Telur Asin

Handoko Widagdo – Solo

 

Sengaja saya menulis tulisan ini setelah perayaan Paskah berlalu. Saya takut pikiran saya ini mengganggu kekhidmatan perayaan Paskah dan kegembiraan anak-anak dalam bermain dengan telur. Sebab Paskah identik dengan telur.

Mengapa telur menjadi bagian tak terpisahkan dari Paskah? Sebab telur dianggap membawa pengharapan tentang kehidupan baru yang akan lahir. Demikian juga dengan Paskah. Penebusan Yesus Kistus di kayu salib membawa pengharapan baru bagi manusia pendosa. Harapan baru bagi manusia untuk hidup sesuai fitrahnya. Hidup sebagai gambar dan rupa Allah. Itulah sebabnya setiap perayaan Paskah selalu disertai dengan pesta telur.

Easter-eggs

Tapi mengapa telur asin?

Garam yang merasuk ke dalam telur itu pelan-pelan membunuh calon kehidupan baru – bahkan sudah menjadi kehidupan baru. Calon makhluk yang berada di dalam telur itu mati pelan-pelan karena teracuni oleh garam. Sampai akhirnya calon makhluk itu mati terawetkan. Tak ada proses pembunuhan yang lebih sadis daripada proses terbentuknya telur asin. Telur asin adalah bentuk dari pembantaian yang amat sadis.

Memang penderitaan si calon bebek/ayam yang diasinkan bisa melambangkan penderitaan Yesus di kayu salib. Namun bedanya, makhluk kecil itu terlanjur mati menjadi mumi di dalam cangkang. Si calon bebek/ayam tersebut tak lagi bisa bangkit membawa kehidupan baru. Tidak ada lagi pengharapan. Dihias seindah apapaun cangkangnya, telur asin tetap tak bisa menghasilkan makhluk baru.

Jadi masih layakkah telur asin menjadi lambang Paskah?

Yang lebih aneh lagi adalah perayaan Paskah dengan menggunakan telur plastik. Telur plastik itu praktis tidak ribet. Telur-telur plastik berisi permen memang membuat anak-anak bergembira. Apa salahnya? Pengorbanan dan kehidupan baru bukanlah sebuah proses yang instan. Perlu sebuah pergumulan sebelum pengorbanan tersebut terlaksana. Layakkah doa “lalukanlah cawan ini daipadaKU. Namun kehendakMulah yang jadi,” dibandingkan dengan sebuah kepraktisan?

Akan lebih indah apabila telur yang dipakai dalam perayaan Paskah adalah telur yang bisa ditetaskan. Alangkah baiknya apabila anak-anak yang mendapat telur tersebut memasukkan telurnya ke dalam mesin penetas dan menunggu kehidupan baru muncul dari telurnya. Alangkah bagusnya apabila anak-anak belajar memelihara kehidupan baru yang dihasilkannya; dengan demikian mereka belajar memelihara kehidupan barunya.

Selamat Paskah, semoga kita mampu merawat hidup baru yang telah dikaruniakan kepada kita.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.