Jarwo

Jeng Margi

 

Adalah Jarwo (bukan nama sebenarnya), yang begitu lulus dari perguruan tinggi langsung merantau dan bekerja menjadi TKI. Meski tidak sesuai dengan ijasahnya dan bidang pekerjaannya, tetap ia lakoni. Hingga puluhan tahun Jarwo bekerja di negeri orang sampai pada suatu masa perusahaan dimana dia bekerja gulung tikar.

Jarwo memilih pulang kampung drpd bertahan diperantauan. Kebetulan istri dan anak-anaknya tinggal di kampung. Disinilah babak awal penderitaannya dimulai. Jarwo yang berpenghasilan besar di negeri orang terbiasa membeli ini itu dengan mudahnya, istrinyapun dia biarkan pula hidup konsumtif. Kebiasaan itu terus terbawa saat ia sudah tak bekerja lagi. Alhasil tabungan yang ia kumpulkan berpuluh tahun saat ia bekerja lama kelamaan habis tak tersisa.

LOSER

Jarwo kemudian mencoba peruntungan dengan  berjualan/membuka warung dengan modal dari Saudara-saudaranya. Mungkin karena tak punya pengalaman bisnis/berdagang, uang masuk dan uang keluar toko dijadikan satu dengan uang makan sehari-hari. Dengan begitu Jarwo jadi tak tau menahu berapa keuntungan yang didapat hari ini karena sudah habis untuk operasional makan sehari-hari ditambah keperluan lainnya. Jadilah warung Jarwo ini makin hari makin menipis barang dagangannya. Bukan karena laku (kalolah laku mungkin tak seberapa), selebihnya dikonsumsi sendiri. Sementara untuk kulakan dia sudah habis modal. Hingga pada suatu ketika……mendadak warung Jarwo berubah. Dagangannya bervariasi, komplit, beras, gula sampai berkarung-karung.

Namun tak lama kemudian, dagangan di warung mulai menipis  dan tampaknya tidak ada acara kulakan lagi untuk mengisi warungnya yang mulai kosong. Ternyata..oh ternyata….Jarwo ini sedang terjerat renternir. Ia telah meminjam uang pada renternir untuk mengisi dagangan di warungnya. Oleh karena manajemennya yang kurang bagus, warungnya bangkrut hanya menyisakan utang yang bertumpuk. Kasihan banget…Jarwo dan keluarga layaknya DPO. Setiap hari rumahnya didatangi orang sekedar menagih hutang. Alhasil Jarwo kini menjadi beban keluarga besarnya.

Sekarang, Jarwo sedang jobless dan sepertinya tidak ada gairah utk menjadi job hunter. Saudara-saudaranya banyak yang menyarankan kepada Jarwo untuk mengambil pekerjaan, dimana orang-orang tak melirik pekerjaan itu. Seperti merawat lansia, menjadi kuli serabutan, jualan bensin, dan semua jenis pekerjaan kasar yang penting halal. Tapi apa jawaban Jarwo….?

Untuk menjadi perawat lansia, Doi mengaku jijik dan merinding. Sementara untuk menjadi kuli serabutan, doi merasa tak level karena dia seorang sarjana. Orang bijak menyatakan, Manusia yang kepepet itu biasanya menjadi kreatif, Orang yang sedang dikejar anjingpun tiba-tiba bisa melompat pagar. Nampaknya ini  tak berlaku bagi Jarwo hehehehe. Job ini tidak bisa, job itu tak sanggup. Lha piye to…? Sementara istri dan anak-ananknya jelas bergantung padanya.

Kebetulan Jarwo ini orangnya juga sok idealis, Suami yang bekerja, istri di rumah momong anak. Okelah kalo memang prinsipnya begitu, tapi yoo konsisten donk. Bekerja mati-matian kalo perlu sampe titik darah napas penghabisan. Dalam kondisi seperti ini, bisa-bisanya ia melarang istrinya bekerja.

Pernah saya sarankan istrinya untuk melamar kerja di salon dekat rumahnya (kebetulan salonnya ramai, dan belum tentu juga lamaran diterima), alih-alih memberi restu,  Jarwo tegas-tegas menolaknya. Alasannya, kerja di salon otomatis pegang-pegang rambut banyak orang. Dia tidak rela. Ahhh preeeeet. Segala sesuatu itu bergantung maksudnya. Niatnya sedari awal mau kerja atau mau aneh-aneh ? Doi memang begitu sombong. Herannya istrinya begitu penurut. Melihat ekonominya morat marit tetap kuat bertahan di rumah karena suami melarang. Jadi buruh cuci setrika kek, momong bocah kek atau apapun yang menghasilkan uang. Daripada diem di rumah tapi tak punya uang, emang enak…?

Jarwo dan Istrinya ini, pepatah Jawa menyatakan “Tumbu oleh tutup”. Orang-orang gemes dibuatnya. Kalo saya, memilih tak ambil pusing dengan kiprahnya. Sudah dinasehati, malah membantah. Padahal kalo ada apa-apa, yang repot juga keluarga besarnya. Ya sudah, yang terjadi..terjadilah..

I don’t care.

Aneh bin ajaib, berhadapan dengan situasi seperti ini, Jarwo bisa-bisanya tidur dengan nyenyaknya sampe-sampe nglindur dan mendengkur. Tobat..tobat..

Dan saya jadi berpikir, apa dia memang sudah berdamai dengan ketidaknyamanan selama ini ya….? Kalo Orang lain, barangkali berhadapan hal semacam ini, sudah tentu tak bisa tidur, tidurnyapun jelas klisikan. Tapi Jarwo tidak, itulah hebatnya. Hikmahnya karena tidur cukup, makan cukup, doi malah jarang sakit hehehehe. Yang sakit justru saudara-saudaranya karena memikirkan Jarwo. Anaknya saja 3, sekolahe piye, sedangkan istri menganggur tak punya penghasilan tambahan.

Menurut Saya (mungkin sedikit kejam), orang semacam Jarwo itu tak layak dibantu. Mengapa….? Lha wong orangnya saja tak punya daya juang begitu. Bantuan baginya justru malah melenakan, meninabobokan. Memberi bantuan seyogyanya justru diprioritaskan bagi mereka yang kekurangan tapi punya daya juang tinggi, punya etos kerja, ibarat kata sikil dinggo sirah, sirah dinggo sikil. JPS yang mungkin tepat sasaran.

Jarwo, what do you want…..????

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.