Gejala Intuitif

Rini Widya Sumardi

 

Biar kuceritakan satu hal. Sebuah jam dengan ukuran paling besar yang pernah aku lihat. Jam yang saban waktu berisik, umpama mulut wanita lengkap dengan ketaksabarannya. Tapi ada yang runut, bergelincir dari ujung lorong ke lorong. Seperti kelereng mengkilat. Seolah ia tertawa, mengenal benar apa yang dinamakan bahagia. Sementara di jalanan bising. Para pekerja bangunan yang menata bata, mengiris keramik dengan seksama. Aku bahkan bosan. Kau mungkin jauh lebih bosan, kupikir. Tertanam di pot memandang matahari yang cuma gambar di dinding sisi kamar.

Kamar yang dihuni buku-buku. Dulu amat kucinta lembar demi lembarnya. Seingatku, sering ayahku ketika aku kecil dulu membawaku ke kamar itu. Duduk di meja baca yang menghadap jendela. Ayah suka sekali membacakan apa saja, setiap hari sebelum aku mengenal huruf dan angka. Tapi semenjak ayah wafat, kamar itu kurasa telah tiada. Bau kematian merebak hingga dapur dan ruang belakang. Membeludak kesepian yang menyiptakan kerinduan ketika siang. Oh, jam dengan ukuran besar, peninggalan ayahku. Aku kadang bingung untuk memutuskan, antara memindahkannya di dalam kamar itu, atau membiarkannya hidup dalam pengelihatanku.

Mungkin ini sudah sering kau dengar. Ketika aku duduk di dekatmu, mata menatap tubuh keriput kayumu. Kepul air hangat dalam baskom yang memanjakan kaki pucatku, mengibar membagi hal yang hanya kau dan aku saja memahaminya. Kita yang membenci suara hujan. Suara yang menurutku gaib. Aku ngeri meresapi setiap ketukan demi ketukan yang dipukulnya.

Pernah ketika kecil, ya ketika aku kecil dulu, kau dan daun-daun kecilmu. Aku duduk di sebuah ayunan di depan rumah, kau bersama ayah duduk di kursi kayu. Aku melihat kalian, seperti mendapati karunia waktu. Tapi sungguh itu tak mampu aku katakan lebih jauh. Ah, aku tahu kau sangat karib denganku. Tidak menyukai dunia luar. Dunia yang makin diperbulat dengan kebohongan dan pembodohan. Bukan lantaran anak sebaya yang selalu menjauhiku, bukan. Justru akulah yang menjauh dari bagian itu. Kau dan ayah memberi keyakinan, perasaan halus mengakrabi kesepian.

Suara detik jam itu kadang-kadang terdengar lain. Seperti rintihan ayah ketika sakit. Kadang seperti suaraku sendiri. Aku merasa, ayah tetap hidup dalam setiap angka-angkanya. Melalui tik-tak detiknya ayah bercerita. Barangkali tentang rasa sakit yang sudah selesai. Konon, kematian itu sebetulnya sangat menggembirakan. Teringat ketika ayah wafat sore itu. Wajahnya bersinar. Ayah tampak tersenyum, seperti orang tidur yang tengah bermimpi. Lalu aku mengurungkan niat untuk menangis, toh ayah tampak bahagia. Matanya terbuka sedikit, seolah mengawasiku. Seolah-olah mengisyaratkan sesuatu; baik-baik ya, ayah pergi dulu. Kepergian yang manis.

grandfather-clock

Melihat jam dengan ukuran paling besar. Detik-detik yang karib, seperti suara ayah. Barangkali jam itu telah menarik tubuh ayahku ke dalam sana. Berputar-putar melalui angka-angka yang diulang. Atau barangkali justru aku yang hidup di dalamnya; jam dengan ukuran besar peninggalan ayah.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.