Bu Maria

Wesiati Setyaningsih

 

Siang itu akhirnya saya ke Wisma Lansia Harapan Asri yang letaknya tak jauh dari rumah. Wisma Lansia itu sudah ada di sana cukup lama tapi saya baru ke sana beberapa tahun lalu. Seorang teman yang kenal baik dengan pengurus yang ada di sana dan berbaik hati mengantar saya. Wisma lansia itu berada di bawah naungan yayasan Katolik dan teman saya itu seorang Katolik yang cukup aktif dalam kegiatan keagamaan.

Begitu masuk ke ruang administrasi saya disambut Mbak Naning, pengurus panti yang kenal baik dengan teman saya. Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan teman saya yang memang mereka kenal baik, saya diantar berkeliling. Orang-orang sepuh ini memiliki kamar sendiri-sendiri. Ada yang sendirian, ada yang bangsal. Yang sekamar satu orang pun juga ada kelas-kelas. Ada yang biasa ada yang lebih mewah. Mereka yang renta ini tampak begitu rapuh dan yang membuat hati saya pedih, di usia senja mereka tidak bisa tinggal bersama keluarga.

elderly

Banyak alasan memang kenapa mereka tidak bisa tinggal bersama salah satunya karena memang mereka tidak punya keluarga, seperti Bu Maria. Dia tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Akhirnya dengan uang tabungan yang tersisa dan bantuan teman-temannya dia bisa tinggal di panti ini.

Awalnya Bu Maria hampir tidak diterima karena matanya tidak bisa melihat lagi. Panti ini hanya menerima mereka yang bisa hidup mandiri dan pengurus kuatir Bu Maria akan menyulitkan nanti. Nyatanya Bu Maria bisa meyakinkan kalau dia bisa mengurus dirinya sendiri bahkan dia termasuk salah satu yang jarang rewel.

Ketika berkeliling, saya sempat bertemu Bu Maria karena kebetulan dia tidak sedang tidur siang. Kami berkenalan dan begitu tahu saya seorang guru dia segera memberi nasehat.

“Jadilah guru yang bisa membuat murid senang. Karena bagaimanapun kenangan seorang guru dalam benak muridnya akan dikenang sangat lama, bahkan sepanjang hidupnya. Saya saja masih bisa mengingat guru SD saya.”

Saya mengiyakan dan berjanji akan memberikan buku saya yang waktu itu sedang saya carikan percetakan untuk cetak ulang. Siang itu saya ditemani Bruder Pius yang sudah sepuh dan tinggal di situ juga sebagai penghuni.

***

Waktu berlalu, Bruder Pius meninggal beberapa minggu setelah saya berkunjung.  Saya teringat tentang janji pada Bu Maria untuk memberikan buku dan karena makin tidak tenang, akhirnya sore tadi akhirnya saya mampir ke wisma lansia itu bersama Izza.  Karena hari Minggu sore, kantor pengurus tutup bahkan pos satpam juga kosong. Dengan tanpa canggung saya berjalan ke arah kamar Bu Maria. Izza mengikuti saya yang melangkah yakin.

Di ujung deretan kamar Bu Maria ada seorang kakek yang ada di depan kamar almarhum Bruder Pius dan saya bertanya apakah saya bisa bertemu Bu Maria.

“Bu Maria,” kata Kakek itu ragu, “Saya kok nggak liat ya sore ini. Coba ke meja pengurus sana.”

Sore itu sudah jam lima sore. Para eyang nonton televisi bersama di depan bangsal. Sepertinya mereka penghuni kamar bangsal karena kamar yang untuk satu orang ada televisi di dalam kamar. Melewati kamar Bu Maria saya melihat pintunya tertutup.

Dari kejauhan saya melihat salah satu pengurus dan saya mengangguk memberi tanda bahwa saya memerlukan bantuannya.

“Saya ingin menemui Bu Maria,” kata saya padanya ketika mendekat.

“Bu Maria, ada kok,” dia melangkah ke arah kamar Bu Maria.

“Pintu kamarnya tertutup, takutnya ganggu.”

Maksud saya kalau Bu Maria sedang tidur saya akan titip buku saja. Tapi Mbak itu terus melangkah ke kamar Bu Maria dan mengetuk pintunya.

“Bu Maria, ada tamu,” teriaknya dari luar.

“Siapa?”

Mbak itu menoleh pada saya dan bertanya, “Siapa?”

Saya bingung harus bilang apa. Saya sendiri tidak tahu apakah dia masih ingat pada saya. Dengan gagap saya bilang,

“Saya dulu pernah berkunjung sekali dan janji mau kasi buku.”

Melihat keraguan saya Mbak itu tersenyum dan berteriak lagi,

“Dulu pernah ke sini.”

Pintu di buka dan muncul sosok Bu Maria yang kurus, rambut putih dan berkaca mata. Mbak tadi segera pergi karena tampaknya banyak yang harus dia kerjakan.

“Sini masuk, saya selalu tutup pintunya sejak jam tiga karena banyak nyamuk masuk.”

Dia meraih tangan saya dan meminta saya masuk.

“Sendiri?” tanyanya.

“Tidak, saya sama anak saya.”

Begitu saya dan Izza masuk, dia segera mengunci kembali pintu kamar. Tampak kamarnya yang bersih dan tivi tabung di atas lemari.

“Saya Bu Wesi, guru SMA 9 yang dulu pernah ke sini. Dulu saya janji kalau buku saya jadi, saya mau kasi sama Bu Maria. Sekarang saya ke sini mau kasi bukunya.”

“Oh, yang dulu itu. Wah itu kan waktu Bruder Pius masih ada. Sudah lama sekali ya. Sudah satu tahun.”

Saya takjub dengan daya ingatnya. Dia bahkan sanggup menghitung bahwa meninggalnya Bruder Pius sudah hampir satu tahun.

Kami jadi ngobrol beberapa saat karena Bu Maria ternyata suka mendapat kunjungan dari saya.

“Siapa namanya tadi?”

“Wesi,” kata saya.

“Suku apa?” tanyanya.

Mungkin nama saya agak aneh di telinganya.

“Jawa,” jawab saya dengan sedikit tertawa.

Pertanyaan ‘suku apa’ itu juga aneh di telinga saya. Baru kali itu saya ditanya begitu. Lalu dia menyalami Izza dan bertanya seputar nama anak bungsu saya.

“Kalian Muslim, ya?”

Saya mengiyakan dan mohon pamit. Saya elus punggungnya dan saya katakan, “Sehat selalu ya Bu Maria.”

Dia berterima kasih dan tertawa lebar. Wajahnya masih segar dengan kulit Cina-nya yang putih bersih meski penuh keriput. Semangat hidupnya masih menyala dan tak berkurang sedikitpun meski matanya yang dihalangi kaca mata hanya terbuka sedikit sekali.

Saya meninggalkan tempat itu dengan lega. Satu janji sudah terpenuhi sebelum terlambat. Sungguh saya terus berpikir kalau nanti waktu datang dan mencari Bu Maria lalu diberi tahu kalau Bu Maria sudah meninggal. Saya pasti akan sangat menyesal.

Izza yang baru pertama kali berkunjung ke wisma lansia jadi punya punya pengalaman baru. Pertanyaan mulai berputar di kepalanya.

“Bu Maria kan buta, kok Mama kasi buku?” tanyanya saat kami pulang.

“Nanti ada Mbak pengurus yang mau bacain.”

“Terus, kok eyang-eyang itu pada di situ?”

“Ya..” saya berpikir, sembari terbayang para eyang itu di tempat yang seperti rumah sakit tadi. “Beberapa tidak punya keluarga, beberapa lagi anaknya terlalu sibuk buat ngurus orang tuanya.”

“Aku nggak akan naruh Mama di situ. Mama mending di rumahku aja.”

Tiba-tiba keharuan terasa berdesakan dalam dada.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *