Kisah Abu

Wesiati Setyaningsih

 

Siang itu saya akhirnya potong rambut di salon langganan setelah sekian lama menahan diri dengan keriwehan masalah rambut. Begitu masuk aku langsung menyapa Mas Abu hair dresser langganan sejak lama, waktu dia kerja di salon dekat rumah Ibu. Saya langsung menjadikan dia langganan untuk memotong rambut si sulung yang agak susah. Si sulung ini rambutnya tebal dan sedikit berombak. Sudah saya ajak potong di beberapa salon tidak cocok karena bukannya rapi rambutnya malah jadi naik dan tidak enak dipandang mata. Di tangan Abu, rambut si sulung jadi rapi dan tipis bagian belakang, sangat bagus dilihat. Satu kejadian yang membuat saya berkenalan dengan anak ini.

Ceritanya waktu itu saya suka memotong poni saya sendiri kalau sedang malas ke salon. Si sulung yang melihat ini ikutan memotong rambutnya sendiri. Sialnya, dia enggak kira-kira. Yang dipotong justru bagian atas dan kependekan. Jelas bentuknya jadi tidak karuan. Padahal dia sedang akan piknik ke Jakarta bersama teman SMP-nya. Segera saja saya ajak dia ke salon dekat rumah dan bertemu dengan Abu. Pengalaman memotong rambut si sulung ini ternyata membekas di dalam ingatannya karena baru itu dia menemui kasus kecelakaan rambut salah potong karena dipotong sendiri. Belum lagi dia saya buru-buru karena siang itu tinggal beberapa jam menjelang si sulung piknik.

Beberapa tahun salon dekat rumah Ibu itu akhirnya pindah. Untungnya pindahnya tak jauh dari rumah jadi saya masih tetap bisa menyerahkan si sulung ke tangan dia kalau sedang perlu potong rambut. Dan tiap kali bertemu, Abu tertawa kecil.

“Ini yang rambutnya dipotong sendiri dulu kan, Bu?”

Saya tertawa mengingatnya.

Siang itu begitu masuk tampak Abu sedang menangani seorang laki-laki. Saya duduk di dekatnya sembari menyapa. Dia menoleh, sedikit terkejut tapi kemudian sudah mengenali.

“Anakku dulu itu sekarang sudah kuliah lho. Semester dua.”

“Wah, cepet banget ya Bu. Dulu masih SMP kan waktu rambutnya dipotong sendiri itu?”

Kami tertawa.

“Anakmu kelas berapa Mas?”

“TK B. Walah Bu, pelajaran TK sekarang kok sudah kaya SD. Aku liatnya sampai geleng-geleng.”

“Lha itu belum. Nanti kalo sudah SD malah pusing lagi. Susah mau ngajarin, lha pelajarannya sudah kaya SMP.”

“He-eh, Bu?” dia kaget.

Saya mengangguk.

“He-eh! Dibilangin kok. Mumet… Dulu jamanku SD, kelas enam tu masih disuruh mencongak. Didikte berapa kali berapa, terus jedhag, penggaris kayu dipukulkan ke meja tanda selesai. Gitu. Lha sekarang? Mana sempat ada mencongak segala? Gurunya ngajarin lain-lain yang lebih susah..”

“Aku dulu SMP Matematika lumayan, lho Bu. Adikku aja sering tanya, tak ajarin.”

“Kamu dulu SMP mana?”

“Dua enam.”

“Oh, dua enam situ… Dekat rumahmu ya?”

Dia mengiyakan.

“Lha SMA-mu mana?”

“Aku nggak SMA ok, Bu.”

Dia menatap sungguh-sungguh, tidak seperti biasanya kalau sedang bercanda.

“Aku dulu di pondok, tapi kelas satu tok terus keluar. Lha gurunya tak ajak gelut Bu.”

Saya tertawa kecil.

“Lha napa?”

“Lha wong enak aja menghukum kok. Salahnya tak seberapa, anak suruh sujud di aliran air. Mendongak sedikit ditendang dari belakang. Marah to, aku. Tak ajak berkelahi aja. Bukan aku sih yang dihukum temenku. Tapi aku nggak terima.”

“Terus?”

“Ya aku pulang ke rumah. Nggak mau ke pondok lagi. Aku keluar, guru itu dikeluarin. Kepala sekolahnya nyariin aku ke rumah, ngajakin aku sekolah lagi, janji mau biayain kalau perlu sampai kuliah, tapi aku balik lagi ke sekolah cuma seminggu. Habis itu aku nggak mau sekolah lagi. “

“Kok bisa sampai ke sini?”

“Diajak Bulikku. Kan salon ini punya Bulikku. Dia liat aku nganggung lontang lantung, mabuk-mabuk, terus aku dibilangin, ‘kamu nggak bisa kalo kaya gini terus. Ayo tak ajari motong.’ Yo wis, terus aku belajar motong. Sampai sekarang ini di sini.”

Saya mengangguk. Pelanggan yang menunggu untuk dia tangani ada beberapa. Saya berpikir, bakal apa jadinya si Abu ini andai waktu itu gurunya tidak seperti itu? Kira-kira jadi apa dia?

“Keramas dulu, Bu, “ pegawai lain membuyarkan lamunan.

Sembari menikmati pijatan halus gadis muda yang mengeramas, benak saya melayang teringat status seorang teman di Facebook yang barusan  saya baca,

Persamaan guru dan dokter adalah sama-sama dapat membuat orang lain sukses ataupun gagal dalam kehidupan…

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.