Penjelajahan Sunthi (1)

Wina Rahayu

 

Udara dingin pagi menyapa pori-pori kulit Sunthi yang terbungkus kaos panjang merah tanpa kerah. Jam di pergelangan tangan Sunthi menunjukkan pukul 6 pagi. Kabut pagi masih malas meninggalkan bumi, bersama keriuhan deru kendaraan menghiasi sepanjang jalan Semarang – Solo. Sunthi nampak bergairah untuk melakukan pejelajahan ke sebuah pasar di desa yang cukup terpencil. Pasar itu namanya sangat unik yaitu pasar Kalimaling, yang berlokasi di desa Plumutan, Bancak, Kabupaten Semarang. Bagi Sunthi, ini bukan kali pertama menjelajah ke wilayah Bancak. Ini kali ketiga, namun baru kali ini Sunthi ingin keluar masuk pasar yang posisinya berada ditikungan jalan utama desa.

 

Tuntang – Bringin

Sunthi naik sebuah mobil angkutan jurusan Semarang-Salatiga, berdesakan bersama buruh pabrik dan anak sekolah. Namun masih beruntung buat Sunthi, ia masih dapat meletakkan pantat “teposnya” di jok paling belakang. Angkutan melaju lebih kencang karena telah penuh oleh penumpang. “Stasiun..stasiun…,” teriak kenek dengan lantang. Sunthi kaget mendengar terikan tersebut, namun terlanjur mobil melaju melewati tempat yang seharusnya Sunthi berhenti. “Stasiun” adalah sebutan lain bagi daerah Tuntang karena kebetulan di tempat tersebut ada sebuah stasiun yaitu stasiun Tuntang. Sekalipun stasiun Tuntang sudah sering Sunthi lewati namun belum pernah sekalipun Sunthi melongok dan menikmati stasiun yang di bangun pada tahun 1871. Namun sejak 1976 stasiun Tuntang resmi di tutup, dan saat ini stasiun Tuntang hanya difungsi khusus untuk kereta wisata dari stasiun Ambarawa.

Bergegas Sunthi beranjak dari tempat duduknya dan meminta sopir menghentikan mobil. Sunthi terpaksa balik berjalan sekitar 200 meter. Energi Sunthi masih power full bak baterai alkalin, berjalan dengan “semangat 45” diantara asap hitam yang keluar dari knalpor motor dan bis-bis yang melintas. Untuk mencapai pasar Kalimaling, Sunthi harus berganti angkutan sebanyak 2 kali. Dari Tuntang sampai Beringin dan dilanjutkan Bringin ke Bancak. Sunthi naik angkutan desa berwarna merah. Kali ini Sunthi memilih menjadi penumpang istimewa, duduk di samping sopir. Leluasa Sunthi menikmati perjalanan yang berkelok melintasi kebun karet, bukit dan sawah. Sunthi menghirup dalam-dalam udara segar yang minim polusi. Disepanjang jalan itu nampak sedang ada proyek pembangunan jalan kereta api jurusan Tuntang – Kedungjati yang akan diaktifkan kembali setelah jalur tersebut mati sejak tahun 1976.

Angkutan dipenuhi anak sekolah, para pegawai pemerintahan dan guru yang bekerja di daerah Bringin, Bancak dan sekitarnya. Hanya 30 menit akhirnya angkut sampai di pasar Bringin, hal ini hanya berlaku di pagi hari sebab jika lewat jam 7 pagi, angkut berjalan bak keong. Untuk mencapai pasar Bringin dari Tuntang bisa mencapai 1 jam. Di seberang pasar Bringin ada sebuah bangunan tua yang sudah tidak berfungsi,nampak seperti sebuah stasiun. Seperti ada magnet yang menarik Sunthi untuk menjelajah ke bangunan tersebut, namun demi sampai di pasar Kalimaling lebih pagi maka Sunthi berikrar dalam sanubarinya akan menyapa bangunan itu setelah dari pasar Kalimaling.

Pasar Bringin

Pasar Bringin

 

 

Bringin – Pasar Kalimaling

Sunthi mengikuti dua orang ibu yang tadi bersama di angkot merah yang kebetulan juga ke arah Bancak. Sunthi sekali lagi memilih menjadi penumpang istimewa dengan duduk di samping sopir. Begitulah Sunthi setiap menjelajah akan berupaya memilih duduk istimewa untuk dapat menikmati apapun yang di lewati di sepanjang jalan.

Gambar-gambar ini hasil kamera pocket pinjaman di tempat Sunthi kerja. Sebisa-bisa Sunthi mendapatkan gambar, tanpa berpikir “angle” dari sisi fotografi. Inilah gaya kenekatan Sunthi saat menjelajah. Bahkan saat mengambil gambar kadang Sunthi masih malu-malu mengeluarkan kamera pinjamannya. Antara malu di lihat orang, antara takut kalau kamera pinjamannya akan jatuh atau rusak karena kecerobohannya. Bisa-bisa gaji sebulan akan habis untuk menggantikan kamera tersebut.

sunthi 1 (2) sunthi 1 (3) sunthi 1 (4) sunthi 1 (5)

Inilah panorama yang Sunthi nikmati sebelum sampai pasar Kalimaling. Sawah, hutan jati yang luas terhampar, jajaran pohon kelapa. Namun sajian indah ini mengusik pikiran Sunthi, benarkah apa yang tersaji di depan mata ini sepadan dengan kesejahteraan masyarakat di daerah ini????

 

Tua Yang Tak Renta

Akhirnya setelah melewati keindahan ini, Sunthi sampai juga di pasar Kalimaling. Sang mentari sudah mulai menampakkan kharismanya, panas menyengat. Inilah salah satu ciri daerah Bancak yang merupakan daerah dengan suhu panas sekalipun saat ini masih musim penghujan.

Sebagian fakta kehidupan tersaji di pasar ini. Seperti pasar di desa yang ada di wilayah pelosok, pasar Kalimaling akan ramai di hari pasaran yaitu Pon dan Kliwon. Saat itulah masyarakat menjual hasil pertanian dan berbelanja kebutuhan rumah tangga. Hasil penjualan itulah yang digunakan untuk berbelanja seperti bawang merah, bawang putih, mrica, ketumbar, ikan asin atau bahan-bahan lain yang tidak mereka hasilkan di kebun atau ladang mereka. Saat Sunthi berkeliling di luar dan dalam pasar, hampir 50% yang ada di pasar adalah para orang tua yang usianya cukup lanjut. Namun mereka tidak menampakkan “kerentaan”, tapi sebaliknya. Kulit hitam yang terpapar matahari, kaki yang terlanjang tanpa alas kaki mencerminkan kekuatan. Merekalah yang menjaga keberlangsungan kehidupan di desa, karena sebagian besar masyarakat usia produktif menjadi kaum urban di beberapa kota besar seperti di Jakarta, Surabaya Semarang, bahkan ada yang sampai luar jawa seperti Kalimantan, Sumatera dll.

sunthi 1 (6)

 

Pasar Kalimaling

sunthi 1 (7) sunthi 1 (8) sunthi 1 (9) sunthi 1 (10) sunthi 1 (11) sunthi 1 (12) sunthi 1 (13) sunthi 1 (14) sunthi 1 (15)

Inilah hasil penjelajahan Sunthi di pasar Kalimaling. Sunthi belajar bagaimana menjadi tua namun tak renta, belajar bagaimana menjaga kearifan kehidupan dan belajarhidup yang bersahaja……

Sampai bertemu di penjelajahan Sunthi berikutnya.

 

Note Redaksi:

Wina Rahayu, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Senang mengetahui selama ini Wina Rahayu adalah silent reader BALTYRA yang setia dan akhirnya memutuskan “pensiun” jadi silent reader. Ditunggu lanjutannya ya dan tentu saja artikel-artikel lainnya. Semoga betah dan kerasan…

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.