[Mangole] Kau Adalah Rusukku

Imam Dairoby

 

Sudah tiga tahun lebih aku berada dan bekerja di Pulau Mangole, setiap mendapat cuti tahunan aku kan pulang ke Manado menemui keluargaku. Di usia yang memasuki seperempat abad terkadang keluarga menanyakan apakah aku sudah memiliki seorang kekasih. Aku selalu berkelit dengan alasan bahwa aku fokus pada pekerjaan dan belum memikirkan hal tersebut.

Sebenatnya di dalam hatiku terbesit keinginan untuk memiliki seorang kekasih yang bisa memberi semangat, dan terpenting adalah sebagai tempat curahan hati ketika hati sedang gundah. Terkadang aku sangat iri dengan teman-teman lain yang begitu mudah menemukan pasangan hidupnya atau berganti-ganti pacar.

Karena dalam lingkungan pabrik mahluk berjenis kelamin perempuan bisa dikatakan dua kali lipat dari mahluk berjenis kelamin laki-laki. Mungkin karena diriku yang sangat pemalu dan pendiam sehingga aku belum menemukan seseorang.

“Mam, malam minggu kemana,” Teman ku Albert suatu saat menemuiku di Laboratorium ketika aku sedang melakukan pengujian produk hari itu.

“Biasa lah, paling depan televisi,” Adi menyela

“Sok tahu kamu Di,” kataku

“Lah memang selama ini begitu kan,” ejek Adi kembali

“Iya ..iya, mentang-mentang sudah dekat dengan Norma,” kataku mengejek balik ke Adi.

“Norma………. Di bagian mana Mam,” timpal albert

“Alah…… Bert kok percaya sama Imam, mana ada……,” kata Adi jengkel ku olok .

“Itu tuh yang di bagian produksi, kamu tidak kenal yah Bert?” kataku

“Ngaco kamu Mam, tidak usah dengar dia Bert,” kata Adi

“Ya udah, gimana Mam, ada kita keluar yah sebentar, aku mau jalan sama seseorang tapi dia akan membawa temannya, kan tidak mungkin aku jalan dengan 2 orang perempuan, bagaimana ?” kata Albert.

“Sudahlah mam, ok saja. Daripada setiap malam minggu duduk di depan TV saja,”

“Bisa saja kamu Di, ya sudah jam berapa nanti, kamu ke kamarku ya,”

“Ok. Begitu baru temanku, biar ada penyegaran sedikit untuk otak mu yang terkungkung di Laboratorium,”

“Tidak usah mengejek, ayo dilanjutkan pengujian,”

“Cihui, bos ku sebentar lagi punya pacar ha ha ha ha ha ha ha……..,”

“Sudah tidak usah ngejek lagi……..,”

Ku terima ajakan Albert sekedar untuk menyenangkan sahabatku saja. Dan aku juga berpikir tidak apa-apa sedikit bersenang-senang.

Sekitar jam setengah sembilan Albert datang menemuiku di Kamarku, penampilannya jangan ditanya lagi rapi dan wangi. Aku pun telah selesai mandi dan makan, padahal rencananya kami mau makan malam bersama para putri nanti yang akan kami jemput. Tapi tidak enak juga bila keluar nanti kok perut dalam keadaan keroncongan. Bisa-bisa nanti makan 2 porsi lagi, kan malu dengan para putri.

Tak ada yang istimewa dari penampilanku, celana jeans yang biasa ku pakai dan kaos warna biru kesukaanku, kalau di lihat dari penampilan aku kalah sangat jauh dari Albert. Albert adalah anak Manado yang berkulit Putih bersih dan tampan, sedangkan aku agak hitam khas orang Jawa dan tampang pas-pasan. Tapi itulah aku yang memang tidak pandai dalam urusan berpenampilan. Ku pikir aku bukan harus berhadapan seseorang yang akan menjadi bagian yang terbaik dari hidupku.

Kami berdua berjalan menuju ke Mess Karyawati. Kami harus menunggu mereka di jalan keluar Mess. Pertamanya aku sangat malu karena seumurku bekerja di sini baru sekarang aku berada di depan pintu Mess Karyawati. Agak kikuk dan malu dari pandangan beberapa teman juga yang sedang menunggu pacar dan pasangan mereka. Tapi setelah beberapa saat aku tak menghiraukan lagi tatapan mata mereka, dan malah aku datangi mereka dan bercengkrama bersama.

Lima belas menit kami menunggu, dan teman Albert keluar bersama dengan seseorang.

“Wah, sudah lama menunggu ya,” Kata temannya Albert

“Belum kok, baru saja, kenalkan temanku,” Kata Albert

“Imam,” Kataku singkat menyalami keduanya.

“Leni,” Kata teman Albert

“Rustia,” kata teman Leni.

“Oke, sekarang kita jalan ya, kita kemana nih,” tanya Albert

“Kita cari makan aja ya, bagaimana?” kataku

“Terserah kalian saja,” Jawab Leni.

Kami pergi ke sebuah tempat makan di samping Toserba milik perusahaan. Ada Life Music nya di situ jadi agak enak untuk makan bersama. Tak banyak orang yang berada di situ jadi kami bisa mengambil tempat sesuai dengan keinginan kami. Dari perbincangan kami ku ketahui Leni juga berasal dari Manado, dan Rustia berasal dari Buton.

Pertama melihat Rustia aku merasakan sesuatu dan aku tak tahu apa itu, tetapi aku sangat senang melihat wajahnya. Raut wajah keras tapi lembut dalam berbicara, entahlah apa memang karena kami baru mengenal atau memang seperti itulah orangnya. Tapi saat malam kami berkenalan seperti ada suara dalam bathinku yang paling dalam bahwa aku telah menemukan apa yang ku cari selama ini.

Aku sengaja membiarkan Albert untuk lebih banyak berdua dengan Leni. Sedangkan aku dan Rustia banyak menghabiskan dengan mengobrol tentang pekerjaan ku dan pekerjaannya. Sesekali ku tanyakan tentang keluarganya. Dia adalah anak pertama dari 5 bersaudara dan dia adalah yang tertua. Dia berasal dari daerah Sulawesi Tenggara tepatnya di Pulau Buton.

Sebagaimana layaknya orang Buton Rustia memiliki kulit sawo matang dan memiliki adat istiadat dan kesopanan yang sangat dijunjung tinggi. Aku tak berani untuk berkata sesuatu yang bisa menyinggung dia. Sesopan mungkin aku berbicara dengan dia. Dan kelihatannya dia cukup menyenangi diriku. Aku pun demikian, dengan latar belakang aku sebagai orang Jawa yang menjunjung tingggi etika maka kami berdua seperti pasangan serasi.

Malam itu sangat berkesan bagi diriku. Tak ku sangka aku seperti menemukan seseorang seperti yang ada dalam benakku. Dialah orangnya. Sejak malam itu aku selalu teringat pada Rustia, hingga aku memutuskan untuk mengirim surat kepadanya. Sampai sekarang pun bila ku ingat masa itu aku tersenyum sendiri, inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.

Melalui surat dan beberapa kali pertemuan kami semakin lama semakin akrab, tetapi sayang tiga bulan kemudian dia melaksanakan cuti ke kampung halamannya. Aku sangat kehilangan untuk sementara, tapi kami berjanji untuk saling mengabari.

Selama dia cuti aku mengalami musibah. Aku terjatuh di pabrik saat melaksanakan pengujian dan mengakibatkan tulang bahuku mengalami patah. Untuk penyembuhannya aku dikirim ke Manado, lebih tepatnya aku berobat di Rumah Sakit Bethesda Tomohon. Selama 3 minggu aku berada di rumah sakit dan di rumah. Aku sangat senang karena bisa berjumpa dengan ibu serta kakak dan adikku. Tetapi karena ingatanku terus kepada Rustia masa istirahat berobat yang seharusnya 1 bulan aku hanya memakainya selama 3 minggu. Aku kembali lagi ke Pulau Mangole.

Tetapi pertemuan kami ternyata harus berakhir dengan cepat, karena setelah tiba aku di Pulau Mangole dan beraktivitas selama 2 minggu, aku terkejut karena Rustia mengatakan ingin mengundurkan diri dan tak ingin berkerja lagi. Aku tak tahu apa yang menjadi alasannya , dan aku sangat merasa kehilangan saat mengetahui dia akan pergi.

Pagi itu jam menunjukkan pukul lima pagi. Telepon dalam amar ku berdering.

“Selamat pagi, mas,” suara dari seberang terdengar, suara Rustia

“Ada apa dik, kok pagi-pagi menelpon,”

“Mas, hari ini aku mau berangkat ke Ambon.”

“Lho…. Rencananya kan baru minggu depan, kenapa sekarang?”

“Orang Tua ku telah menjemput di Ambon Mas, jadi kalau aku pulang minggu depan aku kasihan orang tuaku menunggu terlalu lama di Ambon.”

“Jam berapa dik kapalnya?”

“Jam sembilan pagi mas.”

“Baiklah nanti aku ke tempat kerja dahulu, selanjutnya aku akan mengantarmu ya dik.”

“Terima kasih Mas.”

“Tapi……apakah setelah kita tak bertemu kamu akan melupakan aku dik?’

“Mana mungkin aku melupakan mas, selama ini hanya mas yang dalam hatiku.”

“Terima kasih dik, sejujurnya aku sangat kehilangan dirimu, tetapi jika memang kehendak dari yang kuasa harus seperti ini kita hanya bisa menerimanya.”

“Insya Alloh kalau memang kita berjodoh suatu saat pun kita akan berjumpa.”

“Mudah-mudahan dik, aku mau mandi dulu dan ke tempat kerja, setelah itu aku akan mengantarkan mu.”

“Iya mas.”

Telepon aku tutup dan aku bergegas ke kamar mandi. Pikiran ku tak menentu. Aku akan kehilanggan seorang yang dekat denganku. Tapi semua memang telah digariskan oleh sang kuasa.

Pukul 8.30 aku menjemput dia dengan meminjam motor temanku untuk mengantarnya ke pelabuhan. Hanya dua buah tas dan ku bisa membawanya dengan motor. Sampai di Pelabuhan suasana telah hingar bingar dengan para penumpang yang akan berangkat. Kami berdua segera masuk ke dalam kapal tersebut dan mencari tempat tidur sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket.

Saat aku akan pergi ku pandangi wajah nya. Ku melihat bulir bening jatuh dari matanya yang bening.

“Aku sedih mas,” kata Rustia

“Begitu pula aku dik.”

“Entah kita bisa bertemu lagi atau tidak.”

“Hanya waktu yang bisa menjawabnya dik, dan kebulatan cinta kita, jika memang Tuhan menghendaki kita bersatu maka apapun dan di manapun bisa terjadi.”

“Amin Mas.”

Aku mengulurkan tangan untuk berpisah. Diciumnya tanganku , dan aku tak tahan untuk mendekapnya. Ku dekap dia walaupun beberapa mata memandangi kami. Semakin keras dia menangis, dan aku hanya bisa menghibur dengan berkata untuk menyerahkan segalanya pada yang kuasa.

Aku bergegas turun dari kapal, dan dalam benakku semoga ini bukan perpisahan tetapi merupakan awal yang indah bagi kami berdua untuk di kemudian hari. Aku segera masuk kedalam lingkungan pabrik dan ingin segera melakukan aktivitas kerjaku seperti biasa.

you are my love

Tetapi bagaimanapun bayangan Rustia akan tetap hadir sebab hanya dialah yang beberapa bulan terakhir mengisi hari-hariku. Dan hanya dialah yang mengisi hatiku. Setiap saat aku berdoa kepada yang kuasa bila memang dia jodohku maka semoga semua dilancarkan dan dimudahkan.

Matahariku

Kehangatan dari cahayamu
Menelusup saat dingin memeluk pagi
Menerobos kisi2 hati
Menawarkan damai
Kau beri cahaya
Tanpa memilah
Tanpa pamrih
Kau tersenyum beri asa
Bila tanaman telah berbunga
Lebah dan kupu-kupu mendapat hidup
Lezat madu dan indah sayap
Di nikmati indra insan
Dari cahayamu
Dari sinar hangatmu
Insan selalu tersentuh memujamu
Bukan pujian atau kiasan untukmu
Ku tahu itu sepenggal keinginanmu
Memberi inspirasi untuk berbuat terbaik
Bagi kehidupan yang hidup
Harapku
Semua yang indah bisa terlaksana
Berawal dari hati
Matahariku

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.