Hidup Bersosial di Kompleks

Didik Winarko

 

Hidup, menetap dan bersosialisasi di sebuah komplek perumahan sederhana dari seorang saya yang bukan apa-apa, yang kurang lebih berjarak 900 tahun cahaya dari komplek perumahan elite atau real estate ini, haruslah memiliki tingkat kepedulian, sosial, kemasyarakatan, tepo seliro, kepekaan dan sensitivitas serta blablabla dan nganu-nganu yang sangat yuhuuuuu…!

Sangat jauh berbeda dengan situasi yang (katanya) terjadi di perumahan elite yang cuma suka kulihat iklannya di tipi item putih saya atau paling mentok liat pintu gerbangnya yang dijagain sama bapak sekuriti bersapari, dimana lebih dominan “elo-elo, gue-gue” alias dunianya ya hanya di rumah mewahnya yang besar dengan segala fasilitas lengkap itu.

Sementara terkadang sama tetangga depan rumah aja ga kenal.

Well…!

Terlepas dari kenyataan di depan mata indah seindah bola pingpong milik saya yang menerjemahkan kata “rumah mewah di kompleks perumahan elite” itu dengan kalimat “just in my dream”, tapi sesungguhnya aku sangat menikmati menjadi bagian dari warga komplek ini, di mana aku diberi kesempatan mengenal orang-orang dari Sabang sampai Merauke dengan segala profesi dan sifat-sifatnya.

social life

As for me, ini adalah kuliah tanpa dosen yang kira-kira setara dengan program pascasarjana dari Harvard University (semoga tidak salah ejaannya), khususnya untuk kematangan kepribadian dalam bermasyarakat yang sesungguhnya..

Yang pasti ini sangat keren dan full dinamika.

Terkadang harus menjadi seseorang yang punya kuping dan muka setebal plat baja tiang fly over saat nama kita sedang jadi trending topic di acara “Rumpi Pagi” pada saat ibu ibu komplek sedang berkencan dengan mamang sayur pujaan mereka.

Terkadang juga harus ke Alfamart atau Jaiyen (Giant) beli beberapa meter urat sabar saat stok sabar mulai menipis ketika Tuhan sedang mengirimkan soal ujian kesabaran via salah satu atau beberapa orang tetangga.

Tapi ada juga saat saat kebanggaan dan kebahagiaan yang sejuta rasanya alias tak terkatakan saat kita “dianggap” dan sumbangsih atau ide kita untuk kemajuan masyarakat di sekitar kita ternyata diapresiasi dengan baik.

Nah, tapi buat segelintir orang yang “gak kuat”, suasana seru ini bisa terlihat menjadi bencana.

For example, dalam satu atau dua bulan belakangan ini setidaknya aku sudah mendengar ada beberapa kejadian.

Sebuah rumah yang setiap hari kulintasi saat berangkat dan pulang kerja, terparkir sebuah mobil cling dengan plat nomor berbulan Desember 2014, tapi terlihat timpang karena dinding rumahnya ternyata “berhiaskan” cat semprot berlogo salah satu bank di negri ini dan bertuliskan info bahwa rumah bermobil baru itu di bawah pengawasan bank ybs.

You know, it’s mean as a warning bahwa biasanya cicilan rumah sudah menunggak selama sekian bulan.

Nah, selentingan yang terdengar bahwa ini terjadi karena sang istri “gak kuat” karena di blok itu udah 75% bermobil.

Konyol ya guys… *nyengir jelek*

Lalu yang amatlah miris adalah -masih di blok yang tak jauh dari gang si mobil baru- beberapa waktu lalu seorang ayah ditemukan gantung diri di dapur rumahnya aka kill himself ketika sang istri sedang melahirkan anak ketiga mereka di rumah sakit.

Dan selentingan yang terdengar adalah bahwa sang suami “ga kuat” saat terus menjadi trending topic karena terkena PHK dan tak kunjung mendapat job yang baru sehingga sang istri yang menjadi tulang punggung.

So, semoga tulisan yang biasa biasa aja ini bermanfaat saat terbaca oleh para sahabat yang kira-kira memiliki lingkungan sosial yang kurang lebih sama dengan saya.

 

Note Redaksi:

Mas Didik Winarko, selamat sudah “pensiun” jadi silent reader dan mulai mengirimkan artikel pertamanya ini. Ditunggu artikel-artikel lainnya ya…

 

 

About Didik Winarko

Asal Purworejo – Jawa Tengah, yang saat ini menetap di Tangerang, Banten. Cukup lama saya menjadi penikmat “pasif” di Balytra. Artikel-artikel dan tulisan-tulisannya membuat saya tak pernah bosan kembali dan kembali lagi ke sini. Belakangan saya coba "pensiun" jadi silent reader dan coba menulis.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *