Makan Siang

Djoko Paisan – Mainz, Jerman

 

HALLO ANDA SEMUA YANG BERBAHAGIA . . .

Salam jumpa dengan oret-oretan Dj. di hari selasa…Mohon maaf, cerita mudiknya istirahat sebentar, sebelum cerita di bawah ini basi…. Hahahahahahaha….!!!

Bulan lalu, saat di Mainz ada Carnaval besar-besaran, seperti setiap tahunnya, maka kami berdua (Susi dan Dj.) melarikan diri ke kota sebelah. Yaitu kota Wiesbaden, karena di Mainz, saat Carnaval akan penuh sesak dengan manusia. Anak-anak tidak ada yang ikut, karena mereka sudah janji dengan rekan-rekan mereka untuk melihat Carnaval. Nah ya, kami naik Bus ke kota, ke Stasiun KA, karena kami tidak ingin bawa mobil, tapi lebih baik dan santai naik KA. Di samping cepat dan tidak perlu cari parkir.

Okay, saat sampai di Stasiun K.A. hampir kami tidak percaya dangan apa yang kami lihat, karena Stasiun penuh sesak dengan yang namanya manusia.

makansiang01

Padahal ini bukan yang ikut di carnaval, tapi mereka yang ingin menonton saja. Mainz penduduknya tidak sampai 200 ribu manusia, tapi di hari Carnaval, banyak sekali yang datang dari luar kota. Di dalam kota Mainz, bisa lebih dari 3 juta manusia yang menonton dan turut jalan di Carnaval. Mereka selalu beruntung, walau musim dingin, tapi saat Carnaval selalu terang benderan dan bahkan suhu bisa naik sampai 10° C.

Akhirnya kami sudah berada di K.A. menuju kota Wiesbaden, walau tidak jauh, dengan K.A. hanya 15 menit saja. Mainz adalah ibu kota negara bagian Rheinland-Pfals dan Wiesbaden juga ibu kota negara bagian Hessen. Di dalam K.A. cukup sepi, karena ke arah Wiesbaden tidak banyak yang naik, hanya ke arah Mainz yang penuh sesak.

Sesampainya di Stasiun K.A. di Wiesbaden, benar saja, sudah banyak orang yang menunggu K.A. yang akan membawa mereka ke Mainz. Kami jalan kaki dengan santai, melalui Citywalk di tengah kota Wiesbaden yang sepi….
Malah tidak menyangka kalau kami akan bertemu satu mata air panas yang mengandung banyak zat besi, seperti di Pancuran 7 di Baturraden (saat di Purwokerto). Di mana di Baturraden, adanya di atas gunung, tapi di Wiesbaden ada di tengah kota….

Di Wiesbaden.

makansiang02

Tutup selokan saja keluar asapnya karena panasnya air….

makansiang03

Dan foto di bawah ini di Baturraden di pancuran 7 dekat Purwokerto. Di mana kalau di Baturraden, katanyaaaaa….. Kalau mandi di pancuran 7, bisa awet muda, tapi siapa yang mau mandi, airnya sangat panas, kulit bisa terkelupas…
Tapi saat di Baturraden, Dj. mandi di Bath Tub, yang mana airnya bisa dicampur dengan air dingin, jadi anget.

makansiang04

Nah ya… kalau anda ke Baturraden, silahkan coba, siapa tahu anda akan kembali muda…Hahahahahahaha…..!!! Okay…Di Wiesbaden, kami jalan cukup jauh untuk mencari sesuap nasi….. Hahahahahaha….!!! Kami dapat saran dari teman, di mana bisa makan enak di Restaurant Jepang. Puji TUHAN . . . ! ! ! Akhirnya ketemu juga yang kami cari, yaitu, Restaurant Jepang dengan nama “Okinii “

makansiang05

Dan tidak menunggu lama, kamipun masuk ke dalam dan disambut dengan ramah oleh seorang pelayan yang masih sangat muda. Dia bertanya, apa kami sudah pesan tempat dan atas nama siapa…??? Setelah semua beres dan dia antar kami ke meja, maka dia masih bertanya, apa pernah makan di sini…??? Kami jawab, belum. Maka dia jelaskan bagaimana cara memesan makanan dan dan waktu yang ada. Okay, setelah kami mengerti yang dia maksudkan, maka Susi sibuk memasan makan, setelah bier untuk kami berdua sudah datang.

makansiang06

Yang Susi pegang bukan Samsung atau Apple tablet, tapi untuk memesan makanan.

makansiang07

Sedang Dj. melihat dari Menu Card saja dan berkata ke Susi, apa yang ingin Dj. makan, karena Dj. juga bisa melihat di menu card (kertas)

makansiang08 makansiang09

Di Menu Card, lebih jelas, apa yang ingin kami makan, tapi memesan memang harus lewat tablet. Nah… di sini lah uniknya, bisa jadi kami ini orang udik, jadi belum pernah memesan lewat tablet. Si Pelayan tadi menjelaskan, bisa makan “All you can eat “ tapi bisa juga normal memesan yang diinginkan. Yang aneh, “All you can eat “ ini juga harus dipesan, jadi bukan prasmanan atau ambil sendiri.

Mungkin anda juga sudah pernah makan yang seperti ini di kota di mana anda tinggal. Tapi biasanya kalau kami ke Restaurant Jepang, tidak seperti ini, ada yang pakai ban berjalan, memesan atau prasmanan…

Ya, sedikit lain dari Rastaurant yang lain. Satu orang dikenakan € 14 orang untuk makan siang dan € 24,- untuk makan malam. Caranya, setiap orang boleh memesan 8 macam makanan yang bisa dipilih di Menu Card dan di Tablet. Jadi karena kami berdua, jadi boleh memesan 16 macam makanan. Tapi 1 Shusi (contohnya), itu sudah 1 macam. Dan kalau semua yang 16 macam makanan yang kami pesan sudah hampir habis, kami boleh pesan 16 macam lagi. Maksudnya, setiap 10 menit, boleh pesan lagi… pesan lagi dan pesan lagi, kalau perutnya kuat…. Hahahahahaha….!!! Dan ini yang kami pesan…

makansiang10 makansiang11 makansiang12 makansiang13 makansiang14 makansiang15 makansiang16 makansiang17 makansiang18

Anda bisa lihat, nasi gorengpun di mangkok yang kecil, tapi enak sekali, apalagi dimakan dengan bebek goreng atau sate B2 nya. Dan baru pertama kali Dj. makan itu buncis yang kulitnya masih sangat keras, tapi bijinya sangat lenak dan enak….Wiiiis… jiaaan, ndeso tenan…. Hahahahahaha…..Lha biasanya makan di Restaurant Jepang di Bahn berjalan, tinggal ambil yang disuka atau pesan yang sudah kenal saja. Ini harus pesan, malah milih yang aneh-aneh…. Karena banyak gambarnya…. Hahahahahaha….!! Sayang Kim Chie nya lupa difoto, biasanya KinChie sangat pedas, tapi ini Kim Chie tidak pedas, jadi Dj. masih bisa makan.

Sedang asyik makan, tahu-tahu HP Susi berteriak….Ternyata Eva yang telpon dan akan nyusul…Tapi sayang dia datang terlambat, pesan makanan hanya sampai jam 14:30 dan Eva baru sampai Wiesbaden jam 14:15. Belum dari Stasiun ke Restaurant dengan taxipun pun perlu 20 menit….Nah ya, akhirnya kami setuju akan ketemu di salah satu toko di kota Wiesbaden. Kami masih malanjutkan makan kami dan Susi masih memesan pisang goreng dan kopi.
Pisang goreng ini juga sedikit aneh, kalau di Indonesia, pisang gorengnya dibubuhi keju, tapi ini dibubuhi parutan kelapa. Tapi rasanya juga enak….

makansiang19

Dan yang mungkin anda akan heran kalau Dj. cerita….Di Restaurant ini, boleh pesan dan makan sebanyak-banyak, kalau kuat. Tapi kalau kekenyangan dan ada makanan yang tidak termakan, maka setiap potong makanan yang tidak termakan, anda dikenakan harga € 1,- (denda). Jadi kalau yang tidak termakan 4 potong, maka anda akan didenda atau harus bayar untuk yang tidak termakan, sebanyak € 4,- Kami meninggalkan Restaurant dengan perut yang cukup kenyang. Tidak kenyang sekali sih, tapi lebih daripada cukup.

Okay….

Itu tadi sedikit cerita, jalan-jalan ke Wiesbaden, untuk menghindarai carnaval di Mainz, sambil makan siang di Restaurant Jepang. Kalau anda satu saat main ke Wiesbaden, silahkan mampir, seandainya anda suka makanan Jepang, Dj. yakin anda tidak akan kecewa. Tapi, kembali ke semuanya itu, adalah selera masing-masing, mungkin ada yang lebih senang pecel daripada Shusi…. Hahahahaha….!!!

Terimakasih untuk perhatian anda semuanya dan yang selalu menantikan hari Selasa dan juga selalu membubuhkan jempol dan komentarnya. Terimakasih kepada pengasuh Baltyra yang selalu menayangkan oret-oretan Dj. yang sangat sederhana ini.

Mohon maaf bila banyak kata-kata yang kurang berkenan. Dan, semoga Kasih dan Berkat TUHAN, selalu menaungi kita semuanya.

 

Salam manis dan damai dari Mainz.
Dj. 813

makansiang20

 

 

About Djoko Paisan

Berasal dari Semarang. Sejak muda merantau ke mana-mana, Bandung dan Sulawesi dirambahnya. Benua Eropa adalah tempatnya berlabuh setelah bertemu dengan pendampingnya di Jerman. Dikaruniai 2 putra dan 1 putri, serta 3 cucu. Keluarga besar Paisan bergaung ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *