Curhatan Pagi

Wesiati Setyaningsih

 

“Curhat dong Mah… “

Suara televisi memenuhi udara begitu aku sampai di rumah Ibu. Tiap pagi setelah mengantar Izza memang aku ke rumah itu karena baju seragamku masih tersimpan di sana meski sudah hampir dua tahun pindah ke rumah sendiri. Sambil mempersiapkan baju dan kerudung telingaku mau tidak mau mendengarkan siaran agama pagi yang diputar Ibu.

tempat-curhat

Curhatan pertama tentang bagaimana mengatasi syahwat. Aku sempat berpikir mengapa orang terus menerus berusaha menahan hal yang sebenarnya ingin dia tuntaskan. Saya jadi teringat gurauan begini, orang lebih suka melihat orang saling memukul di jalan dari pada melihat dua pasangan kekasih bercinta. Orang pasti segera memanggil polisi begitu melihat ada orang bercinta di jalan. Tapi mereka akan menonton dulu kalau ada dua orang yang berkelahi. Atau malah ikutan tawuran sekalian. Aku tertawa dalam hati mengingat gurauan ini.

“Mah, gimana kalo suami menikah lagi tanpa ijin istri?” curhatan kedua kudengar ketika sedang memasang kerudung di kamar.

Ibu sedang memasak di dapur jadi suara televisi dikeraskan agar Ibu masih bisa mendengarkan. Mau tidak mau bahkan di dalam kamarpun aku masih bisa mendengar. Maklum, rumah Perumnas ini dulunya tipe RSS.

Wah seru nih, pikirku.

Benakku segera melayang pada kenalan yang menikah tanpa ijin istri, bahkan sudah meninggalkan istrinya tanpa bercerai. Aku penasaran menunggu jawaban si Mamah yang dianggap tahu banyak tentang agama ini.

“Kalo suami nikah lagi tanpa ijin!” teriak si Mamah, “Biar! Itu boleh!”

Aku tersentak. Appah?

Si Mamah segera membacakan satu ayat yang membolehkan laki-laki menikahi sampai empat istri.

“Jadi kalau suami menikah lagi, tidak apa-apa, asal bisa adil pangan, kasih sayang dan waktu.”

Wait a minute, kalo memang menikah lagi tanpa ijin, berarti pria tersebut menyembunyikan sesuatu, itu sudah curang. Bagaimana mungkin orang curang bisa adil? Pikiran isengku yang suka mempertanyakan segala sesuatu mulai bergejolak.

“Nah, kalo urusannya sama aturan pemerintah PP 10, kan memang harus ada ijin istri…”

Aku mulai lega mendengar ini.

“Kalo Ibu-Ibu mendapat surat ijin dari suami, suruh tanda tangan, mau nggak Bu?”

Semua hadirin yang hadir di situ berteriak serentak namun aku tak terlalu mendengar.

Aku menepis dugaan bahwa si Mamah sedang meminta Ibu-Ibu membolehkan suaminya menikah lagi. Ah, masak iya ada perempuan yang menganjurkan perempuan lagi mengijinkan suaminya menikah lagi? Suka-suka perempuan itu dong, apakah dia akan mengijinkan suaminya menikah lagi atau tidak. Ini masalah hati nurani.

Kulirik jam dinding di kamar, sudah jam tujuh kurang sepuluh menit. Aku merapikan kerudung untuk terakhir kalinya, puas dengan penampilanku hari itu dan siap berangkat ke kantor. Bergegas aku keluar kamar dan mendapati Ibu di dapur, mencium tangannya dan ijin pergi ke kantor.

“Beneran lho ya Bu…” suara di televisi masih membahana.

Wait, apa ini yang beneran?

Benakku berkecamuk, tapi aku tak sempat menonton acara itu lagi. Waktu berjalan cepat dan aku harus segera sampai kantor. Hari ini ujian sekolah masih berlangsung sampai Senin depan.

Pertanyaan tentang bagaimana menyikapi aturan agama menurut si Mamah bukan urusanku lagi. Yang penting aku punya sikapku sendiri, end of story.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *