Mereka Bilang Aku Udik

Primastuti Dewi Pobo

 

1985, tiga tahun usia ku saat itu, saat entah apa yang merasuki pikiran Ibu sehingga memutuskan hijrah ke pulau Sumatra.

Jauh dari peradaban, tinggal bersama tetangga tetangga senasib.

Dan entah bagaimana awal mulanya aku mulai menyukai kehidupan baru, di tengah hutan yang masih alami. bermain bersama kedua kakak ku di tengah alam yang masih sangat natural.

Pagi hari akan ditandai dengan suara suara  monyet dan ayam hutan berkokok, juga burung burung liar bersiul. Malam hari ditandai dengan suara binatang malam dan kadang kami mendengar auman singa. Ngeri-ngeri sedap rasanya.

Saat itu sungai kecil di belakang rumah masih berwarna hitam, sore hari aku biasa meninggalkan kail di sana, kubiarkan semalaman dan pagi hari aku mendapati kail ku dimakan ikan gabus besar, riang hati ku membawa pulang lauk untuk di rumah.

Ibu berjalan kaki ke sekolah untuk mencerdaskan anak-anak kampung, bersepeda untuk menolong perempuan Desa yang melahirkan. Sebulan sekali ada tontonan layar tancap di lapangan Desa. Kami berjalan beramai-ramai dengan tetangga menuju tempat hiburan. Aku masih ingat, senang rasanya mendengar tetangga menyapa tetangga lain dan bercakap-cakap.

Malam minggu, rumah kami penuh orang, tetangga membawa tikar dan bekal, padahal yang kami tunggu-tunggu adalah tayangan telenovela “Maria Mercedez” di TVRI dalam layar TV hitam putih 17 inchi, bisa nyala dengan kekuatan Aki, maklum tidak ada listrik. Itulah satu satunya aset kebanggan kami satu kampung, bukan lagi aset Ibu, karena semua orang butuh nonton TV. Rumah kami bak bioskop setiap malam minggu.

Di kampung pelosok ini, kami hidup dengan bercocok tanam, kecuali Ibu, selain bercocok tanam, beliau mendirikan taman kanak kanak, juga mengajar di sekolah dasar di Desa kami.

Tidak ada kendaraan bermotor, tidak ada kendaraan roda empat. kami sering berjalan dan bertegur sapa dengan tetangga ketika bertemu di jalan.

Aku dan kedua kakak ku sering tidur di Gubuk (rumah kecil kami di ladang tempat ibu bercocok tanam), kami sering melihat babi hutan, menemukan telur burung puyuh di tengah ilalang, girang bukan kepalang, kami rebus dan kami makan, lezat tak terkira.

Malam hari, kami bermain di pelataran, sambil menghitung jumlah bintang yang sampai sekarang tidak tahu berapa jumlahnya, atau sekedar menakut-nakuti anak tetangga yang melewati depan rumah kami dengan menggantung bantal atau mukena di atas pohon randu besar depan rumah kami. Lalu siapa saja yang lewat akan lari tunggang langgang sementara aku dan kedua kakak ku cekikikan melihatnya.

Terkadang kami menangkap binatang malam yang mengeluarkan sinar, kami menyebutnya ‘bintang’ kemudian mengumpulkannya, senang rasanya, bahkan sampai sekarang aku masih merasakan kebahagiaan masa masa itu.

Lalu kemudian, perubahan datang dengan mengatas namakan perbaikan ekonomi dan modernisasi. Pohon-pohon besar di hutan tempat biasa kami bermain dipotong oleh mesin-mesin, kampung kami mulai panas. Petani-petani beralih profesi mengisi tanah pada polybag dengan bayaran lumayan, aku pun turut serta mengisi polybag, setiap dapat 100 polybag full diisi tanah, aku mendapat upah 75 rupiah, senang tak terkira, aku yang tidak mengenal uang saat itu, mulai bekerja dengan giat, karena konon katanya dengan uang kami bisa merubah nasib kami.

Dan kemudian, milyaran polybag itu diisi bibit kelapa sawit oleh entah siapa, saat  itu aku masih terlalu kecil untuk mengetahui semuanya. Aku kehilangan hutan ku, kehilangan suara-suara monyet di pagi hari.

Ladang dan sawah yang dulu berisi tanaman palawija, seketika berubah menjadi kebun kelapa sawit. bahkan setiap keluarga mendapat jatah 2 hektar kebun kelapa sawit untuk dikelola sendiri. Tentu saja kami warga di pelosok ini gembira. Beberapa tahun kemudian, kami menikmati hasilnya. dengan hasil dari kebun kelapa sawit, kami orang kampung ini bisa membeli apa yang kami mau. motor, mobil atau apapun yang kami mau.

Kami mulai mengganti rumah kayu kami dengan rumah berdinding batu bata, berlantai keramik. Konon katanya simbol keberhasilan adalah ketika rumah sudah dikeramik. Aku masih belum bisa menggambarkan perasaan ku saat itu, tentu saja aku juga menikmati hasil dari ‘kemajuan’ ini. Tahun-tahun pun berlalu….. aku dipulangkan ke kota kelahiran untuk alasan pendidikan yang baik.

modernisasi

Saat kembali ke Kampung ini, aku menyadari bahwa aku sudah kehilangan semuanya.

Tidak ada lagi sungai sungai dengan ikan-ikannya yang bisa ku kail. Tidak ada lagi binatang malam yang bisa ku ajak bermain. tidak ada lagi suara-suara alam, tidak ada lagi tetangga yang berjalan kaki bahkan hanya untuk membeli sabun di warung yang hanya berjarak 10 meter, semua tergantikan dengan kendaraan yang disebut-sebut modern. Tetangga yang bertahun-tahun silam saling membantu kini saling menggunjing. Jalan-jalan yang dulu riuh dengan canda tawa kami, kini riuh dengan suara kendaraan.

Aku menyadari bahwa aku telah kehilangan alamku. Jika boleh memilih, aku lebih senang tetap disebut udik di bandingkan hidup dalam lingkungan modern di kampungku yang sekarang.

Satu-satunya kenangan yang tertinggal, rumah kayu milik Ibu, kami meminta beliau untuk tidak membongkarnya walau beliau membangun rumah yang lain, itulah mungkin satu-satunya rumah kayu di kampung kami yang masih berdiri. Rumah kayu yang menjadi simbol ketidakmampuan, di sanalah aku dan kedua kakak ku (beberapa tahun kemudian ada tambahan adik ku) mengukir ribuan kisah manis bersama alam.

Kisah-kisah yang tidak akan ditemui lagi oleh anak cucu kami dan generasi mendatang, bahkan aku tidak yakin bahwa kelapa sawit ini akan tetap mampu menopang kehidupan orang-orang di kampung. Alam kami telah rusak dan kami belum menyadarinya. Kami membabat habis hutan kami demi kesenangan kami, lupa bahwa anak cucu dan cicit cicit juga butuh bahagia nantinya.

Dan.. aku tidak berdaya…

Mereka bilang ini modernisasi, aku bilang ini Shit.

Mereka bilang dulu aku udik, dan aku bilang dulu aku hidup dalam syurga.

Mereka bilang aku Tolol, aku bilang aku memang Tolol.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.