Kowe dan Raimu

Anik

 

Aku terlahir di tanah Kediri. Orang-orang di Kediri tidak sehalus seperti orang Solo dan tidak sekasar orang Madura. Tapi kebanyakan daerah lain menilai bahwa orang Kediri memiliki tutur kata yang halus, meskipun itu hanya sebagian. Bagiku Kediri tidak mempunyai ciri-ciri khusus seperti Madura atau Solo, berbagai macam orang berada di sini.

Dari kecil aku tidak terbiasa dengan misuh atau berkata kotor seperti janc*k, gat*l, dan kata kotor lainnya. Bagi orang-orang di sini itu adalah hal tercela yang tidak boleh dilakukan. Meskipun begitu, masih ada saja anak-anak, remaja bahkan orang dewasa mengucapkan kata-kata itu saat emosi. Orang yang mengucapkannya pasti akan di beri cap buruk oleh orang lain. Anak-anak dan remaja yang suka misuh pasti akan dikira adalah anak nakal.

Suatu ketika saat aku SMK ada anak pindahan dari Surabaya, setiap melakukan apapun dia terbiasa mengucapkan c*k, memanggil temannya pun dengan sapaan c*k juga. Sampai teman-temannya mikir ini anak kasar banget ya! Lama-kelamaan setelah terbiasa mengetahui kebiasaannya mengucapkan itu membuat kami terbiasa juga, tidak mengira yang tidak-tidak lagi tentangnya.

Lalu pernah guru Kewirausahaan ku yang bertanya kepada dia tentang aslinya, dia menjawab kelahiran Surabaya. Dengan tanpa ragu guruku bertanya “Kamu suka sego di pincuk?” Dia malah tertawa terbahak-bahak dan menjawab “iya pak”, seisi kelas saling berpandangan tidak mengerti maksud dari guruku, lama-kelamaan kami mengerti maksudnya oh ternyata suka mengucapkan c*k. Beliau bilang memang di Surabaya mengucapkan hal seperti itu sudah biasa.

Baru tahun 2014 kemarin aku mulai kuliah di Jember, banyak sekali teman-temanku dari bermacam-macam daerah. Dari Ngawi sampai Banyuwangi semua mempunyai ciri khas masing-masing. Aku mempunyai teman akrab yang berasal dari Lumajang. Tiba-tiba dia pernah mengatakan “Nik, raimu iku keno opo?” Aku dengan sangat kaget mendengarnya. Dia menggunakan kata raimu, itu bagiku adalah hal yang sangat kasar, aku tidak terburu-buru marah. Aku hanya diam dan bersikap seperti biasa. Di hari lain saat akan berangkat, dia bertanya “Sawangen, onok sing aneh gak ning raiku?” untuk penyebutan wajahnya sendiri saja dia juga menggunakan rai, apakah di daerahnya kata rai itu adalah hal yang biasa? Di Kediri pasti orang akan tersinggung dikatakan seperti itu. Apalagi kepalanya disebut dengan Ndas itu juga terdengar tidak sopan. Ndas itu sebutan untuk kepala hewan.

Temanku yang berasal dari Ngawi juga memanggilku dengan kata kowe, awalnya aku risih mendengarnya. Kowe itu adalah sebutan untuk anak monyet, masak iya untuk panggilan orang. Itu terdengar sangat tidak sopan. Tapi ya sudahlah, mungkin memang itu bahasa di daerah mereka. Yang aku tidak habis fikir, teman-temanku mengucapkan misuh itu juga hal yang biasa. Dari cewek sampai cowok, mereka terlihat seperti biasa mengucapkannya. Tetanggaku yang juga kuliah disini pernah berpesan denganku “Kalau dipisuhi orang di Jember jangan sakit hati, itu sudah hal biasa.”

Lama-kelamaan setelah akrab, ada temanku yang suka blak-blakan dari Sidoarjo mengatakan “Rek, maaf yo nek bahasaku kasar, ancen aku iku kebiasaan ngene.” Dari situ aku mulai sadar, meskipun bahasa mereka kasar tapi setidaknya mereka memang tidak ada maksud kasar, mereka hanya membawa kebiasaan masing-masing.

Aku paling pusing kalau temanku Madura bertemu dan ngobrol, aduuuh, aku nggak tahu artinya tapi mereka semua tertawa dan aku hanya diam. Setiap aku tanya “Apa sih artinya?” selalu saja temanku menjawab “Loh, kamu nggak bisa Madura?” lalu tertawa.

Seaneh apapun kalian, tapi karena kalian juga aku bisa merasakan Bhineka Tunggal Ika di sini.

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.