Kisah Anak Ajaib

djas Merahputih

 

Trio Kenthir terlihat begitu gembira pagi ini. Mereka akan berlibur ke Tana Toraja. Kalong dan dua sahabatnya telah siap. Mereka berangkat dengan bus umum dari sebuah terminal di Kota Makassar. Enam kota akan mereka lalui. Setelah Maros, perjalanan dilanjutkan melintasi Pangkep, Barru dan Pare-pare, kota asal mantan presiden BJ. Habibie. Mereka melintasi kota Barru di siang hari, dan seharusnya sore hari mereka telah berada di Tana Toraja jika semua berjalan lancar.

Setelah pare-pare mereka akan melintasi Sidrap, kampung halaman keluarga Najwa Sihab. Dan, kota terakhir sebelum kota tujuan, mereka harus melewati sebuah kota pegunungan. Namanya kota Enrekang. Kota ini terkenal dengan makanan khas keju bugisnya yang disebut Dangke. Setelah itu mereka akan tiba di kota Rantepao, Tana Toraja.

img01. Perkampungan Toraja

img01. Perkampungan Toraja

Rombongan memulai perjalanan. Penumpang cukup penuh, namun masih terlihat beberapa kursi kosong di bagian belakang. Tiba-tiba bus berhenti, ternyata ada penumpang baru. Seorang ibu terlihat menenteng anaknya menaiki bus dari pintu depan. Anaknya seumuran bocah delapan tahunan.

Pak, tolong diingatin kalo sudah nyampe Barru yah..?” Sang ibu menyapa pak sopir.

Si anak ternyata harus berangkat sendiri. Trio Kenthir ikut menyimak percakapan mereka. Tak lama kemudian bus melanjutkan perjalanan. Ketiga sahabat sudah tak sabar untuk segera sampai ke tujuan mereka. Untuk menghilangkan kebosanan, Kalong mulai melontarkan tebakan pada Kolang dan Kaling.

Jalan, jalan apa yang bisa dimakan?“, tanya Kalong.

Jalan Mangga..!” Jawaban Kolang masih keliru. “Jalan Rambutan..!” Juga masih salah.

Giliran Kaling tak mau kalah, “Jalan Pizza..!!

Haaa…?? Itu nama jalan di mana..??” Kalong dan Kolang protes bersamaan.

Setelah melihat kedua sahabatnya tak mampu menjawab, Kalong membuka rahasia tebakannya, “Ingat ngga, semalam kita makan kudapan khas kota Makassar yang mirip pastel?

Jalangkote..!!” Kolang dan Kaling menjawab bersamaan dengan suara lantang.

img02. Jalangkote Makassar

img02. Jalangkote Makassar

Ketiganya tertawa terbahak-bahak. Logat khas daerah ini memang selalu menambahkan huruf “g” untuk setiap kata seperti jalan, ikan, hujan, kemarin, lilin dan laing-laing (waduh, ketularan deh!!).

Kolang nggak mau kalah. Ia balik melontarkan tebakannya.

Pertanyaannya gampang. Bangunan apa yang bisa dimakan..??

Waduh..!! Pertanyaannya memang gampang, tapi jawabannya sulit, bro..!!” Kolang terlihat bahagia melihat Kalong menyerah sebelum bertandang (bukan bertanding).

Monumen Perjuangan di Jogja..! Itu kan mirip tumpeng..?” Kaling terlihat yakin akan tebakannya.

Hampir benar… tapi belum tepat!” Kaling kecewa. Jawabannya dianggap keliru.

Nah, sini saya kasih tau yah.. Bangunan yang bisa dimakan itu Monas..

Lho.. kok..??” Kedua sahabat Kolang bertanya-tanya. Apa bedanya dengan Monumen Perjuangan?

Ingat ngga, pas penjaga warung nanyain kita mau makan apa tempo hari?“, Kalong dan Kaling menggeleng kebingungan.

Mas, mau makan apa? Monasi Kuning, monasi campur, monasi goreng atau monasi pecel?” Dua sahabat Kolang melongo.. “Nah itu tadi ada empat monas yang bisa dimakan..!”

Gubrakkk..!!“. Kalong dan Kaling jatuh pingsan. Kolang terlihat panik. Namun tiba-tiba saja keduanya bangkit dan malah menertawakan Kolang.

Kolang kesal, bukankah dia yang seharusnya tertawa penuh kemenangan..??

Waktu terus berjalan. Tak terasa bus melintasi sebuah gerbang kota dengan tulisan, “Selamat datang di Kota Enrekang“. Ketiganya berpandangan, lalu serentak berteriak.

Pak Sopir, berhentiiii…!!!“. Meskipun masih kaget oleh suara cempreng Trio Kenthir, Sang Sopir tetap bisa mengerem mobil dengan tenang. Seluruh penumpang berdiri keheranan, kecuali si anak. Bocah kecil itu terlelap tanpa merasakan sesuatu sedikitpun.

Sopir baru menyadari pesan ibu bocah tadi. Seharusnya tadi ia turun di kota Barru. Setelah berembug dengan seluruh penumpang, Sang Sopir memutuskan untuk memutar balik. Mereka harus mengantarkan bocah ini ke tujuan semula. Sementara si bocah masih terlelap di tempat duduknya.

Dua jam kemudian, “Dik..! Sudah nyampe Barru dik!” Seorang penumpang membangunkan si bocah.

Dengan santai si bocah bangkit dan mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ia menelan sebutir obat lalu menenggak segelas air kemasan. Setelah itu ia bergegas untuk kembali tidur .

Para penumpang keheranan. Jangan-jangan anak ini menenggak obat tidur..!!

Dik.. tadi ibu pesan supaya adik diturunkan di kota Barru. Ini sudah sampai. Kami akan meneruskan perjalanan ke Tana Toraja“.

Dengan bijaksana Kolang berusaha membujuk si bocah agar segera turun. Dua sahabatnya mengangguk memberi dukungan. Rupanya mereka bertiga sudah tak sabar ingin menyaksikan sebuah pesta adat di tempat tujuan nanti. Suasana menjadi hening, seluruh penumpang menunggu reaksi sang bocah. Perjalanan terasa semakin melelahkan.

Kata siapa, om. Tadi ibu cuma mengingatkan untuk minum obat pilek siang ini. Saya juga pengen ke Toraja, kok..!!“. Si bocah meneruskan tidurnya tanpa rasa bersalah.

img03. Bayangan di benak penumpang

img03. Bayangan di benak penumpang

Suasana kembali hening. Para penumpang saling berpandangan seakan saling bertanya, kepada siapa kekesalan dan kegeraman mereka akan ditumpahkan. Udara terasa panas oleh tumpukan kekesalan. Dan, tak lama kemudian,

Gubraakkk..!!!

Bukan suara penumpang pingsan. Seluruh roda bus rupanya rebah oleh beban kekesalan para penumpang. Trio Kenthir tertunduk lesu.. Nasiiib, nasib…!!

*****

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture’nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *