Bahagia Itu Murah, Kok!

Yuni Astuti

 

Dua jagoanku, punya hobi yang kadang bikin jijik orang. Misalnya saja, main tanah, lumpur, pasir, becek-becekan, cari cacing di tanah dan segala hal yang berhubungan dengan unsur yang sering kita pijak ini. Selain itu hobi juga pegang-pegang ikan, bekicot, cicak, dan binatang lain yang menurutku sangat menjijikkan. Pernah malah suatu pagi baru bangun tidur, nemu cicak langsung ditangkap dan diberikan padaku. Yucks!

Namun, entahlah aku nggak bisa melarang mereka melakukan semua itu. Actually, Thoriq (3 tahun) nggak terlalu berani kayak Fatih (5 tahun). Dia lebih kalem, dan lebih senang duduk bermanja padaku. Tapi semakin besar, dia jadi “terpaksa” dan terbiasa mengikuti petualangan kakaknya ke mana-mana. Sampai manjat jendela juga yang tadinya nggak bisa sekarang udah sampai puncak tinggi, walaupun pernah jatuh dari ketinggian hampir 2 meter, robek dan berdarah bibir atasnya.

Rutinitas mereka mungkin bagiku sudah seperti kurikulum ya, hehe. Bangun tidur, setelah pipis dan cuci muka, minum susu kedele, terus duduk-duduk di teras menunggu matahari terbit. Agak siang dikit mulai main tanah. Sampai jam 9-an atau kadang jam 11…? Ah, anteng banget kalau udah main tanah dan hal-hal lain yang intinya di luar rumah.

Pernah sih, beberapa waktu yang lalu… Asyik banget nonton film kartun di notebook. Dari pagi sampai malem, sampai kesel banget. Tapi kok mereka nggak bosen-bosen ya? Aku yang bosen! Terus kupaksa mengubah kebiasaan. Dilarang nonton! Awalnya ya pasti nangis minta nonton. Lalu kuberlakukan batasan waktu. Boleh nonton kalau sudah siang. Ini juga jadinya membuat mereka selalu bertanya:

“Ini udah siang belum Mu?”

“Belum.”

Batasan siang menurutku adalah menjelang waktu tidur siang, hehe… Jadi sekarang sudah lebih terkondisikan. Setelah siang, kupanggil mereka untuk menunaikan janji yaitu nonton. Daaaan karena timingnya pas menjelang tidur siang, jadi gak lama setelah nonton langsung tepar deh. Bangun, Ashar…. Itu udah dijemput sama Lia (4 tahun) anak sebelah yang ngajakin main tanah lagi. Hihiii…. Sampai menjelang Maghrib tuh. Baru deh dimandiin, bersih-bersih dan bersiap ngaji Iqro (kalau lagi mood, kadang Thoriq suka beralasan “capek”) huaaah padahal ngajinya juga nyantai, bisa tidur-tiduran. Apa karena belum bisa diajak disiplin ya tu bocah?

Selepas ngaji Iqro, mereka mulai main bebas di tempat tidur. Mau pura-pura berantem, timpuk-timpukan bantal, sok atuh. Kadang ada yang nangis, gak lama kemudian ketawa-ketawa lagi. Setelah Isya, ayoo pipis semua biar gak ngompol…. Lalu, inilah dia kebahagiaan mereka selanjutnya: mendengarkan cerita.

Mereka memilih buku apa yang akan menemani tidur mereka, kadang cerita nabi dan rasul. Kadang buku tentang binatang dan sains. Bahkan kalau bosan dengan semua itu, buku teks doa, resep masakan dan tanaman herbal juga minta diceritakan. Pernah aku bertanya lantaran agak “males” cerita, capek ceritanya: kenapa sih Aa (Fatih) suka dibacain cerita?

Sekali waktu jawabnya “soalnya seneng.”

Lain waktu bikin aku terharu, “Mu, nanti kalau Aa udah di pondok, Aa mau belajar sendiri. Gak lagi minta diceritain sama Mumu deh…”

Hiks! Begitu ya…? Yah, nanti kalau udah masuk pesantren kan gak mungkin dikelonin lagi sama diriku…. Jadi selagi masih ada waktu bersama di sini, harus bisa dimanfaatkan untuk menciptakan kesan-kesan yang membahagiakannya.

Kadang saya merasa sedih (ngelap ingus meler), ketika melihat anak-anak lain punya mainan bagus dan mahal. Tapi Fatih nggak merengek-rengek meminta itu. Alhamdulillah… Jadi biarkan saja dia dengan dunianya. Tanah, air, udara (eh kayak Avatar aja) menjadi sahabatnya. Buku cerita, puzzle, dan akuuuuh adalah sahabatnya juga. Bahagia bisa dari mana saja, gak harus mahal. Gak perlu gadget, gak perlu tablet (soalnya enakan sirup).

bahagia

Oiya, sedikit informasi. Di Indonesia anak-anak balita udah pada akrab ya sama teknologi. Bisa mainin game-game seru, tapi ternyata di Amrik sono, anak-anak bos Google, Apple, eBay, Yahoo malah gak diperkenalkan dengan teknologi saat masih usia dini. Mereka bersekolah di sekolah yang dindingnya kayu, papan tulisnya dengan kapur warna-warni dan di saat anak-anak Indonesia belajar TIK, mereka malah main tanah, bercocok tanam di lahan yang ada di sekolah mereka. Kata Bos Google sih, “belum ada bukti ilmiah bahwa teknologi bisa membuat anak-anak lebih cerdas”, kira-kira begitu. Dan teknologi yang mereka buat itu didesain mudah untuk dipelajari, jadi belajarnya nanti aja juga pasti bisa kok. Gak harus di usia dini.

Sekian dulu ya, kapan-kapan ketemu lagi…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.