Pekerja Anak Masa Kolonial Belanda

Joko Prayitno

 

Ketidakadilan memang tidak mengenal batas-batas geografis maupun individu-individu. Masyarakat yang lemah secara ekonomi dan politik selalu dihadapkan pada persoalan bagaimana mampu untuk bertahan hidup dalam memenuhi kebutuhannya, segala upaya dilakukan oleh seuruh anggota keluarga tak terkecuali anak-anak terlibat dalam kegiatan ekonomi ini untuk menopang ekonomi keluarganya. Walaupun kita tahu hingga sekarang pekerja anak masih tetap ada, tetapi sesungguhnya telah berada pada posisi yang terlindungi dengan Undang-Undang yang melarang memperkerjakan anak-anak, dibandingkan dengan masa kolonial Belanda dulu.

seorang-anak-kecil-penjual-bunga-di-garoet-1926

Seorang anak kecil penjual Bunga di Garoet 1926 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

seorang-anak-perempuan-bekerja-sebagai-buruh-batik-di-jawa-1930

Seorang anak perempuan bekerja sebagai buruh batik di Jawa 1930 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Tulisan ini memang tidak dimaksudkan untuk memberikan sebuah analisis yang dalam mengenai pekerja anak pada masa kolonial. Tulisan ini hanya akan memberikan sedikit gambaran melalui data-data foto-foto yang dimiliki oleh KITLV dan Tropenmuseum Belanda mengenai pekerja anak pada masa kolonial di Hindia Belanda. Sebagai gambaran juga bahwa keuntungan yang diperoleh perkebunan-perkebunan besar merupakan hasil dari eksploitasi pekerja anak-anak.

children-working-under-the-coconut-palm-trees-on-the-soengei-toean-plantation-1915_tmnr_60024775

Anak-anak bekerja di perkebunan kelapa Sungai Tuan tahun 1915 (Koleksi: Tropen Museum tmnr_60024775.jpg)

Menurut Semiarto Aji Purwanto bahwa anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan di perkebunan kolonial karena didorong oleh faktor-faktor historis, sosial-kultural, dan sistem manajemen perkebunan. Faktor-faktor ini dalam prosesnya saling terkait dan menempatkan anak-anak sebagai tenaga kerja, baik sebagai tenaga kerja keluarga yang tidak diupah, maupun yang diupah karena hubungan kerja secara individu dan langsung dengan perusahaan perkebunan.

Secara sosio-kultural, anak-anak tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat perkebunan yang relatif homogen dan terisolir. Dalam lingkungan yang demikian, kerja telah tersosialisasikan sejak dini karena sejak mereka lahir lingkungan kerja menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kondisi kehidupan masyarakat perkebunan juga menjadi faktor penentu keterlibatan anak bekerja. Masyarakat perkebunan pada umumnya, menggantungkan hidup sepenuhnya dari kegiatan perkebunan. Keberlangsungan rumah tangga pekerja anak sangat mengandalkan kontribusi hasil kerja anak-anak. Keterlibatan anak-anak dimaknai sebagai kewajiban yang harus dilakukan bagi orang tua. Hal ini diperkuat oleh sanksi sosial dan moral dari keluarga dan lingkungan komunitas terhadap anak-anak yang tidak bekerja. Terkadang mereka dipekerjakan secara paksa diberbagai perkebunan tanpa upah.

Anak-anak bekerja di pabrik rokok di Jawa tahun 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Anak-anak bekerja di pabrik rokok di Jawa tahun 1920 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Posisi anak memang menempati status sebagai pekerja. Dia tidak berbeda dengan laki-laki maupun wanita dewasa yang harus terlibat dalam proses produksi. Selain itu anak-anak juga terlibat dalam berbagai pekerjaan lain tidak hanya buruh atau kuli perkebunan tetapi juga dalam pekerjaan lain seperti sebagai jongos di keluarga bangsawan maupun Eropa, pedagang, dan buruh batik. Tak pelak lagi bahwa proses produksi dan struktur masyarakat menghendaki tenaga kerja yang murah bagi penumpukan kekayaan walaupun dengan itu mereka mengabaikan nilai kemanusiaan dengan mencerabut hak-hak anak.

 

Bisa juga dibaca di: https://phesolo.wordpress.com/2012/01/30/pekerja-anak-masa-kolonial-belanda/

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.