Asal Mula Nama Allepolea

Hajrah Kadir

 

Kahar Muzakkar merupakan salah seorang tokoh yang sangat disegani dan dicari-cari oleh pemerintah saat itu. Keterlibatannya dalam setiap aksi dan peristiwa yang selalu diidentikkan dengan pemberontakan, menyebabkan Kahar Muzakkar menjadi sasaran penangkapan. Tiap daerah di Sulawesi Selatan tak luput dari pencarian. Setiap aksi yang terjadi di tiap daerah, selalu diindikasikan bahwa dalangnya adalah Kahar Muzakkar. Begitu pula yang terjadi di Kabupaten Maros.

”Tangkap orang itu”, kata salah seorang serdadu Belanda yang masih berkuasa di Kabupaten Maros saat itu. Orang yang dimaksud adalah H.A. Mapparessa. Beliau adalah seorang kepala distrik Karaeng Turikale. H.A. Mapparessa difitnah telah melakukan aksi yang mengarah kepada perlawanan terhadap pemerintah saat itu. Aksi yang dilakukan itu, yang sebenarnya bukan H.A. Mapparessa yang melakukannya. Namun, karena H.A. Mapparessa saat itu adalah kepala distrik jadi dianggap beliau yang memprovokatorinya. H.A. Mapparessa dianggap sebagai salah seorang kapten dari DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar.

Mengakui perbuatan yang tak dilakukan merupakan suatu hal yang sangat berat. Namun, hal itu harus dilakukannya, demi menghindari korban yang lebih banyak dari masyarakat Maros yang tak berdosa. H.A. Mapparessa ditangkap dan dijebloskan ke dalam jeruji besi.

Tertangkapnya H.A. Mapparessa Karaeng Turikale menjadikan masyarakat Maros sakit hati terhadap serdadu Belanda saat itu. Dengan demikian terjadi kekosongan jabatan kepala distrik. Untuk mengisi kekosongan itu, maka ditunjuklah salah seorang penggantinya.

Masyarakat merasa sangat kehilangan dengan tertangkapnya H.A. Mapparessa. Mereka berusaha mencari bukti bahwa H.A. Mapparessa tidak bersalah dan bukan merupakan anggota dari DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Bukti demi bukti dikumpulkan namun, tak mendapat sambutan dari Belanda. Rakyat merasa putus asa. Namun mereka mengharapkan, akan ada keajaiban yang dapat membantu membebaskan Karaeng Turikale, H.A. Mapparessa.

Beberapa kepala kampung yang bersimpati kepada Karaeng Turikale tersebut adalah: Kepala Kampung Bontokapetta (Datuk Ishak Daeng Massiki), Kepala Kampung Bontocabu (Abdul Rahim), Kepala Kampung Talamangngape (Abdul Latif), dan Kepala Kampung Pakalli, mereka selalu memperlihatkan beberapa bukti, namun bukti tersebut tak diterima. Akhirnya kelima kepala kampung itu pun ikut dijebloskan ke dalam penjara dengan alasan mendukung orang yang bersalah (HA. Mapparessa). Dengan demikian jabatan kelima kepala kampung itu, digantikan sesuai dengan nama yang telah ditentukan oleh penguasa saat itu.

Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Muncul seorang yang merupakan kaki tangan Kahar Muzakkar, yakni Bahar Muttakin. Kehadiran Bahar Muttakin ini membawa angin segar bagi masyarakat Maros umumnya dan Turikale khususnya. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh H.A. Mapparessa. H.A. Mapparessa secara diam-diam menugaskan salah seorang anggotanya untuk bertanya, apakah memang dalam daftar nama-nama anggota DI/TII ada tertera nama H.A. Mapparessa?.

Bahar Mustakim, membuka buku besarnya yang berisi daftar nama-nama anggota DI/TII, ternyata nama HA. Mapparessa tidak terdapat dalam daftar nama anggota DI/TII. Keterangan itu digunakan untuk membebaskan Karaeng Turikale dari penjara.

sulawesi

Keterangan tersebut diterima, dan HA. Mapparessa dibebaskan. Demikian juga kelima kepala kampung yang ikut membela HA. Mapparessa turut dibebaskan. Setelah dibebaskannya, kelima kepala kampung tersebut kembali ke jabatannya semula. Salah satunya adalah Datuk Ishak Daeng Massikki. Dengan dipangkunya kembali jabatan sebagai kepala kampung Bontokapetta, maka Bontokapetta dialihkan menjadi Allepolea yang berarti diambil kembali atau diduduki kembali setelah keluar dari penjara.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.