[Mangole] Sesuatu di Balik Kesederhanaan

Imam Dairoby

 

Keberhasilan yang ku peroleh dalam membuat produk baru untuk devisi kami membawa pada semakin meningkatkan keuntungan di Divisi Particle Board. Hal tersebut juga membawa pengaruh dalam karirku. Aku dipromosikan untuk menjabat sebagai kepala seksi Quality Control dan laboratorium. Satu seksi yang sebelumnya tidak terdapat dalam struktur manajemen devisi kami.

Tetapi sebagai konsekuensi lainnya adalah aku harus mengikuti berbagai pelatihan sebagai awal bagi perusahaan kami untuk memasuki sebuah standar yang diharuskan dalam perdagangan yaitu ISO 9000.

Beberapa kali aku harus mengikuti pelatihan yang diberikan konsultan di sebuah gedung, dan aku harus berjumpa dengan beberapa orang pimpinan dari Jakarta. Dan kadang pertemuan dan pelatihan itu menyita waktuku hingga malam hari, dan itupun belum cukup karena aku pun harus mengontrol proses produksi setiap harinya. Memang ada beberapa kepala sub seksi ku yang membantuku tetapi aku harus mengontrol mereka juga sebab semakin lama permintaan konsumen semakin menuntut kualitas yang lebih baik.

Aku saat itu masih berusia 24 tahun dan penampilanku sangat sederhana. Aku pergi ke pabrik pun hanya menggunakan sepeda tua. Bukannya aku tak sanggup untuk membelinya tetapi aku berfikir aku belum terlalu membutuhkan untuk membeli sebuah sepeda motor. Kadang aku ditertawakan beberapa stafku yang mereka pun telah memiliki kendaraan bermotor.

Dan ada kejadian yang tak pernah ku lupakan karena kesederhanaan ku atau mungkin karena penampilanku yang memang sangat mengenaskan menurut istilah staff perempuan di kantorku. Mereka kadang bercanda mengolok aku, bagaimana mau dapat pacar kalau penampilan saja sangat mengenaskan.

Saat itu aku terburu-buru ingin mengikuti pertemuan yang akan dipimpin oleh pimpinan pusat. Sesampainya di pintu keluar pabrik aku ditegur seorang satpam.

“Mas, mau kemana,” katanya dengan suara yang agak diberatkan.

“Wah, pak maaf aku mau ke gedung utama, ada pertemuan di sana,” kataku .

“Pertemuan apa?” tanya nya sambil mengerlingkan mata ke arah ku melihatku dari atas sampai bawah. Aku tahu aku belum cukup dikenal sebab dari penampilanku mana mereka tahu aku seorang kepala seksi.

“Pertemuan dengan pimpinan dari Jakarta pak,” kataku .

“Ada surat ijin dari kepala sub seksi tidak?” tanyanya. Aku tersenyum.

“Maaf pak, saya kan tidak perlu surat ijin dari kasubsie,” kataku

“Kamu tak tahu aturan ya, kamu mau mentang-mentang di sini,” Satpam itu seperti tersinggung atas ucapanku.

“Bukan maksudku seperti itu pak tapi aku memang tak memerlukan surat ijin untuk keluar, maaf aku terlambat dan kalau bapak tidak percaya silahkan lihat kartu tanda pengenalku,” kataku sambil menyodorkan kartu tanda pengenalku. Dan di situ tertulis jelas namaku dan jabatanku. Tapi kulihat satpam tersebut masih merasa curiga padaku tetapi dia tak ada alasan untuk mencegahku untuk keluar dari lokasi pabrik. Aku mengambil kembali kartu tanda pengenalku dan segera bergegas ke gedung pertemuan. aku sempat melihat wajah satpam tersebut yang masih heran melihat aku.

Mungkin semua karena penampilan ku yang mengenaskan. Tapi tak apalah ini juga salahku yang tak pernah mengurus penampilan ku agar seperti orang lain. Pertemuan berlangsung hangat karena ada beberapa dokumen yang dibuat tidak semestinya dan kami harus membuat ulang. Pertemuan berlangsung sampai pukul 6 sore dan dengan sisa-sisa kelelahan aku bergegas harus ke pabrik lagi.

“Imam, tunggu dulu,” sebuah suara menegurku.

“Oh Pak Gunawan, ada apa pak,” kataku mengetahui yang menegurku adalah Deputy Direktur Utama.

“Mam, saya sudah banyak cerita dengan bapak direktur tentang Divisi kalian dan sepertinya dia mau mengunjungi tempatmu sore ini. Tadi aku juga sudah menelpon mister Chen dan dia sudah siap menyambut Direktur di sana sore ini.”

“Iya pak, kalau begitu saya bisa sama-sama dengan rombongan.”

“Makanya kamu aku panggil dan akan ku perkenalkan dengan pak Direktur,”

Seseorang datang menghampiri kami beserta beberapa orang di belakangnya.

“Bagaimana Gun, kita jalan keliling pabrik dulu, karena besok aku akan kembali ke Jakarta.” Kata orang itu yang ternyata adalah Bapak Direktur.

“Iya pak, sekalian kita melihat divisi particle board yang perkembangannya sangat pesat akhir-akhir ini,” kata Pak Gunawan.

“Yah, benar, Mr. Chen di mana Gun,”

“Beliau menunggu di lokasi pak, dan ini ada seorang staff nya yang nanti mengantar kita ke sana,” kata pak Gunawan memperkenalkan diriku. Aku menyalami Direktur dan sedikit berbincang mengenai kondisi divisi kami. Aku sangat senang sebab tak sembarang orang bisa bercakap secara pribadi dengan pak Direktur.

Ternyata Pak Direktur seorang yang sederhana, ketika mobil disiapkan untuk membawa dia ke pabrik dia menolak dan lebih menyukai untuk berjalan kaki padahal jarak ke tempat divisi kami agak jauh. Dia hanya berkelakar bahwa sudah lelah naik mobil dan ingin berjalan sambil melihat bagaimana keseharian karyawan yang ada di pabrik.

Kami pergi bersama dengan beberapa orang yang mengiringi kami, dan dalam perjalanan ke pabrik aku di samping Pak Direktur karena begitu seringnya dia menanyai tentang kinerja Divisi kami. Saat rombongan kami melewati pos satpam, aku bertemu dengan satpam yang tadi sempat bersitegang. Aku mengangguk padanya dan dengan tergopoh dia menyambut rombongan kami.

Wajahnya memerah ketika dilihat aku begitu dekat dan berbincang dengan Bapak Direktur. Kami memasuki pelataran pabrik dan begitu banyak yang ditanyakan padaku. tapi itu suatu kebanggaan buatku karena aku jadi semakin mengenal beliau secara pribadi.

kesederhanaan

Aku jadi merasa tidak enak dengan satpam yang sempat bersitegang dengan ku karena sejak dia melihat kejadian itu dia sempat meminta maaf dan mulai saat itu dia sangat hormat padaku. Aku sempat mengatakan padanya bahwa yang telah terjadi adalah suatu kesalahan dan itu bukan semata karena kesalahan dia, tetapi itu adalah karena rasa tanggung jawab pada pekerjaannya yang begitu besar.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.