Film Fury tentu hanyalah sepotong cerita dari berlembar-lembar sejarah WWII yang ditulis dengan darah dan air mata.

Dari sepotong cerita itu, ada fakta bahwa kecanggihan teknologi Jerman saat itu berhasil mengembangkan teknologi panzer berwajah monster, Tiger I. Tank Sherman US tidak ada apa-apanya saat itu. Fakta ini menjadi bahan baku yang menarik untuk sebuah narasi film, Fury khususnya. Di sini, heroisme akan bersentuhan dengan emplotment romantik film.

Emplotment romantik dalam film seringkali dimunculkan untuk menghindar dari komentar dan kritikan akan genre action dalam film perang yang vulgar, horor dan bestialis. Karena setiap komentar dan kritikan seringkali tidak kosong, maka kecurigaan muatan ideologis selalu merayap pada setiap unggahannya. Pan ultranasionalisme, universalisme, globalisme, kapitalisme, Marxisme et cetera sering muncul dan berbaris pada setiap kandungan cercaan para komentator dan kritikus.

Akan tetapi, filsuf mazhab Frankfurt, Theodore Adorno, telah lama mengingatkan, “everything the culture industry produces is a manipulation”. Oleh karena itu, nolens volens, periksa aspek paralogis menjadi sangat penting. Jika hanya berhenti sinematografi, analisa film hanya akan terjebak pada periksa perangkat teknis film dan “gosip” kehidupan para aktornya. Analisa “strukturalis” ini membuat kandungan “ubi” makna film patah di tengah penggalian. Karenanya mari kita gali lebih lebih dalam dengan tofa “Ganzheit”. Duc in altum.

Kedalaman film Fury tentu tidak dimakudkan sebagai vitur perasaan jijik yang kuat yang lalu ditranslasikan ke ruang emosional simplistik akan kebencian terhadap bangsa Jerman. Film ini diproduksi untuk mengajak spektator untuk membenci perang, bukan bangsa. Di sini, muatan “perang” ideologis dieksplisitkan, bahwa fasisme dan ultranasionalisme telah menyengsakan manusia. Fasisme Nazi yang memanjakan hasrat berkuasa Hitler telah melahirkan perang dan terus meminta korban manusia. “War is the thing that makes people transform into animals”, komentas sutradara film City of Life and Death asal China Lu-Chuan. Holocaust adalah sejarah terburuk manusia modern yang diakibatkan oleh fasisme Nazi.

Namun, setiap scene dalam film Fury tidak “kosong”. Ada sesuatu yang tersirat di sana. Ada motif “gospel” dibelakang mimpi “glory”-nya. Gospel telah menjadi warisan Constantine dengan motto militernya “in hoc signo vinces” (dengan tanda ini engkau akan menang). Motif ini dimulai dengan kehadiran Norman “Machine” Ellison, seorang anak gereja. What is in the name? Nomen est omen dalam film ini. Nama “Ellison” (=anak Allah) memiki kesan mesianik yang memiliki peran profetis. Perannya seperti “deus ex machina” dalam teater Yunani kuno. Sedikit-banyak Norman memberikan wajah eklesial berikut dialog biblis dalam setiap gerak tempur. Dari situlah wajah “Lucifer” Wardaddy dan veteran panzertruppe-nya berubah dan mimiliki sayap Kerubim dan Serafim.

Momen penebusan itu terjadi. Collier, sang bapak perang, membersihkan dirinya dengan air seakan dibabtis. Grady, si pantat kucing, membuat pengakuan dan meminta maaf dihadapan Ellison. Boyd mengingat dan melafalkan firman dengan benar, meksipun gentar. Trini juga membuat pengakuan. Dan setelah itu, momen epiphenomenon pun muncul. Para algojo kerajaan ular (SS) datang. Pertempuran “good and evil” pun terjadi. Tersisa Norman selamat, Collier cs. tidak selamat. Mungkin setelah momen epiphenomenon itu mereka menemukan epiphany, tetapi bukan di kerajaan dunia. Mereka menang di kerajaan “lain”. Ya, kemenangan selalu membutuhkan persiapan. Victoria amat curam.

Terlepas dari tafsir “beatifikasi” narasi film Fury di atas, adagium “victoria amat curam” juga dekat dengan politik militer US (United State of America) abad XXI. Ketika pengalaman adalah guru yang paling baik, maka setiap sejarah US memiliki nilai pelajaran yang berharga bagi militer US.

Sama seperti Gettysburg dalam Perang Saudara, WWII juga merupakan kisah gemilang bagi Angkatan Darat US. Bahwa perang hanya bisa menang dengan strategi Ofensif, bukan defensif. Menyerang adalalah strategi bertahan yang paling baik. Menembak dan bergerak merupakan doktrin Jenderal Marshall yang terkenal (Stephen E. Ambrose, 1997). Peralatan perang pun dirancang dengan teknologi secanggih mungkin untuk membuat sejarah kemenangan.

Perang pun tidak lepas dari perlombaan kecanggihan senjata pembunuh. Revolusi teknologi canggih peralatan tempur menjadi tanda zaman perang modern. Masing-masing negara di dunia pun mengembangkan industri militernya sendiri. Tetapi, US masih menjadi kiblat teknologi tempur tercanggih. Teknologi tempur China dan Russia masih mengekor. Karenanya, Presiden Barack Obama masih memegang “dogma” bahwa US adalah global policement. Untuk menjaga konsistesninya, US menguatkan kerjasama dengan sekutu lama, Inggris dan Australia. Semua ini adalah tanda zaman pos-kolonial dan pos-imperial keadaulatan bangsa-bangsa telah digantikan dengan global imperium yang lahir dari kerjasama organisme nasional dan supranasional dalam keutuhan kepentingan tunggal, impera! George Bush menyebutnya sebagai new global order.

Object petite a (obyek hasrat) dalam new global order adalah hegemoni ekonomi dengan ekonomi pasar bebas sebagai modus operandi. Hegemoni ekonomi akan berjalan mulus apabila didukung dengan kerja ideological state appartus yang baik. Karena itu, industri budaya, pendidikan, media dan demokrasi pasar didiseminasi (dan direkayasa) secara global. Tujuannya adalah menundukan pikiran publik dan merekayasa konsensus. Maka perang tiada akhirnya adalah perang merebutkan pikiran-pikiran manusia dan mengindoktrinasi masyarakat dunia (teoritisi demokrasi Walter Lippman menyebutnya sebagai “gerombolan liar). Sama seperti Sersan Don “Wardaddy” Collier mengubah pikiran Norman Ellison.

Maka, hegemoni ekonomi merupakan dimensi “gold” dalam setiap perang US. Hegemoni ekonomi juga berkorelasi langsung dengan keamanan dan minyak. Kebijakan politik militer menjadi guarantor sekaligus oppresive state apparatus (extra-economic forces) per se. Semua itu digunakan untuk mem-furnish pertumbuhan ekonomi US ad infinitum. Cerita perang Irak adalah contoh yang paling dekat. Tesisnya, politik internasional US adalah politik aliran minyak. Posisi tawarnya adalah kecanggihan teknologi militer (atau lebih tepat military-industrial complex). Selebiahnya, kecanggihan teknologi militer menjadi syarat imbang “si vis pacem para bellum” (jika ingin berdamai siaplah berperang).

Dengan demikian, fiksionalisasi sepenggal cerita WWII dalam film Fury adalah deskripsi panjang teokrasi sekaligus propaganda global imperium.

 

Tragedi Modernitas

Film Fury juga berbicara tentang tragedi, yakni tragedi modernitas. Tragedi modernitas adalah tragedi yang muncul akibat ketegangan dikotomistik. Sebab, proyek modernitas adalah proyek jalan dikotomistik, kalah-menang, maju-tertinggal, adab-barbar, rasional-irasional et cetera dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dalam film Fury, ketegangan itu tampak jelas dalam peran Don “Wardaddy” Collier dan Norman “Machine” Ellison, berikut unsur-unsur “instrinsik” film lainnya.

Ketegangan itu muncul akibat peran dikotomistik antara veteran-new soldier, ayah-anak, rasional-irasional perang, kuat-lemah, perkasa kuasa-mandul et cetera. Wardaddy adalah sosok yang rasional, veteran perang, ayah, kuat, dan perkasa. Sebaliknya adalah Norman. Panzer Tiger I bergitu kuat dan perkasa, dan tank Sherman sebaliknya. Pasukan Sekutu begitu kuat dan perkasa, sementara pasukan Nazi Jerman sebaliknya.

Dengan begitu, perang pun kian menjadi tragedi kemanusiaan dimana peran Hobbesian (homo homini lupus) tidak terhindarkan. Peran Hobbesian lahir dari spirit modernitas manusia Nietzschean, will to power. Manusia selalu terdorong untuk menguasai. Adorasi dyonisian kekuasaan dilayangkan dengan dupa hasrat (desire). Sebagai gerak hidup, hasrat memproliferasi diri untuk mencapai kekuasaan an sich. Maka mimpi Übermensch manusia modern selalu mengawang mencakar langit kehidupan. Dalam mimpi itu, manusia hanya diajarkan mencintai dunia ini berikut ritus nihilisnya.       

Lihatlah, aku mengajarkan Übermensch kepadamu!

Übermensch adalah makna dunia ini

Biarkanlah kehendakmu berseru:

Hendaknya Übermensch menjadi makna dunia ini!

Demikian kata Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra (1961). Di sini, Hitler, der Führer, adalah sosok Übermensch itu dalam WWII.

Pada konteks “intrinsik” film Fury, tokoh Wardaddy adalah sosok “Übermensch” yang selalu ingin menang dan berkuasa. Ketegangan selalu muncul ketika ia berhasrat panzer Tiger I harus “hände hoch” (angkat tangan) atas tank Sherman yang dikomandaninya. Dikotomi kuat-lemah (teknologi militer) menjadi pemantik ketengangan, lalu tragedi itu terjadi.

Tragedi modernitas yang terjadi antara Wardaddy (and the veterans) dengan Norman begitu mengangga ketika ditelisik dalam dikotomi adab dan barbar. Norman adalah seorang beradab dan terpelajar (typist), sementara Wardaddy (and the veterans) adalah barbar dan banal. Manusia sendiri telah terkolonisasi oleh mesin (perang). Banalitas “rasional” perang mengguncangkan nurani humanis Norman. Hysteria terjadi ketika ia dipaksa harus menembak manusia lain.

Akan tetapi, pada konteks psikoanalisis, hysteria yang dialami oleh Norman juga merupakan konskuensi subyektivasi. Dalam film Fury ini, subyektivasi Norman adalah proses diri (ego) dalam lajur rekognisi. Subyek dimulai dengan kegagalan. Jacques Lacan menulis, “we must start instead from the function of méconnaissance that characterizes the ego in all it structures…méconnaissance that constitue the ego, the illusion of autonomy to which entrusts itself”. Dengan trauma, ilusi dan keterpecahan, subyek pun dimulai.

Setiap perlakuan kasar yang diterima Norman mengakibatkan goresan luka dan keterpecahan diri. Dan setiap pengalaman yang diterima sekaligus mengkonfirmasi identifikasi ego (Norman). Dalam proses itu, hysteria bahkan melancholia menguatkan proses rekognisi Norman. Perintah superego Wardaddy pun menjadi penegas ego. Enjoy! Momen rekognisi terjadi. “Sie sind jung und sind leben”, kata Wardaddy kepada Irma. Tetapi sisi paradoks selalu muncul, yakni kesetiaan dan kepatuhan akan determinasi nilai-nilai simbolik sebagai manifestasi superego. Dari film Fury, setelah hajat Oedipalnya (consumatum;Freudian libidinal desire) terpenuhi, Noman menjadi prajurit yang paling setia kepada Wardaddy. Selanjutnya, “lack” terjadi ketika Emma meninggal. Norman merasa teralienasi dari sosok Oedipal (Emma) yang membuatnya aman. Norman pun menjadi subyek yang harus berkonfrontasi dengan determinasi nilai simbolik dalam framing Jenderal Besar Dwight D. Eisenhower sebagai the Big Other.

Jadi, film Fury adalah Wardaddy (and the veterans) sebagai vanishing mediator dalam proses subyektivasi Norman. Dan Emma adalah sosok penting dalam proses indentifikasi hasrat awal (Oedipal) Norman. Setelahnya, ia berada demi kepentingan dan keberadaan Wardaddy (Lacanian Name-of-the-Father). Dengan demikian, tanpa sosok Emma, tangisan identifikasi diri awal Norman tidak akan penah terjadi. No woman, no cry.

 

Jogja, Desember 2014

Alfred Tuname  

 

Sumber:

Ambrose, Stephen E. 1997. Citizen Soldiers: The US Army from the Normandy

Beaches to Bulge to Surrender of Germany, June 7, 1944-May, 1945. New York: Tubbs Inc

Badiou, Alain. 2013. Cinema. UK: Polity Press

Horkheimer, Max dan Theodor W. Adorno. 2002. Dialectic ofEnlightement: Philosophical Fragment. California: Stanford University Press

Lacan, Jacques. 1997. Écrits: A Selection. London dan New York: Routledge

Friedman, Thomas. 2003. Longitudes and Attitudes: Exploring The World BeforeAnd After September 11. New York: Pinguin Books

Levine, Peter. 1976. Nietzsche and The Modern Crisis Of Humanism. New York: Harper & Row Publisher

Phillips, Kevin. American Theocracy: The Peril dnd Politics Of Radical Religion,Oil and Barrowed Money in the 21st Century. USA: Viking

Deleuze, Gilles. 1986. Nietzsche and Philosophy. London: The Athalone Press

Goenawan, Muhamad. 1994. Catatan Pinggir. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

[1] Diambil dari judul lagu Eagles, “Hotel California”. Lirik yang dikutib adalah “You can check out any time you like, but you can never leave!”.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.