Discover Granada

Primastuti Dewi Pobo

 

“Do not cry like a woman for that which you could not defend as a man.”

Kalimat ini yang selalu ku ingat tentang Granada, kerajaan Islam terakhir di benua biru, Eropa. Kalimat ini juga yang selalu membuatku ingin mengunjungi Granada.

Pengunjung Granada selalu memberikan rating tertinggi setelah mengunjungi kota spektakuler ini. Granada adalah salah satu kota terindah di dunia. Bahkan Granada adalah sebuah kota monumental yang tak tertandingi. Kota dan taman yang indah, orang-orangnya yang ramah dan kota yang kaya akan sejarah, membuat aku langsung jatuh cinta pada kota ini saat menginjakkan kaki pertama kali.

Dulu waktu masih membaca sejarahnya dari buku dalam hati ku terbersit keinginan untuk mengunjungi tempat ini, untuk mengagumi cerita dari buku-buku tentang Granada, dan ternyata aku kagum dan mencintai kota ini. Hari terakhir di Granada ku buka jendela kamar hotel di lantai tiga, aku teriak “I LOVE GRANADA, PART OF MY HEART BELONG TO THIS PLACE” tidak peduli bahwa di bawah jendela kamar hotel ku adalah jalan kecil dan di sampingnya garden park publik dengan banyak kursi berjejer-jejer. Orang-orang mendongak ke atas menatap ku, lalu ada yang bertepuk tangan, kemudian di ikuti oleh orang-orang yang duduk di taman, maka seketika aku seperti habis melakukan pementasan teater, hahaha. Lalu ku lanjutkan teriakan ku “AND I LOVE YOU TOO GUYS” sambil melambaikan tangan. Berbalik badan dan mendapati suami ku terpingkal-pingkal. Barangkali ada yang berpikir aku kurang waras dan memang demikian adanya.

Kombinasi dari letak geografis yang berada di atas atau biasa di sebut “rises majestic” antara laut mediterania dan pegunungan Sierra Nevada masih di tambah lagi dengan pemandangan kota yang indah. Semua kombinasi ini menjadikan Granada sebagai kota yang unik. Bill Clinton pernah mengunjungi tempat ini saat sunset dan berkata “ini adalah sunset terindah di dunia” wuiiii…. Sayangnya aku tidak berkesempatan melihat sunsetnya.

Mengapa aku begitu ingin sekali mengunjungi Granada? Karena di sinilah puncak kejayaan Islam di Eropa dan di sini pulalah berakhirnya kejayaan umat Islam di benua biru tersebut. Sejarah singkatnya yang masih ku ingat dari buku-buku, bahwa pada tahun 711 orang-orang Islam mulai memasuki wilayah Eropa, memasuki semenanjung Iberia menyebrangi lautan yang memisahkan antara Afrika dan Eropa, antara Morroco dan Spanyol. Sekitar 290-an tahun kemudian, sekitar tahun 900 Masehi, Islam mencapai puncak kejayaan di tanah Andalusia ini.

Di bawah dinasti Umayah (kalau nggak salah) kerajaan Islam ini menjadi kerajaan dengan ekonomi yang bisa di bilang cukup stabil dan layak diperhitungkan di benua Eropa pada saat itu. Akan tetapi masa kejayaan itu tidak berlangsung lama, sesama Muslim mulai tidak rukun saling tidak percaya, saling ingin berkuasa hingga akhirnya tahun 1000 Masehi, kerajaan ini terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil di mana masing-masing kerajaan memiliki hak otonomi atas wilayah mereka. Sehingga rentan diserang oleh kerajaan non Muslim. Hingga pada akhirnya hanya tinggal satu kerajaan yang dapat bertahan di sebelah selatan Andalusia, ini kerajaan terakhir yang tidak mudah dilumpuhkan karena letak geografisnya yang sulit dijangkau saat itu, itulah kerajaan Granada.

Di ujung cerita sejarah ini, pada tahun 1482 (aku selalu ingat digit dua terakhir karena sama dengan tahun kelahiran ku) Raja Ferdinand dari Spanyol melihat peluang untuk mengalahkan Granada, keluarga kerajaan Granada saat itu dalam keadaan kisruh, sikut sikutan, terpecah belah karena perbedaan kepentingan politik dan kepentingan pribadi. Muhammad yang merupakan anak dari raja Granada memerangi ayahnya sendiri. Kesempatan ini digunakan oleh raja Ferdinand dari Spanyol untuk mendukung Muhammad.

Setelah Sultan Muhammad berhasil mengalahkan sang ayah dan menduduki kerajaan, beliau mendapat surat dari raja Ferdinand untuk menyerahkan kerajaannya, Alhambra. Yang memilukan saat dia menyadari bahwa kerajaannya telah dikepung oleh pasukan Kristen dari raja Ferdinand dan ratu Elizabeth, ia menangis pada ibunya, dan ibunya berkata “Do not cry like a woman for that which you could not defend as a man” Sultan Muhammad akhirnya menyerahkan kerajaan terakhir ini dan beliau mengungsi ke Morroco dan hidup di sana sebagai rakyat biasa hingga ajal menjemput.

Tidak seperti kerajaan-kerajaan lain yang dimusnahkan oleh kelompok Kristen setelah memenangkan peperangan, raja Ferdinand dan ratu Elizabeth meminta Alhambra untuk tidak dimusnahkan dan dijaga keberadaanya. Terlepas dari kesedihan atas musnahnya kerajaan Islam di Eropa, dan aku tidak tahu pasti bagaimana jahat atau baiknya kedua raja dan ratu Kristen ini, tapi aku sangat berterimakasih kepada mereka berdua, karena dengan tidak dihancurkannya kerajaan Alhambra, aku masih bisa mengunjungi tempat yang sangat bersejarah ini.

Tempat yang dibangun lebih dari 1000 tahun yang lalu, ada cerita kejayaan di sana, ada cerita kekalahan, kebahagiaan, cinta, keluarga, pengkhiatan, kesedihan dan kehancuran. Alhambra adalah saksi dari semua episode itu. Ada pelajaran berharga yang dapat ku ambil dari kisah Granada ini, bahwa sejaya atau sehebat apa pun kita, kita akan mudah musnah jika di antara kita tidak saling menyayangi, tidak saling menghargai, saling membenci, tidak bersatu. Alhambra adalah bukti bahwa kejayaan itu musnah oleh perilaku kita sendiri.

Dari kejauhan, Alhambra tampak seperti bangunan tua, jika kita tidak mengerti sejarahnya barangkali melirik pun enggan, akan tetapi jika kita tahu sejarahnya, bahwa bangunan ini sudah ada sejak seribu tahun yang lalu maka ketakjuban itu muncul. Ya ampun.. seribu tahun yang lalu saja sudah begini, lalu ketika masuk ke dalam Alhambra, aku percaya tidak satupun pengunjung yang tidak mengagumi tempat ini.

Alhambra kerajaan Islam megah di kota Granada, kenapa disebut Alhambra, katanya karena hambra berarti merah, istana ini di bangun dengan batu-batu merah, itu sebabnya disebut Alhambra. Tempat ini dikunjungi lebih dari Sembilan ribu wisatawan setiap harinya. Ada dua sesi kunjungan, siang atau malam. Harga tiketnya 14 Euro (general visit, bisa mengunjungi semua tempat mulai dari taman, bangunan militer, kerajaan dan hunian musim panas) Bisa dibeli online di website Alhambra atau bisa beli di tempat. Saat aku mengunjungi tempat ini, aku mencoba untuk book tiket online, tapi sudah penuh padahal masih jarak satu mingguan. Alternatifnya aku dan suami berangkat pagi-pagi, aku sampai tidak cuci muka, tidak sisir rambut, Cuma gosok gigi. Mata sipit karena kurang tidur, karena baru tidur jam 3 pagi akibat kelamaan ngobrol sama teman lama yang tinggal di kota ini. Dari hotel jam 6 pagi untuk antri ambil tiket. Ternyata sampai di lokasi antrian sudah panjang.

Memasuki kerajaan Alhambra membuat aku ternganga-nganga, kagum, bagaimana orang-orang pada jaman itu dengan kesederhanaan alat membuat bangunan semegah ini, kadang mata ku sampai berkaca-kaca karena takjub. Setiap ornamen bangunan dibuat dengan sempurna, batu-batu marmer menjulang tinggi dipahat bertuliskan Arab, sebagian bertuliskan ayat-ayat suci Al-Quran, bagaimana orang-orang pada jaman dulu punya selera seni tingkat tinggi begini? Orang-orang jaman sekarang pun akan sulit menandingi keindahan bangunan ini.

Satu tiket berlaku untuk 6 jam, mulai dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Awalnya aku berpikir 2 jam akan selesai, ternyata selama 6 jam aku sampai lupa makan lupa minum, kalau dihitung kilo meter, entah sudah berapa kilo meter aku berjalan dan aku masih ingin berlama-lama di sana, mengagumi setiap detailnya, imajinasi ku berlari ke masa lalu, membayangkan di tempat aku berdiri ini, seribu tahun yang lalu siapa yg berdiri di sini, apa yang dia lakukan, dan imajinasi-imajinasi liar lainnya.

Ketika jam menunjukkan pukul 2 siang, aku masih belum mau beranjak, masih ingin berlama-lama di tempat ini, sampai kami putuskan untuk kembali lagi pada malam harinya, tapi pada akhirnya, sesampai di hotel aku menyadari kaki kiri ku bengkak, barangkali karena kelamaan berjalan dan aku harus mengurungkan niat kembali ke Alhambra.

Tapi aku berjanji untuk diriku sendiri, aku akan menghadiahi diri sendiri dengan mengunjungi Alhambra di malam hari lain waktu. Ada satu hal di Alhambra yang tiba-tiba membuat ku rindu pada Eyang Kakung dan Eyang putri, pada bekas perumahan militer, ada bagian kecil di pojok rumah yang kemudian ku ketahui adalah kamar mandi dan tempat buang air besar. Di atas tanah tersebut ada dua bata panjang besar sejajar dengan sedikit jarak kira kira satu jengkal tapi sudah rata dengan tanah. Tahukah kamu apa itu? Tentu saja aku tahu, ini adalah WC bolong, bata itu digunakan untuk injakan kaki, sementara jarak antara dua bata itu adalah lubang untuk tempat e’ek kita, kok tahu ? soalnya WC kakek nenek ku jaman dulu begitu.

Di samping kerajaan Alhambra. Ada juga tempat monumental yang disebut dengan Madrasah, suami ku kaget “lho kamu kok tau kalau madrasah itu tempatnya sekolah orang-orang Muslim?” “Yaelah cin… ya tau lah.. kan banyak Madrasah di Indonesia, cuma umurnya gak setua Madrasah ini, kalau ini kan satu satunya di Granada, kalau di Indonesia banyak”. Letak madrsah ini terletak di pusat kota, agak jauh dari Alhambra, tempatnya orang-orang Islam menimba ilmu pada saat itu.

Di dalam madrasah ini ada masjidnya juga jadi kita bisa tau di mana arah kiblat. Tempat ini pun diambil alih oleh pasukan Kristen, akan tetapi bangunannya tidak dihancurkan, dulu tempat ini sempat dijadikan kantor pengadilan oleh-orang Kristen, kemudian tidak digunakan lagi dan tetap dipelihara sampai sekarang, sekarang Madrasah ini menjadi bagian dari Universitas Granada, yang merupakan salah satu universitas tertua di dunia berumur lebih dari 500 tahun. Di altar madrasah ini, lantainya diubah menggunakan kaca, dari kaca bening ini aku bisa melihat ada bangunan rumah di bawah madrasah ini, ternyata rumah ini ada sebelum jaman Islam masuk ke Eropa, jadi barangkali ini adalah rumah orang Kristen (entah rumah siapa, aku nggak tahu sejarahnya kalau yang ini).

Orang-orang jaman dulu jika ingin membuat bangunan baru caranya dengan menimbun bangunan lama, tidak seperti orang masa kini yang merobohkan bangunan lama untuk membuat bangunan baru. Itulah sebabnya para arkeolog suka menggali untuk menemukan bukti sejarah, karena pada jaman tersebut orang-orang suka menimbun, jadi kalau mau tahu sejarahnya, gali timbunannya dan di sana harta sejarah masa lalu berada. Jadi jangan mengatakan para arkeolog itu kurang kerjaan kalau sedang menggali-gali tanah.

Di samping bangunan-bangunan Islam tua, terdapat juga katredal yang dibangun tidak lama setelah kekalahan umat Islam, umurnya juga sekitar 800 tahun, tetap megah, tetap terjaga.

Semua bangunan-bangunan di kota Granada rata-rata adalah bangunan tua, termasuk rumah-rumah penduduk dan kantor pemerintahan yang sudah berusia ratusan tahun tetap digunakan, jarang ada bangunan baru di kota ini. Orang-orang lokal sangat ramah, jika kita suka Tapas (bar atau café kas Spanyol, order satu minum, dapat 1 gratis makanan porsi kecil lho ya) kota ini lah surganya Tapas. Pengalaman ku dengan suami, order 2 gelas minum dapat 1 piring kecil salad kentang dan 1 piring isi 8 gamba plancha (udang panggang). Order minum kedua dapat ikan goreng 4 ekor plus kentang goreng. Order minum ke tiga dapat roti topping keju. Begitu seterusnya dengan jenis makanan yang berbeda-beda. Hampir di semua bar dan café mereka akan memberikan makanan gratis dalam porsi kecil, dan aku sampai bertanya dalam hati “dimana mereka dapat untungnya?”

Aku sungguh gila pada kota-kota kecil dan desa-desa, terutama kota dan desa dengan memiliki nilai sejarah yang tinggi, tenang, sedikit berbau tradisional, itulah sebabnya ketika ditanya suami kenapa aku begitu mania pada kota kecil dan desa, jawab ku: in big city, maybe you get high level of life, because everyone loves to be on the top of the level, but they forget, we only get the quality of life in the small city or in village. When you get the quality, you don’t care about your level, And this is what I want in my life, quality. I don’t care about the level. That’s my opinion, I don’t know if this is also work for other people but it’s work on me. Big city destroy the nature as always and I hate that.

Begitulah.. Granada, kota kecil yang sangat ku kagumi, kelak jika suatu hari aku melihat tayangan di televisi tentang Granada (di Indonesia, biasanya kota ini muncul di televisi saat Ramadhan, yang berbau-bau acara sejarah Islam), I know this place, I have been there.

Terimakasih untuk suami tercinta yang bersedia nyetir 2 jam demi menyenangkan istrinya, untuk menjadikan traveling ini menjadi lebih asik. Untuk yang ingin berkunjung ke Granada dan butuh info, just PM me, dengan senang hati akan membantu.

(mohon maaf jika barangkali ulasan sejarahnya ada yang kurang pas, ini hanya seingat ku saja, semoga aku belum amnesia atau gagal paham membaca buku jaman SMA)
Warmly,
Dewi Pobo

 

Alhambra dengan latar Pegunungan Sierra Nevada

Alhambra dengan latar Pegunungan Sierra Nevada

Palace of the Charles V

Palace of the Charles V

De patio de los arrayanes

De patio de los arrayanes

View of the city

View of the city

Glazed tiles, rich of art

Glazed tiles, rich of art

Full Arabic and high sense of art

Full Arabic and high sense of art

Small portion free, big portion please buy

Small portion free, big portion please buy

Military house

Military house

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.