Memberi Obat Pada Anak Tanpa Paksaan

Yeni Suryasusanti

 

Tidak ada manusia yang hidup sehat selamanya. Apalagi bayi dan balita, yang kondisi tubuhnya cenderung lebih rentan terhadap virus dan bakteri dibandingkan dengan orang dewasa. Melihat beberapa teman dan keluarga yang harus memaksa anak agar minum obat ketika sedang sakit, bahkan ada yang sampai dicekoki dengan dipijit hidungnya agar terpaksa menelan, saya ingin sharing bagaimana selama ini saya berhasil memberikan obat kepada Ifan dan Fian tanpa harus dipaksa apalagi dicekoki.

Ketika melihat suatu masalah, entah masalah orang lain maupun masalah saya sendiri, hal pertama yang terpikirkan oleh saya adalah solusi. Sementara cara menghasilkan solusi adalah dengan menghilangkan sumber masalahnya.

Contoh dalam masalah minum obat.
Mengapa anak menolak minum obat?
Saya yakin jawabannya pasti hanya satu : PAHIT!!!

Umumnya pertama kali bayi merasakan diberikan obat berupa puyer. Ketika itulah trauma pertama kali terjadi. Bayi merasakan puyer obat itu pahit. Namun, karena masih belum berdaya apa-apa, meski kali berikutnya mencium bau obat mungkin bayi sudah memalingkan kepala atau bahkan menangis, pemaksaan oleh orangtua masih bisa terjadi.

Lama kelamaan, dipaksa secara biasa saja tidak cukup. Ketika bayi tumbuh menjadi batita atau balita yang sudah bisa menolak dengan sikap dan kata-kata, orangtua yang mulai kehabisan akal pun mencekokinya. Saya pernah melihat bagaimana seorang anak usia 4th menangis tidak mau minum obat, lalu oleh orangtuanya dipegang kepalanya dan dimasukkan obat dimasukkan secara paksa ke mulutnya. Ketika secara reflek anak tersebut mau memuntahkan obat, orangtuanya memencet hidungnya sehingga otomatis sang anak menelan dan obat itupun berhasil masuk.

Drama kejadian itu akan terus berulang hingga anak punya kesadaran bahwa perlu minum obat agar segera sembuh, mungkin ketika anak sampai pada di usia 9-10th.

Lalu, bagaimana solusinya agar anak bahkan bayi mau minum obat secara sukarela? Tentu saja, hilangkan akar permasalahannya, yaitu: OBAT TIDAK BOLEH PAHIT.

minum obat

Nah, sekarang, bagaimana cara agar obat menjadi TIDAK PAHIT alias menjadi MANIS? Sebenarnya, kita bisa meminta Dokter menambahkan pemanis pada puyer. Namun, saya pernah mencicipi obat model ini, bagi saya tetap ada rasa pahit, sehingga saya memutuskan untuk menggunakan cara ala saya.

Cara pemberian obat puyer kepada anak tanpa memaksa ala saya :
1. Tuang puyer di mangkuk kecil atau di sendok yang cukup.
2. Tambahkan madu secukupnya untuk melarutkan puyer
3. Aduk puyer dan madu dengan tusuk gigi supaya rata dan menjadi emulsi
4. Letakkan sendok di depan anak, colek dengan jari, dan biarkan anak mencicipi dengan menjilatnya
5. Karena anak sudah merasakan manis, anak tidak akan menolak minum obat yang diberikan kepada anak

Cara ini sudah saya konsultasikan dengan dokter spesialis anak saya sebelumnya. Beliau berkata selama anak tidak ada alergi madu, cara ini boleh digunakan karena obat tidak masalah jika dicampur dengan madu.

Ketika Ifan berusia 4th, mentor paskibra saya mengingatkan untuk mulai melatih Ifan minum obat dengan kapsul. Karena bagaimanapun juga minum obat puyer itu lebih merepotkan. Cara yang disampaikan oleh beliau adalah dengan berlatih menelan potongan roti yang dipotong kotak-kotak kecil. Sebelum latihan ini sempat saya jalankan kepada Ifan, Ifan jatuh sakit dan kami pun ke Dokter yang biasa menangani Ifan sejak bayi.

Pada saat menulis resep obat, Dr. Ferdy Harahap SPA bertanya apakah Ifan sudah bisa minum kapsul. Saya menjawab belum, namun ingin mulai beralih dari puyer ke kapsul. Resep obat tetap ditulis dalam puyer. Namun, oleh Dr. Ferdy, saya disarankan membeli kapsul kosong di apotik untuk latihan dulu. Jika berhasil, obat puyer bisa dibawa ke apotik untuk minta dikapsulkan.

Cara saya melatih anak minum kapsul adalah dengan contoh dan kata-kata dilakukan bersama-sama dengan anak :
1. Siapkan air minum untuk saya dan Ifan
2. Ambil kapsul kosong, satu kapsul saya pegang dan satu kapsul saya berikan kepada Ifan
3. Memberikan instruksi sambil mencontohkan dan meminta Ifan mengikuti bersama-sama: Letakkan kapsul di lidah dekat pangkal tenggorokan, kemudian minum sambil menengadahkan kepala ketika menelan.
4. Kapsul akan dengan mudah meluncur ke tenggorokan
5. Jika dengan kapsul kosong sudah berhasil dengan lancar, lakukan dengan kapsul yang telah diisi puyer oleh apotik

Karena sudah merasa percaya diri bisa minum obat kapsul, saat kelas 2 SD, Ifan mau mencoba dan berhasil minum obat tablet dan kaplet.

Semoga sharing ini bermanfaat ya teman-teman.

 

Jakarta, 6 Maret 2015
Yeni Suryasusanti

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.