Pengalaman

Anwari Doel Arnowo

 

***Saya ingat benar sebelum Jepang mendarat di pulau Jawa, desas desus yang disebarkan kepada kami orang inlander atau pribumi bangsa Indonesia oleh para kaki-tangan belanda adalah bahwa bangsa Jepang itu amat bengis dan menakutkan serta suka makan manusia. Orang Indonesia yang belum tau atau belum pernah berhubungan secara internasional, tentu saja ikut ketakutan karenanya. Propaganda belanda busuk itu saya amat ingat karena sudah berumur lebih dari 3 tahun. Memori sebelum umur 3 itu kan biasanya tidak mampu  diingat oleh kebanyakan orang.

Pada tahun 1959 saya pergi belajar ke dan di Jepang,  menjumpai orang-orang Jepang yang bukan tentara, dan ternyata mereka manusia biasa dan mempunyai banyak kelebihan dibanding dengan bangsa kita, meskipun pada umumnya tentu saja ada kekurangannya. Mereka, secara resmi melalui pemerintahannya sudah berkali-kali meminta maaf karena pernah menduduki Indonesia meskipun belum berbentuk sebagai sebuah Negara. Mereka juga sudah membayar Pampasan Perang sesuai dengan aturan yang berlaku. Sejauh ingatan saya belum pernah belanda melakukannya kepada NKRI.

Meskipun belanda menjajah kita selama ratusan tahun dengan pura-pura menggunakan voc atau cara lainnya, tetapi bukankah ratu belanda itu menjadi kepala negara yang termasuk paling kaya di dunia? Dari mana asal kekayaannya bisa begitu? Ada sebuah periode belanda melakukan agresi sejak tahun 1945 sampai penyerahan kedaulatan pada tanggal tanggal 27 Desember 1949, yang selama kurun ini penduduk Indonesia yang tewas karena melawan, jumlahnya sekitar 1 juta jiwa. Angka ini diberitaukan kepada saya oleh sdr. Batara Hutagalung, Ketua Komite Utang Kehormatan belanda (KUKb). Komite ini telah bertahun tahun berjuang menuntut belanda mau mengakui kemerdekaan kita yang telah dimakloematkan pada tanggal 17 Agustus, 1945. Sampai dengan hari ini belanda tidak mau mengakui de Jure Proklamasi Negara Repoeblik Indonesia itu. belanda hanya mau mengakui yang 27 Desember 1949 itu. Alih alih meminta maaf atas penjajahan yang ratusan tahun, yang hanya 4 tahun itu sajapun belanda bungkam.

High Court International atau apapun namanya itu ada di Den Haag, belanda, tetapi belum sekalipun  pernah mau mengadili Westerling yang teramat kejam demikian pula  pemerintahan bengis NICA dan penjajah belanda yang lalu-lalu. Padahal penjahat perang Nazi jerman banyak yang diadili oleh mahkamah ini. Orang belanda masih ingat semua kejahatan Nazi Jerman dengan geram hati, tetapi menutup mata terhadap kejahatannya sendiri.

Di Indonesia bagi saya belanda (pemerintahnya) itu jahat sekali, meskipun pada waktu itu saya masih anak kecil. Saya mengalaminya secara langsung. Sang Ratu dikabarkan sejak akhir abad yang lalu telah menunjukkan kemauannya mengakui 17 Agustus 1945, dan pergi ke Indonesia, akan tetapi pemerintah nya bergeming tidak mau mengakui. Takut ya membayar pampasan perang?

Sungguh saya menyayangkan bahwa saya melihat cukup banyak bangsaku yang pemaaf ini tidak mengingat atau tidak mau mengingat bahwa belanda itu pemerintahnya seperti itu jahatnya. Sekejam Nazi Jerman? Ah mungkin malah lebih!! Karena itulah, marilah kita serukan agar Kementerian Luar Negeri NKRI seperlunya direparasi cara berdiplomasi dengan Negara liliput ini. Saya meyakini Indonesia tidak akan mengalami akibat yang sifatnya buruk bila kehilangan belanda.

Sekarang belanda mau ikut-ikutan menarik duta besarnya meniru-niru Brazil dan Australia, hanya karena Indonesia mau melaksanakan hukuman mati sebagai hasil keputusan Pengadilan mengenai kejahatan narkoba. Itu kan haknya Negara kita!. Saya bilang sih silakan saja dan menganjurkan agar Negara kita ini, NKRI ini, memutuskan hubungan diplomatik dengan belanda. Bangsa belanda kerdil yang penduduknya tidak lebih dari jumlah penduduk Propinsi Jawa Timur. Apalagi dataran tanahnya berada di bawah permukaan laut begitu. Kementerian Luar Negeri kita itu perlu diajari fakta-fakta itu dan meresapkannya agar bisa lebih bermartabat menjaga kebesaran Negara kita sendiri. Jangan cuma seremonial dan normatif.

Hantam saja belanda laknat itu. Memang bangsa kita sendiri kan juga amat banyak yang kejam dan keji perilaku, akal serta budi pekertinya terhadap sesamanya. Jutaan nyawa orang melayang karena kaum penjajah dan karena ulah penjajajahan para pelaku jahat bangsa kita sendiri. Bisa karena politik, bisa karena akibat aliran pemahaman kepercayaan yang keras dan merasa benar sendiri secara berlebihan.

Masih banyak masalah bangsa  sendiri yang belum bisa selesai seperti persoalan mereka yang di-Pulau-Buru-kan, Komnas Ham dan lain-lain laku  perbuatan yang bermuatan pelanggaran hukum. Makin ruwet dan terasa makin aneh. Maka sekarang sebaiknya kita mulai kembali dari yang terkecil lagi, yakni dari diri sendiri, juga dari keluarga sendiri sebisa-bisanya juga dari RT dan dari RW sendiri. Urusan Kecamatan, Kota, Kabupaten dan deretan Pemerintahan Gubernur serta Menteri dan Presiden kalau kita tidak peduli ya tidak apa-apa. Yang penting kita ini membela diri sendiri terlebih dahulu, dan jangan melupakan agar selalu mempunyai nafkah yang halal. Lihat saja siapa saja yang ditangkap dan diadili oleh hasil kerja KPK? Itu semua orang gajian Rakyat!!! Tadinya dipercaya oleh rakyat tetapi berakhir dengan dihukum penjara oleh pengadilan.

Sudah cukup kita membayar pajak saja. Beli permen saja ada pajaknya, kok!  Apalagi rokok, obat-obatan, bahkan mempunyai uang hasil jerih payah sendiri saja dipajaki. Yang kita harapkan hanyalah Pemerintah bisa mengelola dengan baik uang-uang pajak.

Demikian pula halnya uang pungutan serta cukai dan sebagainya untuk sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat, seluruhnya. Jangan kita terganggu lagi dengan berita Polisi yang ingin menumbangkan instansi lain karena beberapa jenderalnya diduga kuat memiliki rekening gendut. Kita bosan dengan berita PDI merasa punya + memiliki  Presiden, dia itu Presiden kita semua.

Juga amat menjijikkan  “berita dan laporan” berbunyi mengkriminalisasi terhadap petugas KPK. Itu semua menjadi berita yang saya sudah menggolongkannya hanya sebagai kelas berita sampah dan membuat resah kami semua. Yang paling untung dalam kegalauan ini adalah media yang malah sering melakukan pemberitaan yang mem”bakar” semangat opini agitasi agar beritanya laku dijual. Biarkan semua Presiden, menteri dan semua pegawai negeri bekerja dan mereka ini kan sudah digaji. Kurang gajinya? Ya, keluar saja lah. Itu sudah pernah saya kerjakan dan saya ceritakan terbuka di dalam sebuah tulisan belum lama berselang.

Masih mau jabatan lebih tinggi di tingkat pemerintahan? Itu normal saja, apabila dia memang mempunyai dan memang memiliki kepandaian serta kejujuran yang tinggi. Jangan ingin jadi menteri tetapi tujuannya menjadi kaya, apalagi dengan cara mencuri uang rakyat yang masih kondisi melaratnya seperti ini. Melarat adalah berpenghasilan per orang per hari USA $2.—( ini adalah standard Perserikatan Bangsa Bangsa). Bila ada pejabat penyelenggara Negara dan pegawai negeri melanggar hukum, jatuhi hukuman seberat setara dan bila perlu hukuman mati.

Saya mengalami jaman pendudukan bala Tentara Kekaisaran Jepang antara tahun 1942 sampai 1945 kita bangsa Indonesia membebaskan diri dari kondisi terjajah selama ada penjajah belanda (ratusan tahun lamanya) dan Jepang  3½ tahun. Selama masa pendudukan Jepang inilah saya ingat sering mendengar kata Tonari Gumi. Tonari itu artinya tetangga atau orang di sebelah. Kumi atau Gumi itu artinya adalah Persatuan.

 

***Jadi RT dan RW itu cikal bakalnya terjadi pada masa pendudukan Jepang itu. Saya pernah pada akhir tahun 1980an menjadi Ketua RW (Rukun Warga) di wilayah Kelurahan Tebet Barat, Jakarta Selatan, selama sekitar dua tahun lamanya. Kantor Kelurahan Tebet Barat inipun lokasinya ada di dalam lingkungan RW 02 di mana saya adalah Ketuanya.

Banyak juga catatan memori saya tentang periode ini. Bermasyarakat dengan anggota-anggotanya yang multi rasial dan ber”diam diri” saja meskipun termasuk di dalam mayoritas agama tertentu, tetapi kebanyakan memilih bersikap plural. Rasanya sih aman-aman dan damai saja. Yang saya cermati pertama-tama adalah besar sekali ke”kuasa”an pengurus RW yang sebelumnya. Mereka berdiri di atas sekitar 7 RT (Rukun Tetangga), mem”bina” sekitar 40 KK (Kepala Keluarga) dalam tiap RTnya, begitu aturannya. Akan tetapi jumlah 40 bisa tak terpenuhi atau malah terlalu lebih banyak dari 40. Karena jumlah 1 KK tidak ada batasan tertentu, maka berapa jiwa di dalam RW inipun saya belum bisa menghitungnya dengan cermat. Apa sebab?

Banyak penduduk yang sudah tak lagi bertempat tinggal  di dalam RW ini, tetapi bisa saja melakukan sesuatu seperti perpanjangan semua KTP atau surat keperluan lainnya, langsung di Kantor Kelurahan tanpa memberitau kepada pengurus RT dan RW seperti seharusnya. Otoritas Kantor Kelurahan sendiri mem“posisi”kan diri di atas RT dan RW (yang tidak bergaji). Pegawai Kantor Kelurahan (yang bergaji)  juga banyak yang bertempat tinggal di luar wlayah Kelurahan Tebet Barat. Memang tidak ada larangan untuk itu, tetapi bilamana mereka sedang tidak hadir bekerja di Kantor Kelurahan, maka kami para warga atau rakyat BIASA harus bisa memaklumi. Apalagi bukan rahasia lagi bahwa hampir semua urusan bisa  dilayani oleh pegawai Kantor Pemerintah secara pribadi. Masalahnya: tanpa sepengetauan Kantor resminya, kok semua urusan bisa terlaksanakan. Tentu saja dengan cara memberi imbalan gratifikasi seberapapun kecilnya atau bahkan besarnya. Bukankah soal suap menyuap ini memang amat meluas ke segala arah?

 

*** Saya sendiripun tidak luput dan pernah menyuap petugas beberapa kali, dan itu semua adalah Polisi Lalu Lintas. Terjadi di Tomang jalan Balikpapan, di Jakarta, pada tengah malam jam 11:30an. Dia muncul dari kegelapan dan berdiri di tengah jalan. Saya menuju ke arah Harmoni dari arah Tomang. Dia bilang saya melanggar lampu merah di jembatan Tomang. Dia seorang diri. Saya ragu juga apa dia beli sendiri, ya, seragam Polisi lalu Lintas?

Tengah malam begitu dan berdiri di tengah jalan muncul tiba-tiba dari kegelapan. Banyak senyum sih dia, tetapi saya mengkhawatirkan kalau-kalau saja ada banyak teman-temannya di kegelapan situ. Saya hanya bertiga juga bersama istri yang berada di dalam mobil. Saya ambil lembaran 50 000an, terlihat dia tersenyum lagi dan bertanya: “Bapak ikhlas kan…?” Tentu saja saya jawab: “Iyaaa …” masakan tidaaakkk??

Kan semua orang tau yang begini mana ada yang ikhlas? Alaaa Maaak??

Terjadi beberapa tahun sebelumnya menantu saya sewaktu mengemudi ke luar kota Yogya ke arah Timur dan distop setelah melalui hutan di jalan turunan dan diminta agar turun dari mobil. Dia diminta masuk Pos menemui komandan. Singkat kata dia dimintai uang dan diberikan Rp.15 ribuan serta bilang terima kasih dan boleh melanjutkan perjalanan. Apa alasannya? Polisi penyetop mengatakan bahwa mobil kita telah melanggar marka pemisah jalan nun jauh di atas sana di tengah hutan. Dia menerima hubungan secara berita radio dari petugas di antah berantah mana. Saya komentari syukur hanya Rp.15 ribu dari pada berdebat di hutan begini di dekat Madiun. Eh, di Madiun suhu badan  menantu saya meninggi dan demam, mulailah cari sopir pengganti. Saya bilang biar saya ganti saja menyetir mobil Nissan X-TRAIL baru yang saya belum pernah pegang. Modal saya kan saya orang Jawa Timur, saya ini kenal hampir semua sudut-sudut Jawa Timur, kan?

Masalahnya saya belum pernah mengemudi mobil jenis ini dan saya sudah lama tidak mengemudi selama tidak “boleh” mengemudi, mungkin karena sudah kelihatan tua di mata anak-anak saya. Madiun ke kota Malang kan dekat, bila  memotong jalan via Kediri, Pare dan naik gunung melalui  desa Pujon serta kota Batu yang hanya 18 kilometer dari Malang, tempat saya dilahirkan pada tahun 1938.

Jadi sayalah yang mengemudi sekitar 200an kilo meter saja sampai dengan selamat di kota Malang. Ada kisah yang  ketinggalan!! Keluar kota Madiun sekitar 20 kilometeran distop lagi oleh Polantas dan dengan alasan sama. Saya meng”hadap” komandan dan dengan gagah berani memberikan 15 ribu, saya taruh di mejanya, hanya dengan berkata: “ Ini persis telah terjadi di sebelah Barat kota Madiun tadi pagi !!” Saya letakkan 15 ribu Rp. di depannya di atas meja dan saya segera balik badan tanpa melihat mukanya, pergi ngeloyor ke luar Pos. Horeee puaslah saya. Entah ya apa 15 ribu Rupiah itu uang haram atau bukan?! Peduli setan ah! Ha ha. Waktu saya belajar di Jepang ada dua tiga kali saya mengalami diberhentikan Polisi dan diminta menunjukkan surat-surat. Sekali di Kamakura di luar kota Tokyo. Oleh  karena saya tau mereka tidak bisa disuap saya memulai dengan menunjukkan STNK kemudian dia minta SIM dan saya pura-pura tidak bisa berbahasa Jepang, dia dengan bersusah payah berbahasa Inggris yang keluar cuma suara mendesis dan napas beratnya.

Saya keluarkan Paspor, karena saya memang tidak memiliki SIM Indonesia maupun internasional. Lihat paspor dia menghindarkan diri dengan perkataan: “Kekkou desu” yang artinya cukuplah silakan lanjut, dan kami berdua saling menganggukkan kepala. Saya sekarang mengaku salah yaaa salah yang pengakuannya  tertunda. Ha ha…

experience

Mungkin lain kali saya akan melanjutkan pengalaman-pengalaman lain agar batin saya tidak bertambah berat memikirkan dosa-dosa … ha… ha ….

Saya juga ingin membaca apa pengalaman anda, para pembaca, di masa lalu … Mungkin lebih seru … (?).

 

Anwari Doel Arnowo – 9 Maret, 2015

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.