Mudik dan Belalang Kayu

Wiwit Sri Arianti

 

Bagi banyak orang, mudik selalu menjadi peristiwa yang sangat istimewa, demikian juga dengan kami sekeluarga. Yang pasti mudik menjelang hari Raya Idul Fitri itu memiliki sensasi tersendiri, meskipun capek namun selalu menyenangkan karena bertemu dengan keluarga besar dan teman-teman masa kecil. Berbagai upaya dilakukan oleh semua orang mulai dari menabung sendiri di bank, menabung di kelompok arisan sampai dengan tahara atau singkatan dari tabungan hari raya / hari lebaran, demikian orang di desaku menyebutkan agar bisa merayakan Idul Fitri di kampung halaman bersama keluarga besar.

Kebetulan aku dan suamiku sama-sama berasal dari Jogjakarta hanya beda kabupaten, sehingga memudahkan perjalanan. Supaya adil, biasanaya kami bergantian tempat dalam melaksanakan shalat Idul Fitri, jika tahun ini shalat di desaku, maka tahun depan akan shalat di desa suami. Mudik tahun ini bersamaan dengan musim belalang kayu, belalang yang enak dikonsumsi dengan rasa gurih seperti udang, bahkan bisa lebih gurih. Di tetangga desa suamiku sampai menobatkan dirinya sebagai kampung walang/belalang karena banyaknya walang jika musimnya tiba.

Belalang kayu merupakan serangga berwarna hijau atau coklat berkaki belakang lebih panjang yang berfungsi untuk meloncat. Di daerah Gunungkidul, belalang sudah lama dikenal oleh masyarakat sebagai santapan yang lezat dan gurih bila dibakar dan ditambah garam. Di bawah ini foto belalang kayu yang gurih dan lezat ketika masih bersayap dan ketika sayapnya sudah dibuka.

belalang01 belalang02

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Kusmaryani (2005), kadar protein tepung belalang kayu (Melanoplus cinereus) lebih tinggi dibanding tepung udang windu (Panaeneous Monodon) dengan kadar masing-masing 17,922 dan 9,846 persen. Tepung belalang dapat dipergunakan sebagai bahan dasar beberapa makanan yang merupakan sumber protein. Sebagai bahan baku berbagai olahan makanan, tepung belalang memiliki keistimewaan, antara lain rasa yang sama dengan bahan dasar pembuatnya, dapat disimpan lama dan praktis dalam penggunaannya. Hal menarik lainnya adalah soal kandungan gizinya, ternyata kandungan protein belalang goreng dalam kondisi kering mencapai 60 persen, sedangkan pada kondisi basah mencapai 40 persen.

Konon katanya, belalang juga mempunyai kadar kolesterol dan lemak yang sangat rendah. Sehingga, kita tidak perlu merasa khawatir akan terkena sakit jantung apabila mengkonsumsi menu yang berasal dari belalang. Namun bagi teman-teman yang mau mencoba makanan ini, sebaiknya menyiapkan kunyit dan dimakan sebelum mengkonsumsi belalang, karena bagi yang belum biasa atau tidak tahan dapat menimbulkan alergi di tubuh maupun muka berupa gatal-gatal dan bentol berwarna agak kemerahan. Jika lupa makan kunyit dan terlanjur alergi, kita bisa minum kopi hitam yang diseduh tanpa gula, cara itu juga cukup manjur.

Sebagai menantu orang Gunungkidul, aku sudah terbiasa makan belalang dan serangga lainnya yang aman dikonsumsi, namun akhir-akhir ini saya mulai alergi jika makan belalang dan enthung jati, mungkin tingkat kekebalan tubuhku terhadap serangga tersebut sudah mulai menipis. Sehingga setiap kalau mau makan serangga harus makan kunyit terlebih dulu atau minum kopi hitam pahit setelah makan belalang.

belalang03 belalang04

Inilah menu makan siang yang disiapkan oleh ibu mertua dan adik iparku berupa belalang goreng, jangan Lombok, trancam, dan tempe garit goreng. Jangan Lombok merupakan jenis masakan khas Gunungkidul yang dimasak dengan bahan dasar cabe rawit hijau dan sedikit tempe atau tahu dimasak dengan santan dari kelapa, lebih nikmat lagi jika tempenya sudah “semangit” atau tempe yang sudah setengah busuk namun masih aman dikonsumsi. Sedangkan trancam berasal dari sayuran mentah seperti kacang panjang, mentimun, kecambah pendek, mlandingan atau petai cina, daun kencur muda dan daun kemangi, dicampur jadi satu dengan bumbu mentah juga yang dibuat dari kelapa setengah tua. Hmm…yummi…

Jika musim belalang tiba, sepanjang jalan sekitar hutan jati sampai daerah yang disebut kampung walang di Gunungkidul, banyak kita jumpai penjual belalang yang masih mentah maupun yang sudah dikemas.

belalang05

Belalang yang masih mentah akan direnteng dan digantung seperti foto di atas, sehingga setiap calon pembeli bisa memilih belalang mana yang menarik sesuai keinginan pembeli. Seperti yang dilakukan oleh Pak Warno dalam foto di bawah ini waktu memilih belalang yang akan dibeli.

Wah,..pantes juga ya Pak Warno jadi tengkulak belalang wkwkwk….

Wah…pantes juga ya Pak Warno jadi tengkulak belalang wkwkwk….

Ini adalah belalang yang sudah dimasak dan siap dikonsumsi. Ada beberapa varian rasa yang bisa dipilih sesuai selera pembeli seperti, belalang goreng asin, pedas, belalang bacem dengan rasa agak manis, atau belalang garing yang gurih, renyah, dan kriuk-kriuk. Menurutku semua varian olahan belalang rasanya istimewa dan sensasional. Penasaran? Cobain deh, pasti akan ketagihan dan mencari lagi, hehehe…

belalang07

Oya, masih ada satu menu belalang istimewa lainnya, namanya “nugget” belalang, keren to? Kalau selama ini kita sudah biasa membeli dan merasakan nugget yang dibuat dari daging sapi, atau ayam, atau ikan, atau udang, kalau yang diolah dari belalang sudah pernah coba belum? Nugget belalang ini diolah oleh Ridho Andika Putra seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM). Nugget ini bisa dikonsumsi oleh anak-anak hingga orang dewasa sebagai lauk maupun camilan. Keren ya, jadi jangan lupa, kalau sedang wisata kuliner di Jogja dan Gunungkidul, jangan lupa cobain berbagai varian menu olahan dari belalang kayu pasti tidak akan kecewa.

Akhirnya, setiap kali mudik yang bersamaan dengan musim belalang kayu, aku pasti membelinya untuk saudara dan sahabatku yang ada di Sidoarjo dan Jakarta termasuk untuk mas Handoko. Ada yang berminat? Hubungi saya ya, hehehe…

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *